Ade Armando dan Dendam Yang Dibayar Tuntas (?)

Best Regards, Fiction, 13 April 2022
"Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas." (Judul sebuah buku dan film)

Ajaran dunia mengajarkan untuk membalas dendam, dan ajaran Tuhan mengajarkan untuk mengasihi musuh; karena "Pembalasan adalah hak-Nya, dan hanya Tuhan yang (boleh) menuntut pembalasan" (Ibrani 10:30, Ulangan 32:35-36). Dan yang namanya hak, berarti terserah si pemilik hak dong ya? Jadi kalau lihat musuh kita baik-baik aja hidupnya, berarti ya udah kan ya... kan itu hak-Nya?

Awalan diskusinya seperti itu, dulu, ketika di sebuah persekutuan, kami membahas soal "balas dendam" dan "hak-Nya Tuhan". Tapi lalu ada yang kutip isi kitab Keluaran pasal 20 ayat 5, "Allah yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya", dan itu menegaskan bahwa Allah pasti membalas. Kalau Allah gak balas, berarti ucapan-Nya bertentangan... benarkah?

Kemudian diskusi itu berlanjut sampai ada seseorang yang dari tadi sibuk menatap layar smartphone-nya, yang saya kira bosan dengan debat kusir ala ala Dewasa Muda GKI, ternyata sedang googling sesuatu: "Hei hei... nih ini, aku dapat!" teriaknya. Lalu dia membacakan cerita itu yang kurang lebih demikian: (dan setiap kali marah pada seseorang/suatu kelompok, saya selalu teringat cerita ini)


Hari itu amarahku meletup. Memang benar kata orang: kalau emosi tidak pernah diekspresikan, selalu ditekan, suatu saat akan membuat ledakan.

Dengan luapan amarah, aku berjalan menuju rumah orang itu. Aku sudah menimbang-nimbang akan melakukan apa saja di depannya. Aku bahkan sudah menyusun kata-kata menyakitkan yang pasti akan membuat hatinya terluka. Tapi di tengah perjalanan aku bertemu seorang kawan. Ia melambaikan tangan, sebuah sinyal kalau berikutnya akan ada percakapan.

"Hai... mau ke mana?"
Aku yang memendam amarah hanya menjawab sekadarnya: "Ke rumah seseorang."

"Are you okay?". Dia mendekat.
"I am fine!". Tapi nada suaraku malah meninggi.

"Okay. Everyone has their own battle. Me too. But, is not good to hold the grudge."

Benar kata orang-orang, kawan ini memang cenayang. Dia bisa baca pikiran orang. Baiklah... akan aku ceritakan apa yang sudah aku rasakan dan akan aku lakukan.

Tidak terasa 30 menit berlalu di pinggir jalan itu, tapi dia tetap menyimak setiap perkataanku. Aku ceritakan semua kepahitan dalam hatiku pada orang yang tak tahu terima kasih itu.

"Jadi kamu mau memaki-makinya, menamparnya, lalu pergi meninggalkannya?" Katanya singkat merespon monolog 30 menitku.

"Yaaa... itu yang aku pikirkan saat ini. Apakah salah?"
"Ya gak sih, toh semua ada sebab-akibat kan? Dia melakukan itu, dan dia dapat akibatnya dari kamu. Tapi pastinya nanti kamu juga dapat akibatnya, kan?"

Aku tertegun menatapnya.

"Eh, ngomong-omong tahun lalu jari kelingking kaki kananku hampir putus." Katanya memecah keheningan di situ. Dia lalu melepas sepatunya, dan memperlihatkan bekas jahitan di kakinya.
"Digigit anjing tetangga." Ucapnya tanpa perlu menunggu pertanyaanku.

"Oh... pasti sakit sekali." Ucapku bersimpati.

"Iya. Hahaha... aku hampir pingsan. Tapi kamu tahu yang dilakukan suamiku? Bukannya menolongku yang berdarah-darah di depan rumah, tapi dia malah pergi ke rumah pemilik anjing itu sambil membawa tongkat golfnya. 'Akan kubunuh anjing sialan itu!' katanya kepadaku. Emosi memang bisa membutakan mata ya? Hahaha...".

Aku hanya nyengir.

"Lalu kami bertemu di rumah sakit. Ketika aku tanya: 'Sudah kamu bunuh anjing si-al-an itu?', jawabannya membuatku mengerti mengapa tabiat suamiku yang mudah marah menjadi berubah sejak itu."

"Bagaimana? Kok bisa?" Tanyaku spontan.

"Jadi ketika ia bertemu pemilik anjing itu dengan tongkat golfnya, sang pemilik anjing langsung menyambutnya dengan mengangkat kedua tangannya: 'Pukul aku saja untuk melampiaskan amarahmu. Aku tidak akan lapor polisi dan menuntutmu.' Dan itu membuat suamiku sejenak bingung. Lalu pemilik anjing itu berkata lagi, 'Aku tahu anjingku sudah menggigit orang karena tadi aku lihat darah di mulutnya ketika ia kembali. Lalu aku melihatmu membawa tongkat itu ke sini, jadi aku menarik kesimpulan kalau anjingku sudah melukai orang yang kamu sayangi. Tapi jangan salahkan anjing itu, salahkanlah aku. Aku berarti sudah gagal mendidiknya. Jadi kalau kamu mau marah, marahilah aku. Kalau kamu mau memukulnya, pukullah aku saja.'"

Kawanku tersenyum sejenak. Tapi senyumnya aneh. Aku yang ingin tahu kelanjutannya hanya bisa menanggapi senyumnya dengan kata: "Lalu?"

"Ya tentu saja suamiku langsung kehilangan nafsunya untuk marah. Emosinya hilang. Lenyap. Wuzz... ganti dengan rasa bingung yang sangat. Jadi suamiku langsung pergi meninggalkannya begitu saja... tapi, pemilik anjing itu berkata lagi: 'Berilah aku waktu untuk mendidiknya kembali. Aku juga tidak ingin anjingku melukai orang lagi. Aku janji dia tidak akan kubiarkan ke luar rumah sebelum aku selesai mengajarinya untuk tidak melukai orang yang ada di hadapannya.' Suamiku hanya berbalik menatapnya sejenak, dan kejadian selanjutnya kami bertemu di rumah sakit."

"Terus apa yang membuat perangai suamimu berubah?"
Aku malah makin penasaran, dan kehilangan selera untuk pergi ke rumah orang yang akan aku hujani dengan makian.

"Suamiku bilang, 'Mungkin Tuhan juga begitu ya? Dia sebenarnya sudah melindungi aku dari dendam dan amarah orang-orang yang pernah aku sakiti. Tapi aku yang tidak sadar diri... tetap saja melukai orang dengan sikap dan ucapanku yang penuh emosi. Tuhan sedang mendidik aku, tapi didikanNya gak pernah aku hiraukan. Dan lalu Dia mengorbankan diriNya untuk dipukuli, disakiti, karena membelaku.'
Suamiku menangis di sampingku di RS itu.

'Aku sedang diajarNya dan dididikNya, tapi aku gak nyadar aja. Malah selalu nuntut orang lain untuk sempurna, tanpa pernah memikirkan perilaku dan ucapanku yang membuat orang lain terluka.'
Lalu suamiku memelukku sambil menangis terisak-isak. Kamu tahu? Dokter yang jaga IGD malah bingung karena dikiranya suamiku habis digigit anjing juga. Hahaha...".

Aku langsung memeluk kawanku itu. Menangis di pundaknya.
"Terima kasih. Terima kasih..." Aku tidak menghiraukan orang-orang yang berjalan lalu lalang melihat kami.

"You're welcome. It's okay to crying. Aku juga entah kenapa pengin jalan kaki aja buat beli makan malam. Biasanya aku malas jalan kaki, karena pakai GoFood buat order beli. Jadi berterimakasihlah pada Tuhan yang menggerakkan aku jalan kaki sore-sore... hehehe."

Kami berpisah sesaat kemudian. Tentu saja aku kembali ke rumahku, tidak jadi melabrak teman laknat itu. Karena siapa tahu Tuhan sedang dalam proses mendidiknya untuk jadi lebih baik?


Dalam sebuah kotbahnya, pendeta Budi Santoso Marsudi, juga pernah menginggung hal yang serupa: "Pasti Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, pernah melihat bagaimana seorang ayah, atau ibu, akan senang dan bahagia ketika anak/anak-anaknya diperlakukan baik oleh orang lain; dan orang ini akan diperlakukan dengan baik juga oleh ayah atau ibu anak/anak-anak itu, sebagaimana ia memperlakukan anak/anak-anaknya. Dan pasti seorang ayah atau ibu, akan jengkel luar biasa pada orang yang memperlakukan anak/anak-anaknya dengan semena-mena, apalagi sampai menyakitinya. Saya kira begitu juga dengan Allah, Bapa kita. Dia akan senang dan bahagia ketika anak-anakNya diperlakukan baik dan akan membalas kebaikan itu. Tapi Bapa kita juga bisa marah dan jengkel luar biasa, kalau melihat ada anak-Nya yang disakiti dan diperlakukan dengan semena-mena. Cuma bedanya, Dia, Bapa kita, Yang Maha, pasti akan lebih bijak dalam membalas kebaikan dan menegur kesalahan; karena Dia pasti lebih tahu dan mengenal masing-masing manusia, sehingga mungkin kita sering mempertanyakan metode-Nya dalam memberikan teguran dan menerapkan keadilan di dunia. Dan bukankah kita semua adalah anak-anakNya?"

Oia, cerita tadi belum berakhir.

Tapi masih ada yang mengusik hatiku, "Lulu, bagaimana kabar anjing yang menggigit kakimu?" teriakku, karena dia sudah di seberang jalan itu.

"Oleh pemiliknya sudah disuntik mati! Katanya gigit orang lagi. Jadi tetanggaku sudah menyerah untuk mendidik anjingnya."

Dan demi mendengar kalimat penutup cerita itu, kami lalu diam mematung dan tidak bersemangat lagi melanjutkan diskusi soal "balas dendam" dan "hak-Nya Tuhan".

Padahal saya masih ingin melempar bahan: "Revenge is a dish best served cold".

Mungkin di lain waktu saja.



PS. Maaf, judulnya clickbait.



LATEST POST

 

Rasanya bukan hal yang asing jika kita menjadi skeptis dengan hal-hal yang bersifat doktrinal. Benar...
by Ellen Kosakoy | 28 Sep 2022

Hari itu, Seekor burung pipit luka sayap sebelah. Bulu rontok bak tersayat sembilu.Berteng...
by Hendrik Siboro | 28 Sep 2022

Shalom, Ignite People! Kali ini, aku mau membagikan kesaksian nyata dari seorang suster yang ma...
by Nuel Lubis | 28 Sep 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER