Perintah Baru: Teori dan Praktik

Best Regards, Live Through This, 19 March 2022
Setiap orang yang melukai kita, terus tindakan orang itu kita balaskan dengan cara yang setimpal merupakan musuh kita. Tapi, kalau tindakan pembalasan yang setimpal itu tidak pernah kita balaskan, maka sejatinya tidak ada musuh kita.

Hi Ignite People,

Hope this article finds you well!


Aku, tuh, bener-bener tergugah gitu ngeliat tema bulan Februari lalu. Yes, soal kasih. 

Secara umum, kasih yang didoktrin sejak SD itu, ada agape, ada philia, ada storge, dan eros. Sejak dulu kita tahunya ini, kan? Rupanya, di Yunani, ada delapan (!!) jenis kasih itu; selain empat di atas, masih ada  mania, ludus, pragma, dan philautia. Lebih lengkapnya bisa dibaca di The 8 Ancient Greek Words for Love by GCT A.

Kalau di Alkitab, Rasul Paulus memberikan penggambaran terkait sifat kasih itu. 

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. - 1 Korintus 13:4-8


Hukum Kasih dan Perintah Baru

Kita semua pasti tahu bahwa Kekristenan erat kaitannya dengan Hukum Kasih yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Dalam Matius 22: 34-40, Hukum Kasih ini merupakan rangkuman dari seluruh kitab para nabi. Dalam Roma 13:8-14, Paulus menuliskan bahwa ketika kita melaksanakan Hukum Kasih, itu sama saja artinya dengan melaksanakan Hukum Taurat.

Namun, Yohanes 13:31-35 menyatakan ada perintah baru:

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. - Yohanes 15:34

Jadi, perintah baru itu menuntun kita untuk saling mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita. Artinya, Kristuslah yang jadi patokan dan kekuatan kasih kita. Tidak berhenti di sana, Yohanes 15:9-17 memperjelas dengan lebih eksplisit perintah baru yang dimaksud: 

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. - Yohanes 15:12-14

Dapat kita pahami bahwa kasih Allah melalui Kristus itu besar, dan saking besarnya kasih-Nya melampaui akal pikiran manusia. Bukti kasih terbesar ini dibuktikan melalui karya salib Kristus, yang rela menyerahkan nyawa-Nya—sebagai Anak Domba Allahuntuk menebus dosa kita, para sahabat-Nya. Artinya, kasih Kristus ini menghapuskan murka Allah atas dosa manusia. Jika kasih Allah melalui Kristus dapat menghapuskan murka Allah, maka apa yang dapat kita jadikan teladan dari-Nya? Salah satunya adalah melepaskan kemarahan (bahkan kemurkaan) kita melalui pengampunan, berkat, dan tindakan kasih pada orang-orang yang telah melukai kita, seperti yang Yesus katakan di dalam Lukas 6:27-36. Perbuatan mengampuni dan mengasihi ini semata-mata hanya bisa terjadi karena kita adalah sahabat Kristus, yang dimampukan-Nya untuk membagikan kasih-Nya yang tidak bersyarat.



Ignite People pasti sudah sering mendengar kisah Daud yang dikejar-kejar Saul. Menurutku, Daud bukan cuma terluka karena ada konflik hubungan industrial, tetapi dia juga jadi korban percobaan pembunuhan raja, korban kejahatan negara! Beberapa kali Daud punya kesempatan menumpas kepala Saul, tetapi Daud bergumul dan berkata, “Aku tidak akan menjamah orang yang diurapi Allah.” Artinya, Daud tidak memandang Saul sebagai musuhnya yang dendamnya harus dibalaskan akibat pengejaran sekian puluh hari (atau tahun, ya?). Daud tetap memandang Saul sebagai raja Israel yang diurapi Tuhan. 

Setiap orang yang melukai kita yang kemudian kita balaskan dengan cara yang setimpal merupakan musuh kita. Namun, kalau tindakan pembalasan yang setimpal itu tidak pernah kita balaskan, maka sejatinya tidak ada musuh kita.


Pada Praktiknya...

Beberapa teman berpendapat bahwa kasih itu harus tanpa pamrih, unconditionally. Jika perintah baru menyatakan kita harus saling mengasihi, maka kita pun seharusnya merasakan kasih dari mereka. Bukan hanya kita yang dituntut untuk mengasihi, tetapi kita pun perlu merasakan kasih. Secara manusiawi, kita dapat berkata, “Namanya juga saling, masa gue doang yang berjuang, masa lu kaga?” Menurutku, kita dapat merasakan kasih karena kita memahami bahasa kasih itu seperti apa. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu, kisanak oh kisanak yang budiman. Makin hari, makin cinta, makin rentan pula terluka.

Setiap kali kita berelasi, kita pasti akan menemukan konflik—mulai dari masalah tempat nongkrong hingga perbedaan kepribadian bahkan prinsip hidup. Katanya cinta, sih, tetapi kenapa kita sering merasa terluka? Well, benar, sih, bahwa manusia bisa saja melakukan kesalahan. Namun, ada beberapa alasan yang lebih mendasar lagi:

  1. alasan spiritual, karena manusia tidak hanya terdiri dari roh tapi juga daging. Beberapa orang yang tidak bisa mengontrol kedagingan, ya, begitulah... penguasaan dirinya tidak berbuah manis;
  2. alasan filosofis, karena manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya. Homo homini lupus. Manusia sering mendahulukan kepentingan berbalut hak, tetapi manusia pun melupakan kewajiban yang sudah disepakati secara kontrak sosial dalam peraturan; dan
  3. alasan kriminologis, karena sejak masa kanak-kanak, manusia melihat tindakan yang jahat dan tindakan tersebut dipandang sebagai perbuatan yang benar sehingga menirunya. Bahkan tanpa meniru pun, sebenarnya manusia yang berdosa ini dapat melakukan tindakan yang jahat walaupun dia tidak menyadarinya. Again, natur kita adalah manusia yang berdosa. Dampaknya, tindakan yang benar justru terasa lebih sulit dilakukan daripada yang sebaliknya.

Menurutku, tidak ada luka yang sepele saat kita berkonflik, apalagi jika luka itu timbul dari konflik hukum, khususnya luka yang timbul dari korban konflik pidana. Belum lagi luka yang dialami oleh keluarga dari korban yang dibunuh, siapa yang bisa mengembalikan nyawa seseorang? Kehilangan seseorang dengan cara yang kurang pantas rasanya sangat sulit untuk dimaafkan, kan?



Kalau kita tahu ada tindak pidana, secara sadar, kita bisa melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Namun, bukan berarti teman-teman yang menjadi korban konflik hukum—khususnya tindak pidanajadi dilarang mengambil prosedur hukum atas dasar mengasihi. Menurutku itu suatu kekeliruan yang besar!

Sebenarnya, penyelesaian permasalahan hukum melalui persidangan itu bergantung pada pilihan masing-masing pihak. Dalam lapangan hukum lain, tidak ada sanksinya; meskipun ada, paling-paling itu hanya sanksi administratif dan ganti rugi yang tidak berdampak pada kemerdekaan hidup seseorang. Berbeda dengan penyelesaian permasalahan dalam hukum pidana yang mengenakan sanksi pidana, sebagai bentuk tanggung jawab atas kejahatan seseorang.

Kalau ada niatan melaporkan tindak pidana, maka tujuan teman-teman untuk melaporkan tindak pidana itu sebagai sarana pembinaan pelaku dan pemulihan kerugian korban. Hal yang terpenting adalah tujuan pemidanaannya, karena banyak orang melaporkan orang lain atas dasar balas dendam. Bagi mereka, hukuman 15 tahun masih terasa kurang, harusnya dipidana mati saja. Padahal, hal yang paling penting ialah korban merasa dipulihkan dari traumanya dan pelaku dibina kelakukannya serta ketertiban hukum dapat dicapai.

Sekali lagi, tindakan mengasihi dengan adil hanya dapat terwujud melalui kasih Kristus. Artinya, kita tetap perlu menegakkan hukum di tengah-tengah proses pengadilan yang berlangsung, tetapi jangan lupa untuk mendasarkannya di atas kasih-Nya. Sulit? Iya. Namun, ketika proses peradilan (maupun pengampunan dalam kehidupan sehari-hari) ini berlalu, kiranya kita menjadi pribadi yang didewasakan di dalam anugerah-Nya untuk mengasihi walau pedih. Tetap mengampuni, sekalipun kita tidak mendapatkan balasan yang diharapkan. Kiranya Tuhan menolong kita.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER