TUHAN: dari Folkor sampai Penitensier

Going Deeper, God's Words, 21 December 2021
Kalau ada pendeta bilang gak tau untuk beberapa hal, khususnya Perjanjian Lama, itu masih manusiawi. Pendeta juga masih manusia.

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentang moralitas. Kira-kira orang bule itu ngomong gini, “Oke agama itu mengandung moralitas, tapi saya hanya mendukung moralitas yang rasional. Kesalahan sepele hukumannya dirajam batu. Itu tidak rasional. Hukum Tuhan tuh irrasional”

Beberapa orang menyatakan bahwa mereka tidak meyakini keagamaan karena Tuhan mengajarkan untuk membunuh. Hal tersebut terlihat saat Tuhan hendak membunuh Musa (Kel. 4:24), pertumpahan darah dalam peperangan Israel, dan lain sebagainya. Ada yang bilang, Tuhan wes jahat, ngajarin yang nda bener, masa mau bunuh Musa.

Trus, aku jadi mikir, Apakah benar moralitas TUHAN itu itu wes irrasional? Apakah benar Tuhan itu jahat dan kejam?



Kisah Musa yang hendak dibunuh TUHAN (Kel. 4:24)

Aku wes kutip ayat sebagian ayatnya

Keluaran 4:24-26 (TB)  Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.
Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku."
 Lalu TUHAN membiarkan Musa. "Pengantin darah," kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu

Secara theologi, aku gak paham tohh, wong aku kuliah jurusan hukum. Tapi, tiba-tiba Tuhan kasih ingatan seluruh hal-hal yang pernah kubaca, kutonton, dan penjelasan katekisasi dulu. Kayak gini lah kira-kira isi ingatanku.

  1. Jumlah kosakata Bahasa Ibrani dalam Perjanjian Lama dengan Bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru tentu berbeda dengan jumlah kosakata Bahasa Indonesia. Jadi, terkadang beberapa pendeta menyatakan bahwa “alkitab itu ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia dengan frasa yang mendekati makna aslinya”
  2. Ketika para arkeolog menemukan gulungan perkamen kitab, gulungan tersebut belum tentu dalam keadaan utuh. Ada beberapa bagian yang robek, karena sudah rapuh atau malah hilang, sedangkan kelengkapan kalimatnya dilengkapi berdasarkan folklor atau berdasarkan hapalan yang diajarkan secara turun temurun.
  3. Alkitab tidak hanya berisi tentang perintah TUHAN, tetapi juga kisah-kisah dan sejarah bangsa Israel itu sendiri atau adat istiadat/kebiasaan Israel.


Kalau dikaitkan dengan kisah Musa yang hendak “dibunuh” TUHAN, wes orang Yahudi yang paling ngerti. Orang sejarah bangsanya. Mungkin pula ada kaitan dengan adat istiadatnya tentang sunat. Mungkin pula arti aslinya dalam bahasa Ibrani bukan “membunuh”, tapi yang lain. Bukan urusanku yang orang Batak campur Sunda ini. Kalau misalnya di tafsiran-tafsiran atau buku-buku orang Yahudi juga pada bilang gak ada yang ngerti. Ya, apalagi aku, gitu loh. hehehe. Menurutku, kalau ada pendeta bilang gak tau untuk beberapa hal, khususnya Perjanjian Lama, itu masih manusiawi. Karena, orang Yahudi juga belum tentu ada yang paham soal ini.


Hukuman rajam dan kejam dan pertumpahan darah dalam peperangan

Pada zaman Perjanjian Lama, Kedaulatan masih di tangan TUHAN atau di tangan Raja sebagai wakil TUHAN. Setiap perintah TUHAN adalah hukum kodrat yang tidak dapat ditentang. Setiap perintah Raja sebagai wakil TUHAN merupakan undang-undang (L'Etat ces moi). Dengan demikian, hukum taurat dipandang sebagai norma agama dan hukum Bangsa Israel.

Pada masa Perjanjian Lama, kayaknya belum ada konsep Naskah Akademik di antara para bangsa-bangsa, jadi kita gak tau politik hukum taurat pada masa perjanjian lama untuk memahami maksud-maksud dan pilihan hukuman rajam, sehingga perintah TUHAN mulai dari Keluaran 20-31 merupakan hukum yang dikeluarkan atas dasar “Akulah TUHAN yang menghantarkan engkau keluar dari tanah Mesir”. 

Meskipun pada masa itu belum muncul konsep Hak Asasi Manusia secara komprehensif, namun sudah ada pengakuan tentang hak asasi manusia itu sendiri seperti dalam Keluaran 21-22. Hanya saja tujuan pemidanaannya masih atas dasar pembalasan (mata ganti mata, gigi ganti gigi), baik hukuman atas aturan yang mengatur antara Allah dengan manusia (contohnya: Keluaran 22:18-20) maupun aturan yang mengatur antara sesama manusia (Keluaran 21: 1-22:17). Ada bentuk hukuman mati, ada pula hukuman ganti rugi atas pelanggaran hukum taurat. Ini hal yang biasa pada zaman itu, mungkin.

Karena tujuan pemidanaan bersifat pembalasan dan bentuk pemidanaan baru hanya hukuman mati dan ganti rugi (atau ada lagi, kah?). Hukuman terasa kejam. Padahal, mungkin pada masa itu hukuman seperti itu biasa saja. Karena, pada saat itu konsep criminal rehabilitation belum muncul. 

Sedangkan, pertumpahan darah merupakan konsekuensi logis dari penaklukan dan peperangan. Tertumpasnya setiap bangsa atas penaklukan Israel menunjukkan bahwa Allah merupakan Raja yang hidup dan berdaulat dalam hidup Israel, sedangkan allah bangsa lain tidak mampu melindungi bangsa yang tertumpas (pada saat itu, tiap bangsa allahnya dari patung, kalau patungnya dan bangsanya tertumpas, allahnya tidak hidup atau kalah atau mati). Rahab adalah salah satu contoh dalam alkitab yang memandang bahwa atas setiap pertumpahan darah hasil dari penaklukan dan peperangan menunjukkan Allah Israel adalah Tuhan yang hidup,  

Yosua 2:9-11 (TB)  dan berkata kepada orang-orang itu: "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.

Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.  

Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. 

Perjanjian Baru: 

Pada saat ini, Allah sudah lahir ke dunia dalam diri Kristus. Ada Addendum dari Perjanjian Lama, yaitu Perjanjian Baru sebagai sebuah penyempurnaan perjanjian yang tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Lama. Cara penegakan hukum tidak seperti cara hukum Taurat ditegakan, tapi ditegakan dalam perasaan kasih persaudaraan yang bersifat spritual.  Kedaulatan ada di tangan rakyat, sedangkan TUHAN tidak lagi dimaknai sebagai pemimpin dalam hal politik, tetapi pemimpin spiritual, Sang Kepala Gereja. Dengan demikian, setiap firman Tuhan berfungsi sebagai patokan moralitas perilaku dan asas kepatutan, bukan lagi sebagai hukum bangsa atau hukum negara. Intinya mah beda jauh, lah.

Ibrani 8:7-13 (TB)  Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua.

Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: "Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, 

bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka," demikian firman Tuhan. 

"Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 

Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. 

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka." 

Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Dengan demikian, Teman-teman jangan meragukan TUHAN apabila ada yang bilang Tuhan kejam atau banyak pertumpahan darah di alkitab. Masyarakat saat ini sudah belajar Hak Asasi Manusia, sudah ada PBB. Masyarakat zaman dulu mah belum tentu berpikir seperti itu. Mungkin, zaman dahulu, hanya TUHAN yang memikirkan pentingnya peraturan untuk mengatur relasi masyarakat. Bisa jadi, TUHAN sendiri yang mengajarkan manusia merumuskan norma hukum melalui hukum Taurat hingga hukum berkembang sampai saat ini mengikuti masyarakat.

LATEST POST

 

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Pergantian tahun menjadi momen bagi kita untuk kilas balik semua yang telah dilalui selama satu tahu...
by Jeane Marlessy | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER