Relax, Just Be Yourself: Sebuah Renungan dari Penyintas Maskulinitas Rapuh

Best Regards, Live Through This, 06 January 2021
“Aku tidak perlu teori maskulinitas rapuh buatanmu agar dapat melayani Tuhan dengan segenap hati dan pikiranku. Yang aku perlu hanyalah bisa mempersiapkan hati dan pikiran yang tertuju untuk melayaniNya.”

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan dapat melakukan ajaran-ajaranNya melalui Hukum Taurat dan Hukum Kasih merupakan sebuah hal yang aku rindukan ketika aku mulai terjun dalam melakukan tugas dan panggilan gereja, yaitu melayani, bersekutu, dan bersaksi. Tidak hanya itu, namun juga dapat berlaku yang baik dan penuh kasih kepada sesama manusia juga merupakan sebuah hal yang membentuk aku sebagai seorang Kristen yang dapat memanusiakan manusia. Tak terbatas dari latar belakang apapun, entah mereka berasal dari kaum berprivilese, maupun mereka yang merupakan bagian dari kaum liyan, tetap aku ingin memperlakukan mereka setara dan juga dengan penuh kasih dan damai sejahtera agar mereka juga merasa aman dan nyaman dalam berinteraksi denganku. Hanya saja, aku terlalu utopis untuk merindukan hal yang ternyata tidaklah mudah diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Terbentuk dengan mengetahui dan mempelajari akan adanya keberagaman ekspresi gender membuatku semakin menyadari bahwa keberagaman tersebut menjadikan segala sesuatu indah dalam kehidupan bermasyarakat. 

Keberagaman ekspresi gender tersebut tidak hanya terlepas dari adanya maskulinitas dan feminitas yang dimiliki oleh masing-masing laki-laki dan perempuan cisgender saja, namun juga maskulinitas tersebut bisa dimiliki oleh perempuan, feminitas yang dimiliki oleh laki-laki, serta adanya androginitas yang menggabungkan maskulinitas dan feminitas, dan lain sebagainya. 

Namun, hal ini justru menjadi sebuah bencana yang setara dengan bencana alam oleh oknum kaum konservatif yang belum bisa menerima keberagaman tersebut, justru malah mempersekusi kebebasan berekspresi tiap-tiap individu tersebut.

Aku merupakan seorang penyintas dari adanya sebuah budaya maskulinitas rapuh yang membatasi para pria dalam mengekspresikan dirinya lebih bebas, atau lebih tepatnya dalam bahasa Inggris maupun bahasa “Jaksel” ialah toxic masculinity. Maskulinitas rapuh ini membatasi pria dalam mengekspresikan apa yang ingin mereka pakai, makan, berperasaan, berperilaku, hingga membatasi selera pria dalam film, musik, tarian, dan lain sebagainya. Maskulinitas rapuh menganggap bahwa pria yang menangis, menyukai warna-warna yang terkesan feminim seperti merah muda, tidak menyukai olahraga bola besar, dan hal-hal lain yang tidak berbau ‘pria’ merupakan seorang wanita yang menjelma sebagai pria saja. Seringkali pria-pria yang tidak mengikuti kaidah maskulinitas rapuh ini mendapat diskriminasi dari pengikut-pengikut maskulinitas rapuh tersebut. Maskulinitas rapuh ini seringkali terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dari dalam kehidupan persekutuan.



Bisa dibilang aku mendapat opresi dari para pengikut maskulinitas rapuh tersebut dari dalam gereja. Iya, dari dalam gereja sendiri. Melayani sebagai operator slide dan editor video dalam tim multimedia gereja membantu aku dalam menjadikan diriku sebagai seorang visual yang perfeksionis dan kreatif, juga aku dapat menyalurkan bakatku untuk kemuliaan namaNya yang agung tersebut. Akan tetapi, ada saja beberapa orang yang ternyata mempermasalahkan sebuah hal yang sebenarnya tidak perlu dijadikan sebuah masalah. Apalagi, hal tersebut malah berpengaruh terhadap pelayanan orang lain, termasuk diriku.

31 Desember 2020 merupakan sebuah hari yang spesial bagiku, dimana aku dapat mengekspresikan diriku dalam berpakaian di depan publik, terutama di gereja, dengan mengenakan kemeja hitam dan kain batik bermotif dari Nusa Tenggara Timur sebagai ganti dari celana panjang slim-fit yang sering ku pakai dalam keseharianku di luar rumah. Aku mendapat selera mode tersebut dari perjalanan-perjalanan ke para pengrajin mode bersama mendiang Mamaku ketika dia hendak mencari batik-batik dan hal serupa. Saat itu, aku mulai memberanikan diriku untuk berpakaian seperti itu, dan hal itu menjadi sebuah kebahagiaan yang kurasakan dalam diriku karena hal itu membentuk kecintaanku terhadap diriku sendiri. Namun, aku tetap mendapat perkataan yang menyudutkan caraku berpakaian, seperti:

“Lo pake rok ya?”
“Itu lo pake celana ga sih? Apa celana dalam doang?”
“Lo kayak orang habis disunat dah.”

dsb.


Awalnya aku dapat berkompromi dengan perkataan tersebut melalui sikap “bodoh amat” dan tidak memperdulikan apa yang mereka katakan, karena keluguanku yang menganggap bahwa hal itu hanya terjadi di hari itu saja. Namun, ternyata caraku berpakaian justru menjadi sebuah hal yang dipermasalahkan secara terus-menerus, ketika ada rekan sepelayanan yang berjenis kelamin laki-laki di tim tersebut yang berkata demikian dalam grup WhatsApp tim itu,

“Kita di multimedia butuh divisi tata busana, bro, biar ada terobosan baru. Pakai kain batik jadi celana.”

Seketika aku merasa tersinggung berat dengan perkataan yang bermaksud menyindir gaya berpakaianku saat itu. Hingga aku bertanya-tanya kepada diriku dalam pikiran,

“Apakah caraku berpakaian yang rapi dapat mempengaruhi pelayananku terhadap Tuhan?”

Rasul Paulus dalam Galatia 3:28 berkata demikian,

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Dalam hal ini, kita sebagai umat yang dipersatukan dalam Kristus tidak lagi memandang bahwasannya kita harus dibeda-bedakan berdasarkan hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi suatu permasalahan dalam era modern ini. Bukan tentang status sosial, gender, dan terlebih lagi ekspresi gender nya yang mempengaruhi pelayanan kita terhadap Tuhan, karena kita pun telah menjadi satu di dalam Kristus Yesus untuk mewartakan kabar baik dariNya kepada seluruh orang dengan berkata dan berkarya yang menunjukkan pengajaranNya. Dari sini, cara kita berpakaian yang rapi tidak mempengaruhi apapun yang kita kerjakan untuk kemuliaan nama Tuhan yang agung.

Lalu dalam Amsal 3:34 pun berkata demikian,

“Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. Kepada para pengejek, Dia pun mengejek, tetapi kepada yang rendah hati, Dia memberi perkenanan.”

Jadi, untuk setiap kita yang mendapat ujaran kebencian dari orang-orang yang mengindahkan maskulinitas rapuh, kita tidak perlu mencemooh balik mereka. Ingat apa yang Yesus Kristus ajarkan kepada kita untuk selalu mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada mereka yang membenci kita, entah dari masalah personal kita yang tidak ada nilai substansialnya untuk dijadikan sebuah masalah, ataupun karena sebuah kesalahan yang kita perbuat lalu menjadi sebuah akar pahit bagi mereka.

Bagi mereka yang pernah menyindir aku dalam caraku berpakaian, semoga kamu semakin diberkati Tuhan dan diperkaya olehNya sebuah pemikiran baru dan juga ‘kacamata’ yang dapat memahami seberagam isi dunia ini

Aku memaafkan perkataanmu itu kok kepadaku, tenang saja. 


LATEST POST

 

           Masing-masing manusia memiliki tombol pembangkit amarahnya...
by A.Z. Myra Johanna P. | 04 Mar 2021

Awal tahun 2021 Indonesia dan dunia masih bergulat dengan pandemi Covid-19 yang telah menelan banyak...
by Priska Grace | 04 Mar 2021

Jomblo ngenes. Perawan tua. Bujang lapuk. Nggak laku.Aku yakin Ignite People pernah mendengar istila...
by Febe Kartika | 04 Mar 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER