Pillow Talk

, What's Next, 09 November 2020
Ada beban, ada keriangan, bahkan ada ketidakpuasan dan harapan, ada rahasia sekaligus keterbukaan.

Ignite People, kapan terakhir kali kita meng-ignite alias menyulut kasur kita dengan panas perbincangan? Kapan terakhir kali bantal-guling dan rebahan tidak menggulingkan dan merebahkan gairah kita untuk bergunjing dan bergibah? Kapan terakhir kali mata yang hampir terpejam gagal membungkam pikiran dan perasaan yang harus dipertukarkan?

Pillow talk, yang aslinya soal obrolan setelah “ena-ena”, perbincangan setelah kegiatan yang begitu intim—seperti Adam dan Hawa yang mengenal lebih dalam—, bisa juga terjadi di antara kita yang masih sebatas “pengen ena-ena”. Seusai berbagai kesibukan kita, yang bikin badan berkeringat dan otak mencair, ada saatnya kita rebah dan muncullah berbagai kata dan ungkapan. Kalau sedang berdua, bertiga, bahkan lebih, kita bisa bertukar bersama, tetapi ketika sedang sendirian, mungkin kita menulis atau menggambar, atau membuka ponsel dan mengontak sahabat, atau malah memandangi langit-langit kamar dan melontarkan kedipan, keluhan, dan gagasan ke dinding. Sukur-sukur ada Tuhan yang ikut nyender di samping kita, bisa ber-pillow talk dengan kita.

Menuju akhir dari tahun, yang bagi sebagian orang “huft” ataupun “yeah”, kita pun perlu mulai merefleksikan “seenak” apa perjalanan diri kita. Cobalah Ignite People bertanya pada diri sendiri, atau mungkin juga kepada teman tidur (bagi yang memiliki), kesedihan apa yang melebur dalam sukma, kenikmatan apa yang ingin diumbar sebagai rasa syukur, dan keabsurdan apa menari-nari dalam kegelisahan tak kunjung terjawab. 

Itu semua bisa kita bagikan lewat karya-karya kita. Hitung-hitung, kita melebarkan kasur, menambahkan jumlah bantal, lalu rebah bareng-bareng dan membuka pembicaraan. Ada beban, ada keriangan, bahkan ada ketidakpuasan dan harapan, ada rahasia sekaligus keterbukaan. Mungkin saja, segala ungkapan itu belum tentu bisa terbit begitu saja jika tanpa pergulatan penuh keringat, tanpa sesi intim yang mengawali, tanpa sentuhan pada titik terdalam. Mungkin saja, segala ungkapan itu menjadi begitu telanjang setelah kita terbuka begitu saja terhadap kehadiran dan pengaruh orang lain.

Cara berkontribusi sangat mudah, untuk mengunggah tulisan, login saja ke situs IGNITE GKI dan buka menu New Article. Untuk mengunggah seni visual, podcast monolog, maupun video, silakan hubungi admin Ignite GKI melalui e-mail ([email protected]) atau direct message Instagram dan chat Facebook. 

Kami menunggu. Kami menunggu karya-karya yang meskipun lahir di atas bantal, namun bisa lebih dalam daripada dasar lautan. Kami menunggu karya-karya yang lahir dari malam-malam dengan kegelisahan menyentak, tetapi bersemi selembut kecup-kecup dari hati.

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER