Yesus “Sang Proklamator” Kemerdekaan Kristen: Merenungi Makna Salib dalam Kibaran Sang Saka Merah Putih (bagian 2)

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Agustus 2018

Yesus Sang Proklamator

Yesus lah yang menjadi Tokoh Kemerdekaan Kristen yang sejati. Sebelum menyelesaikan Pekerjaan Agung dari Bapa-Nya, Ia membenahi masalah kemanusiaan sampai ke akar-akarnya, termasuk masalah kebencian yang membelenggu hati manusia sehingga membuat manusia kemudian tega untuk membunuh sesamanya.

Melalui hukum kasih, Yesus ingin mereformasi hati, jiwa dan akal budi manusia dengan cara pandang yang baru dan pemahaman yang lebih mendalam akan kasih. Tidak hanya sekedar diajarkan untuk tidak saling membenci (kasih pasif), Yesus dalam otoritas-Nya juga mengajarkan dan meneladankan kasih yang aktif yakni mengasihi semua orang, bahkan musuh sekalipun. (lih. Mat 5:38-48)



pexels.com


Melihat kondisi bangsa kita yang menginjak usia 73 tahun, mari kita refleksikan sebagai masyarakat yang plural di Indonesia. Bukankah masih banyak kalangan yang “terbelenggu” dalam kebencian dan prasangka terhadap sesamanya?. Kata “kafir!” dan “sesat!” keluar untuk mengintimidasi kelompok yang lain.

Indonesia, sudah lama memiliki warisan budaya yang luar biasa, bahkan Indonesia sejak dulu mewarisi keberagaman baik dari hal suku, budaya, ras dan agama yang tercermin dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan tersebut telah dihayati sejak dahulu mulai sejak abad 14. Mpu Tantular, dalam karyanya Kekawin Sutasoma menyebutkan semboyan ini telah menjadi sumpah kita bersama sebagai bangsa Indonesia yang plural.

Refleksi bagi orang Kristen sendiri, bukankah hal itu masih sering terjadi apabila ada gereja yang berbeda denominasi dengan kita? dan kata-kata yang “mengganggu telinga” itu masih sering diumpatkan terhadap gereja lain? Tidak sadarkah kita bahwa Bhineka Tunggal Ika itu juga di refleksikan dalam kesatuan Tubuh Kristus yang terdiri atas beberapa anggota? Perlulah kita untuk merefleksikan kembali doa Kristus “supaya mereka semua menjadi satu…” (ut omnes unum sint) sebelum kita berefleksi lebih jauh.

Sebagai seorang Kristen, semangat Bhineka Tunggal Ika dan semangat kemerdekaan tidak akan terjadi apabila kita masih belum “merdeka” di dalam hati kita, merdeka atas segala belenggu kebencian dan prasangka terhadap sesama kita. Proklamasi kemerdekaan telah lama dikumandangkan, Pancasila yang menjadi dasar “singgasana” negara kita telah kita hidupi, yang menandakan kita benar-benar merdeka dan terbebas dari segala bentuk belenggu dan penjajahan dunia.

Begitu pula kita sebagai orang Kristen, Yesus telah memproklamirkan kemerdekaan orang percaya atas maut. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai orang yang telah dimerdekakan benar-benar menghidupi kemerdekaan itu di dalam hukum kasih yang menjadi dasar “singgasana” hati kita? atau justru kita masih terbelenggu dalam “penjajahan amarah dan kebencian”?

Mari kita jaga dan pagari hati kita dengan kasih yang telah Kristus teladankan untuk kita. Selamat merenungkan karya kasih Salib Kristus dalam Kibaran Sang Saka Merah Putih. MERDEKA!


We shalom.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE