Yesus “Sang Proklamator” Kemerdekaan Kristen: Merenungi Makna Salib dalam Kibaran Sang Saka Merah Putih (bagian 1)

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Agustus 2018
“Yesus lah yang menjadi Tokoh Kemerdakaan Kristen yang sejati. Sebelum menyelesaikan Pekerjaan Agung dari Bapa-Nya, Ia membenahi masalah kemanusiaan sampai ke akar-akarnya, termasuk masalah kebencian yang membelenggu hati manusia.”

Shalom Aleikhem be shem Ha-Mashiakh,


Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi, Ia seringkali disebut sebagai Rabbi – רַבִּי (Guru Taurat) (Mrk. 5:35; 14:14; Yoh. 11:28), gelar Rabi ini menunjukkan bahwa Yesus menjalani serangkaian proses mulai dari Ia bayi disunat di usianya yang ke 8 hari (Ibr: B’rit Milah – בְּרִית מִילָה) kemudian dikukuhkan sebagai “Anak Hukum” (Ibr: Bar-Mitzvah – בַּר מִצְוָה) dan mulai tunduk di bawah Hukum Taurat di umurnya yang ke 12 tahun (Luk. 2:41-52) hingga pada usia 30 tahun Ia mendapat gelar Rabbi dan memulai pelayanan-Nya.

Dalam tradisi Yahudi zaman Yesus, dikenal istilah untuk praktik yang lazim dilakukan oleh para Rabbi yakni “Membangun pagar mengelilingi Taurat”. Praktik ini udah dikenal sejak zaman Yesus dan bahkan sebelumnya, istilah ini dapat kita lihat dalam salah satu literatur Yahudi abad 1 yang menuliskan:

“Musa menerima Taurat dari Sinai dan meneruskan kepada Yosua, Yosua meneruskan kepada tetua Israel, para tetua Israel meneruskan kepada para nabi, dan para nabi meneruskan kepada anggota Sanhedrin. Mereka berkata akan tiga hal (tentang Taurat), yaitu menjadi pertimbangan pengadilan, mendidik murid-murid dan membuat pagar mengelilingi Taurat itu”

(Pirkei Avot (Ethics of the Fathers) 1:1)

Singkat cerita, tradisi “membangun pagar mengelilingi taurat” ini sudah dikenal khususnya sejak pembuangan di Babel, pada saat Bangsa Israel mengalami pembuangan di Babel, disana tidak ada Bait Allah. Hal tersebut tidak memungkinkan adanya persembahan kurban yang dilakukan untuk penebusan dosa atas pelanggaran terhadap Hukum Taurat. Untuk menjaga agar bangsa Israel tidak melanggar hukum Taurat yang terutama, maka dibangunlah “pagar” (aturan-aturan rabbinic) supaya bangsa Israel tidak melanggar hukum Taurat. Penambahan aturan dalam rangka membangun “pagar” ini hanya boleh dilakukan dan diajarkan oleh seorang Rabbi, praktik “membangun pagar mengelilingi taurat” ini dapat kita lihat secara implisit di dalam Alkitab



Photo by Rob Bye on Unsplash


Sebagai seorang Rabbi, Yesus memiliki wewenang untuk “membangun pagar mengelilingi taurat”, praktik yang juga di lakukan Yesus ini rupanya banyak kita jumpai di dalam Injil, khususnya dalam Matius 5-7 pada saat Yesus khotbah di atas bukit. Bagaimana cara Yesus untuk “membangun pagar mengelilingi taurat” tersebut? Banyak ayat yang menunjukkan cara Yesus untuk membuat “pagar-pagar” tersebut, namun saya ingin kita melihat aplikasi itu dalam satu ayat yang sangat relevan di tengah kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia yang majemuk, yakni Matius 5:21-22:

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! Harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”


Jangan Membunuh dan Hukum Kasih

Perintah “jangan membunuh” (Kel 20:13) tentunya merupakan hal yang tak asing kita dengar. Perintah itu pula pernah dikutip oleh Yesus. Namun sebagai Rabbi dan bahkan lebih dari sekedar Rabbi – Yesus adalah Sang Empunya Hukum Taurat itu sendiri! – Ia memiliki penekanan (di dalam otoritas-Nya sebagai Sang Empunya Hukum) tentang hukum “jangan membunuh” ini.

Yesus membuat “pagar” dan memberikan aturan yang lebih daripada “jangan membunuh” yakni “setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;…” (Mat 5:21). Inilah bagaimana cara Yesus untuk memagari Hukum Taurat dengan hukum-Nya yang baru yakni hukum kasih. Bahkan, Yesus di dalam memberikan hukum, Ia tidak hanya sedang “membangun pagar mengelilingi taurat” tapi justru di dalam hukum kasih inilah intisari dari segala Hukum Taurat (Mat. 22:40).



Photo by Rémi Walle on Unsplash


Tentang hal kasih inilah, Yesus ingin menekankan bahwa sebelum kita masuk ke dalam dosa pembunuhan ini, ada sesuatu yang harus kita “pagari” terlebih dahulu yakni tentang apa yang ada di dalam hati kita. Sebab, segala bentuk pembunuhan yang terjadi disekeliling kita memiliki latar belakang yang kuat yakni kebencian dan amarah yang ada di dalam hati kita. Tak ayal, conditio sine qua non (suatu masalah yang terjadi akibat dari adanya rentetan sebab-sebab yang berhubungan) akan merembet dan menimbun menjadi dendam yang kemudian situasi terburuk akan timbul menjadi aksi pembunuhan.

Dalam hal inilah Yesus benar-benar ingin mengajarkan akan bahaya kebencian dan amarah dalam diri manusia terhadap sesamanya. Rasul Yohanes menekankan juga bahwa “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seseorang pembunuh manusia!...” (1 Yoh 3:15). Teringat juga akan cerita Kain dan Habel dimana hanya karena kebencian dan iri hati, kain tega membunuh adiknya sendiri (lih. Kej 4:1-16).


Kafir dan Jahil

Dalam hal yang terkait dengan kebencian inilah Yesus melanjutkan perintahnya dengan perintah yang tegas, terlebih pada kata “kafir!” dan “jahil!”. Ada apa dengan kedua kata ini sehingga Yesus sangat serius menekankan hal ini?

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah kepada saudaranya harus dihukum, siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! (Yun: raka - ρακά) harus diserahkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkara: Jahil! (Yun: more - μωρέ) Harus diserahkan ke dalam negara yang menyala-nyala”.


1. Kafir!

Kata kafir (Yun: raka - ρακά) diambil dari bahasa Arab kafir كافر. Dengan kata kafir yang kita alamatkan ke orang lain, secara langsung kita sedang membuat statement bahwa orang lain tidak layak beribadah kepada Allah, dan orang kafir tidak berhak menerima hak-hak yang setara dengan hak kaum beriman. Hal ini yang disebut sebagai pembunuhan teologis (teological killing) yang mungkin saja bisa berujung pada pembunuhan fisik (physical killing). Kasus-kasus mulai dari kekerasan atas nama agama dan terorisme atas nama Tuhan bisa menjadi contohnya.


2. Jahil!

Kata jahil (Yun: more - μωρέ) diambil dari bahasa arab jahilجاهل. Kata yang di dalam bahasa Ibrani, moreמֹּרִי (jamak: morim מֹּרִים) mengingatkan kita pada kisah Musa dan Harun ketika mengumpulkan bangsa Israel di depan bukit batu dan berkata: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka (Shema’u na HaMorim), apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10).

Apa yang dilakukan Musa dan Harun adalah merampas hak Allah karena harusnya Allah lah yang mendatangkan mukjizat bagi bangsa Israel, bukan Musa. Oleh karena itu apa yang diperbuat oleh Musa ini adalah merampas hak Allah dan tidak menghormati kekudusan Allah (Bil. 20:12). Karena perbuatannya ini, Musa dan Harun tidak bisa memasuki tanah perjanjian dan hanya bisa melihatnya dari Gunung Nebo (Ul. 34:4).

Kedua kata ini terjadi ketika seseorang merasa dirinya paling benar dan menganggap kaum yang berbeda dengannya sesat dan tidak layak. Secara tidak langsung, seseorang itu sedang “menuhankan” dirinya. Hal yang sama pula dimana Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena tertipu rayuan Iblis bahwa mereka “akan menjadi seperti Allah” (Kej.3:5)



Photo by IV Horton on Unsplash


Dosa itulah yang membuat hubungan intim antara manusia dengan Allah menjadi rusak dan membuat manusia jatuh ke dalam belenggu dosa. Namun relasi yang dahulu rusak akibat keinginan manusia untuk “menjadi Allah”, dibangun kembali ketika Allah “menjadi manusia” di dalam Yesus Kristus untuk memperdamaikan kita dari perbudakan dan belenggu dosa. Salib Kristus yang menjadi simbol perdamaian hubungan Allah dengan Manusia (hablu min Allah) sudah seharusnya menjadi penyebab terjadinya perdamaian antara manusia dengan sesamanya (hablu min an-nas).



Baca bagian selanjutnya

Yesus “Sang Proklamator” Kemerdekaan Kristen: Merenungi Makna Salib dalam Kibaran Sang Saka Merah Putih (bagian 2)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE