Untuk Bertanya “Mengapa” dan Sejenak Menoleh ke Belakang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 6 Agustus 2018
Ada banyak hal dalam hidup ini yang perlu dianalisa ke belakang untuk akhirnya bisa maju ke depan. Bukan untuk menambah rasa sesal, hal tersebut dilakukan untuk menggali dan menambah kekuatan ketika maju.

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana" (bergerak maju) daripada kata tanya "mengapa" (bergerak mundur).

Sebagai contoh, "Bagaimana saya seharusnya menghadapi orang tua/saudara/teman seperti itu?" daripada mempertanyakan "Mengapa saya harus terlahir di keluarga demikian, bertemu dengan saudara dan teman seperti demikian?" yang jelas tidak berujung kemana-mana, selain kemarahan dan rasa sakit.

Pun dengan bertanya, "Mengapa saya bisa menghilangkan kunci rumah?" atau "Mengapa saya bisa menabrak?" justru hanya akan menambah penyesalan atas hal-hal yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah. Maka, lebih baik bertanya, "Bagaimana cara supaya saya menyimpan kunci lebih baik?" atau "Bagaimana supaya saya bisa lebih berhati-hati dalam berkendara?" Terdengar lebih positif, bukan?

Namun dalam hidup ini, ternyata ada banyak hal tertentu yang jika tidak digali "mengapa", malah terasa lebih menyakitkan.

Sebagai contoh, jika bertemu dengan orang-orang yang begitu keras kepala, atau ekstrimnya disebut toxic (pribadi menyebalkan namun sangat butuh dikasihi), bahkan jika itu adalah pasangan/sahabat kita atau diri kita sendiri. Seringkali hanya karena satu kata, bisa memicu konflik yang berkepanjangan. Dan ternyata, pola menyakitkan itu terus-menerus berulang, tanpa menemukan titik cerah di balik kata tanya bagaimana. Sudah mencoba berbagai cara, namun tetap saja, relasi tak kunjung baik. Setiap kali menyentil isu tertentu, emosi bisa tiba-tiba meluap seolah ada sesuatu yang tak terungkap.



Photo by pexels.com


Entah bagaimana, sebagian besar orang memilih menggunakan semacam painkiller. Berbagai reaksi seperti "Ya sudah, memang saya/dia orangnya begini/begitu, jangan tanya kenapa, titik." (represi dan kompromi) atau "Ok tidak apa-apa, aku dari dulu memang selalu salah." (self-blaming) atau yang lebih sering kita dengar "I’m ok, saya tidak ada masalah" (denial) dilontarkan untuk mengabaikan rasa sakit yang sesungguhnya. Alih-alih pulih, berbagai reaksi yang disebut juga sebagai defense-mechanism justru membuat luka itu semakin tertimbun. Mungkin untuk sementara rasa sakit itu reda layaknya kita meminum obat penawar rasa sakit. Namun, sumber kesakitan itu tetap ada, yang jika terus dibiarkan, bisa saja semakin infeksi dan luka semakin melebar.

Seorang teman memiliki luka mendalam terhadap keluarganya, ia sampai mengatakan setiap kali menelepon orang tuanya, rasanya emosi tiba-tiba meledak. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengampuni.

Maka, di sinilah kata tanya MENGAPA berperan, "Mengapa saya/dia bisa bersikap/bereaksi demikian?"

Menurutku, ada banyak hal dalam hidup ini yang perlu dianalisa ke belakang untuk akhirnya bisa maju ke depan. Bukan untuk menambah rasa sesal, hal tersebut dilakukan untuk menggali dan menambah kekuatan ketika maju.

Sigmund Freud yang merupakan tokoh psikologi mengemukakan, “sebongkah gunung es, yang tampak oleh mata hanyalah sebagian kecil dari apa yang tidak tampak di dasar laut”. Di sinilah peran kata tanya "mengapa" untuk memunculkan bagian-bagian di bawah kesadaran. Karena jika terlalu banyak yang tersembunyi, pribadi kita mungkin sedang sakit sehingga mengakibatkan orang-orang sekeliling kita juga merasa sakit.



Photo by Alexander Hafemann on Unsplash


Maka, kita bisa mencoba tiga hal ini untuk bertanya "MENGAPA" ke diri sendiri:


1. Ambillah waktu untuk menulis semua memori yang dirasa melukai, bisa terhadap pasangan, teman, atau keluarga (yang biasanya menjadi sumber kepahitan). Atau bayangkan seolah-olah kita akan menyampaikan sebuah surat isi hati kita kepada mereka. Tidak perlu dengan kata-kata yang indah, tulisan itu mencakup semua detail yang masih terkenang di memori termasuk luapan kekecewaan dan amarah yang ada.

Dalam proses itu, kita mungkin saja bisa menulis sambil menangis atau reaksi lainnya yang menunjukkan bahwa kita sedang berusaha tidak menggunakan painkiller, melainkan berusaha mencari sumber penyakit itu.



Photo by Green Chameleon on Unsplash


2. Datanglah ke seorang ahli, seperti konselor Kristen yang mampu menolong kita menggali sampah tertimbun itu. Bawalah secarik surat itu sebagai modal awal untuk membuka diri.

Aku katakan konselor karena mereka belajar teknis dan menggali sambil menolong diri kita dalam memunculkan kesadaran-kesadaran yang diperlukan untuk menjalani relasi dalam hidup ini. Sedangkan Kristen dipilih agar kita memiliki nilai dan prinsip yang sesuai dengan Firman Tuhan. Dalam proses itu, kita akan bertemu dengan berbagai tipe konselor, maka carilah yang membuat kita dapat terbuka secara nyaman.


3. Berdoalah dan jujur di hadapan Tuhan bahwa kita butuh pertolonganNya.

Sehebat apapun konselor, kita tetap butuh Sang Konselor Yang Agung. Dia yang memampukan kita untuk jujur dan mengampuni diri sendiri serta orang lain secara ajaib. Kita pun dimampukan untuk berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu kita.

Lakukan ini secara konsisten, karena hati yang sudah tersayat membutuhkan perawatan secara terus-menerus. Namun jika sudah pulih setahap demi tahap, bukan lagi mengkonsumsi painkiller, melainkan suplemen yang mengingatkan kita untuk terus mengasihi.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE