Suara Kenabian Masa Kini

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 15 Januari 2018
"Apa yang pernah terjadi, akan terjadi lagi. Apa yang pernah dilakukan, akan dilakukan lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini."
(Pengkhotbah 1: 9)

Dunia yang semakin jahat, ketidakadilan, perang, orang yang mengaku ber-Tuhan tapi seperti tidak ber-Tuhan, korupsi, dan generasi muda yang rusak bukanlah kondisi yang baru saja terjadi.
Pengkhotbah dengan tepat menyatakan bahwa memang tidak ada sesuatu yang baru di dunia. Situasi sekitar seperti yang ada pada masa kini, juga pernah terjadi pada masa para nabi.

Mengangkat 16 nabi yang ada di Alkitab bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijabarkan selama 4 hari 3 malam di momen SAAT Youth Camp. Mengambil tema “Thus Saith The Lord: Knowing God’s Heart Through The Prophetic Messages from Isaiah to Maleachi”, acara ini membawa para remaja dan pemuda dari berbagai gereja untuk belajar Nubuatan para nabi yang relevan dengan kondisi masa kini.


pexels.com

Kondisi Dunia yang Kacau dan Tidak Berpengharapan

Jika mau didaftarkan satu per satu, ada banyak kondisi yang menggambarkan dunia yang kacau, tak luput di Indonesia. Berita-berita yang beredar tak henti membawa kabar buruk dan menghasilkan dua pilihan respons, antara bergerak melawan atau putus harapan. Selain berita buruk, kita juga dihinggapi oleh berita-berita bohong atau hoax. Seringkali berita bohong ini menjadi pemicu dari keributan antar golongan yang tadinya hidup berdampingan. Unfriend dan unfollow massal menjadi suatu fenomena karena beda pendapat dan bahkan pendapat yang disampaikan menyerang atau menyakitkan.

Saya teringat di tahun 2009 ketika mengobrol dengan teman sebangku. Kami anak muda yang ingin perubahan tapi di saat yang sama juga merasa skeptis. Mungkin perasaan ini yang juga dirasakan oleh banyak orang. Yehezkiel dan juga bangsa Israel juga pernah merasakan tidak berpengharapan bagaikan tulang-tulang yang kering. Keadaan seperti ini tidak dibiarkan begitu saja, Allah datang memberi pengharapan dengan sebuah penglihatan kepada Yehezkiel bahwa tulang-tulang kering tersebut akan disegarkan kembali dan akan terbentuk menjadi sebuah tubuh yang baru. Ini adalah sebuah nubuatan pembebasan secara politik dan spiritual atas bangsa Israel.


Photo by Bench Accounting on Unsplash

Nabi Masa Kini

Pada masa perjanjian lama, Allah memakai para Nabi untuk menyampaikan isi hati-Nya, untuk menegur, mendidik, dan menyampaikan hukuman yang akan diterima bangsa Israel karena tidak setia. Di tengah carut marutnya kehidupan bangsa Israel yang terjajah oleh bangsa lain dan terjajah oleh dosa, para Nabi berdiri menghadapinya. Lalu, apa hubungannya dengan kondisi sekarang?

Sebagai orang yang terus bertumbuh di dalam Dia, apakah kita menjadi anak-anak muda yang tidak peduli dengan keadaan sekitar dan ikut dalam arus zaman yang kacau? Pada masa kini tidak ada lagi Nabi, tapi ada tugas kenabian yang dapat dikerjakan. Sebagai orang-orang yang telah menerima Anugerah Keselamatan, kita punya tanggung jawab membawa terang, menyampaikan kasih, dan suara kenabian berdasarkan Firman Tuhan di tempat kita berada.

Bukan hal yang mudah untuk melakukannya. Ketika menegur yang salah, kita takut dikucilkan. Ketika menyatakan sesuatu yang benar, kita takut diunfollow, diblock, atau dianggap sok suci. Ketakutan ini juga dialami oleh para Nabi. Berkali-kali mereka menyatakan nubuatan dari Allah, dan berkali-kali pula bangsa Israel tidak mengindahkannya. Dalam keadaan itu, tidak jarang mereka nyaris menyerah, tapi berkali-kali pula mereka dikuatkan oleh Allah sendiri sebab adanya relasi yang dekat dengan Allah. Nabi saja bisa hampir menyerah, apalagi kita di zaman now. tapi hubungan pribadi dengan Allah dan persekutuan saudara seiman dapat menghidupkan lagi semangat yang mulai redup.

Siapa pun dapat dipakai oleh-Nya

Hal yang menarik dari isi Alkitab adalah bahwa tokoh-tokoh besar yang dipakai Allah dalam Alkitab adalah orang-orang bermasalah, tidak terkecuali para Nabi. Yunus tidak taat untuk menjadi misionaris ke Niniwe, Yesaya yang mengidolakan Raja Uzia, Hosea yang menikahi perempuan sundal, mereka adalah bukti bahwa kehidupan para Nabi tidak sempurna. Itulah mengapa panggilan pelayanan disebut sebagai “Anugerah” karena Allah mau memakai mereka di tengah segala ketidaksempurnaan.

“Kesempurnaan hanya milik Allah,” adalah sebuah pepatah yang tepat namun jelas tak boleh jadi alat pembenaran ketika melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna, bahkan manusia yang sudah bertobat masih rentan akan dosa dan tetap bersinggungan dengan lingkungan yang berdosa. Jika keselamatan yang kita terima adalah anugerah, panggilan untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya pun juga sebuah anugerah.


Photo by Nadine Shaabana on Unsplash

Yesaya 6: 8 adalah ayat yang sering dipakai untuk pengutusan, “Ini aku, utuslah aku!” Yesaya menjawab panggilan ini dengan kesungguhan hati, bukan sebagai pekerjaan, beban, atau rutinitas semata. Panggilan serupa datang kepada kita, karena itu tak selalu soal menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Panggilan itu untuk dikerjakan dimanapun kita ditempatkan melalui peran apapun yang kita jalankan.
Yesaya dan berbagai nabi lain yang tidak sempurna mau menerima karunia pelayanan tersebut dengan sepenuh hati. Bagaimana dengan kita?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE