Seni Visual Sebagai Media Mengekspresikan Iman

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 21 Juni 2017
Zentangle bisa menjadi alternatif cara berdoa karena untuk melakukannya orang memerlukan keheningan. Dalam keheningan, kita dapat fokus, merefleksikan setiap pikiran dan perasaan, lalu mengekspresikannya melalui goresan pola-pola.

Ada banyak orang yang merefleksikan pengalaman imannya bersama Tuhan melalui seni musik. Sebenarnya bukan hanya seni musik yang bisa menjadi media. Orang-orang yang diberi karunia untuk mencipta seni visual juga dapat melakukan hal yang serupa. Misalnya melalui gambar atau lukisan. Saya teringat beberapa tahun yang lalu, di kampus saya (Duta Wacana) pernah diadakan Seminar Religi dan Seni yang disertai dengan pameran lukisan dari beberapa seniman. Di antaranya ada beberapa lukisan salib bergenre Cubism ala Picasso.

Lukisan salib itu mengekspresikan penyangkalan diri dalam pengalaman iman sang pelukis. Warna-warna dalam salib itu menunjukkan bahwa sang seniman mampu menangkap keindahan dalam menyelami penderitaan. Ada pula lukisan “Sang Guru” karya Wisnu Sasongko. Lukisan yang menggambarkan seorang laki-laki berkulit cokelat, rambut hitam sebahu, berjambang dan berkacamata adalah ekspresi pengalaman pelukisnya tentang Yesus sebagai guru iman. Yang menarik adalah lukisan Yesus versi Wisnu Sasongko sangat berbeda dengan lukisan Yesus ala seniman Eropa. Kita tahu ada banyak seniman yang melukis Yesus dalam berbagai versi dan karakter yang berbeda.

Keberagaman karya seni ini mengingatkan kita akan kekayaan imaji dan kreativitas manusia dalam merefleksikan iman Kristen tanpa terlepas dari konteks zamannya.


Artworks by Merry Setyarini, Shania Pinnata, Melisa Dawson, Yokholius Nugroho, and Naomi Djuanda

Sebagaimana bidang seni lainnya, dalam seni lukis juga terbentang ruang imajinasi dan interpretasi. Kekayaan imaji dan kreativitas manusia tentu saja bersumber dari Tuhan - Sang Seniman Agung. Ia menciptakan segala sesuatu bukan hanya amat baik, melainkan juga amat indah. Sebagaimana kata “baik” dalam Kejadian pasal 1 berasal dari kata tov (Ibrani) yang juga berarti indah.

Di kalangan gereja protestan, seni visual sebagai bagian dari ekspresi iman memang masih belum banyak dikembangkan. Umumnya hanya dimanfaatkan sebagai dekorasi ruang ibadah. Keberadaannya hanya demi menambah unsur estetika. Tanpa makna atau pesan teologis. Padahal seni visual dapat menjadi media untuk membagikan ekspresi iman. Refleksi kita atas kisah-kisah dalam Alkitab dapat dituangkan melalui seni visual. Selain gambar dan lukisan, yang juga termasuk bagian dari seni visual adalah desain grafis, lettering, fotografi, hingga pembuatan film yang banyak diminati oleh anak muda masa kini. Semua itu dapat dimanfaatkan sebagai media yang mengekspresikan iman para pemuda. Orang-orang yang melihat karya itu pun dapat ikut berefleksi. Mereka dapat menangkap pesan yang ingin kita sampaikan atau mereinterpretasikannya.

Bagi para senimannya sendiri, proses pembuatannya menjadi lebih dari sekedar proses kreatif. Hal itu dapat menjadi semacam “ibadah” personal. Misalnya seperti yang dilakukan oleh teman-teman GKI Gading Indah dan Perniagaan Jakarta. Pada pekan Pentakosta yang lalu, mereka mengadakan kegiatan berdoa dengan Zentangle. Zentangle yang adalah suatu teknik menggambar abstrak. Hasilnya gambar yang diiisi dengan beragam pola yang digambar berulang-ulang. Bagi orang Indonesia, pola Zentangle punya kemiripan dengan batik. Pola yang dibuat tidak harus rumit. Bisa pola-pola yang mudah dan sederhana.


Photo by Steven Pangadi – GKI Gading Indah Jakarta

 


Photo by Lia Oozz – GKI Perniagaan Jakarta

Zentangle bisa menjadi alternatif cara berdoa karena untuk melakukannya orang memerlukan keheningan. Dalam keheningan, kita dapat fokus, merefleksikan setiap pikiran dan perasaan, lalu mengekspresikannya melalui goresan pola-pola.

Semua itu dilakukan dengan mengalir, tanpa memiliki tujuan akhir. Proses ini seperti dinamika dalam berdoa. Ketika berdoa, kita terarah pada Tuhan, kita bebas mengungkapkan apa yang menjadi pergumulan atau yang kita harapkan, tanpa kita perlu tahu endingnya akan bagaimana.


Photo by Steven Pangadi – GKI Gading Indah Jakarta

 


Photo by Lia Oozz – GKI Perniagaan Jakarta

Penting untuk diingat. Bagaimanapun, seni visual hanyalah media atau metode yang menolong kita untuk berdoa. Tidak seharusnya kita bergantung, dan berpikir bahwa tidak ada media lain yang dapat mengekspresikan iman. Termasuk juga menganggap bahwa kita hanya bisa berdoa dengan metode ini. Segala sesuatu dapat menjadi media Tuhan untuk menjumpai kita karena “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu apa pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). Jadi, kalau kita mengira Tuhan hanya menjumpai kita lewat satu cara, berarti kita yang mainnya kurang jauh.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE