Sebuah Perenungan: Selasa Daging & Rabu Abu

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 1 Maret 2017

Setiap tahun di bulan Agustus, di kota Jember diadakan Jember Fashion Carnaval (JFC). Pawai tahunan yang digelar sejak 2001 ini menampilkan berbagai rancangan busana dan kostum unik yang diperagakan di sepanjang jalanan kota Jember. Tarian dan atraksi lain juga ikut memeriahkan pawai ini. Banyak orang yang sudah pernah nonton bilang “Seperti di Mardi Gras ya!”. Sebagian faham dengan komentar itu, sebagian lagi hening sambil berkerut dahi; “Mardi Gras?! Apa itu ya?”.

Karnaval Mardi Gras yang paling populer adalah yang setiap tahun berlangsung di Rio de Janeiro (Brazil). Ada juga sebenarnya Mardi Gras versi Lousiana (AS), Venesia (Italia), dan beberapa tempat lainnya; tapi Mardi Gras Rio tetap yang paling melegenda. Pawai besar tahunan ini menampilkan ratusan peserta dengan kostum glamour dan unik, diiringi tetabuhan rancak ala Amerika Latin yang ditingkahi tarian.

Namun selain soal karnaval, ada hal lain lagi yang pernah dengan apik dijelaskan oleh Pdt. Rasid Rachman.

             “Secara harfiah, le Mardi Gras adalah Selasa Daging. Setiap tahun sebelum Rabu Abu memasuki masa Prapaskah, masyarakat di negara-negara Kristen tradisional merayakan hari terakhir mereka boleh makan daging. Hari terakhir tersebut adalah Selasa. Rabu keesokan harinya adalah masa Prapaskah di mana gereja mempermaklumkan masa berpuasa selama 40 hari hingga Paskah”.

Jadi, sehari sebelum Rabu Abu dimana masa puasa dimulai, orang-orang boleh makan daging sepuas-puasnya. Dalam bahasa Latin, Mardi Gras disebut Carnivalle. Di dalam kata tersebut, ada kata ‘carni’. Kalau ingat carnivora atau karnivora maka tahulah kit bahwa ‘carni’ adalah ‘daging’. Jadi arti dasar dari carnivalle adalah pesta daging sebelum berpuasa.

Sedangkan Rabu Abu sendiri punya makna sebagai hari pertama masa Prapaskah. Hari Rabu ini dihitung sejak 40 hari sebelum Paskah (dengan catatan, tanpa menghitung hari-hari Minggu). Pada tradisinya, di hari ini umat Kristen datang ke Gereja dan dahinya diberi tanda salib dari abu. Pemilihan abu adalah simbol yang mengingatkan umat akan ritual Israel kuno dimana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan, dan pertobatan (bdk.Ester 4:1,3). Di bagian lain Alkitab ada tertulis juga:"Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." (Mazmur 102:10).

Jadi, abu di sini berperan sebagai simbol kesedihan akan keberdosaan kita di hadapan Tuhan sekaligus ungkapan menyesal dan bertobat. Biasanya pemberian tanda abu di dahi umat selalu disertai ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil." Sikap pertobatan dipandang baik sebagai awal masuknya kita ke dalam masa Prapaskah.

Pertanyaannya kini, sudahkah kita punya sikap hati demikian menyambut masa Prapaskah sebentar lagi?

sebuah-perenungan-selasa-daging-dan-rabu-abu

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE