Sebuah Keteladanan dari Kisah Nabi Hosea

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 15 Januari 2018
Tuhan Yesus datang untuk menebus kita yang hidup bagaikan “Gomer Gomer zaman sekarang”.

Kisah Hosea diangkat oleh panitia SAAT melalui sebuah drama singkat. Bagi saya pribadi, topik ini sangat unik karena saya belum pernah mengetahui cerita tentang Nabi Hosea sebelumnya. Hal ini yang membuat sepulang dari camp saya mencari tahu lebih banyak tentang Hosea dan kisah dibaliknya. Setelah membuka Alkitab serta membaca berbagai artikel tentang kisah Nabi Hosea, saya memutuskan untuk menulis artikel ini dan berharap dapat menjadi berkat.

Mari kita berkenalan lebih dulu dengan sosok satu ini. Hosea merupakan nabi Tuhan pada zaman bangsa Israel. Satu hal yang menarik adalah Tuhan berfirman padanya (Hosea 1:2) untuk menikahi Gomer, seorang perempuan sundal. Tentu suatu pergumulan bagi Hosea yang juga merupakan seorang nabi untuk menikah dengan seorang perempuan sundal.

Mungkin Nabi Hosea berpikir tentang bagaimana respons orang di sekitar jika mengetahui hal ini, atau apakah nantinya hal ini akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya sebagai seorang penyambung lidah Allah di dunia.


Photo by Almos Bechtold on Unsplash

Tapi kemudian kita tahu bahwa Hosea memilih untuk taat dan menikahi perempuan itu. Bahkan Tuhan kemudian mengaruniakan mereka 3 orang anak.

Namun, kehidupan keluarga Hosea dan Gomer tidaklah mudah. Gomer kembali melakukan sundal dan pergi meninggalkan Hosea. Menarik, dalam Hosea 3:1 Tuhan berfirman pada Hosea untuk mencari Gomer dan terus mencintainya sebagai istrinya. Kemudian pada Hosea 3:2 dituliskan bahwa ia membayar lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai untuk menebus Gomer dari laki-laki yang menjualnya.

Teman-teman, apa yang kita rasakan jika ada di posisi Hosea? Apa yang akan kita lakukan ?

Mungkin sebagian besar dari kita akan memilih untuk pergi meninggalkan Gomer. Kira-kira kita akan berkata "sudah untung saya mau mengambil kamu menjadi istri saya.” Atau mungkin kita akan berkata, kenapa sih Tuhan harus menyuruh saya untuk terus mencintai seorang perempuan sundal yang bahkan tidak dapat setia terhadap saya?

Kisah ini menjadi sangat unik karena Tuhan meminta salah satu delegasi-Nya di dunia untuk menikah dengan seorang perempuan sundal yang najis dan hidup tanpa mengenal Tuhan. Jelas suatu kehidupan yang berbanding terbalik, bagaikan putih dengan hitam. Satu hal yang menarik adalah bagaimana Hosea mau taat akan perintah Tuhan untuk terus mencintai Gomer.


Photo by Evan Kirby on Unsplash

Kisah ini dapat menjadi pengingat bagi kita, bahwa seperti itulah cinta Tuhan pada kita, manusia yang lekat dengan pekat dosa.

Tuhan mencintai kita bukan karena kita layak apalagi sempurna dan Tuhan tetap setia juga bukan karena kita setia. Lantas apa alasan-Nya? Tak lain karena hakikat kasih Allah itu sendiri yang adalah Agape, sebuah jenis kasih yang tidak bergantung respons atau keadaan orang yang menerima kasih.

Tuhan berinisiatif untuk mencari kita saat kita memilih untuk hidup dalam dosa. Tuhan sendiri yang datang menghampiri kita ketika kita berpaling dari-Nya dan terkekang dalam kesenangan duniawi. Bahkan Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia kemudian mati untuk menebus dosa kita.


Photo by Joshua Earle on Unsplash

Kasih Allah merupakan "unconditional love", yang tulus dan terus merindukan jiwa-jiwa yang berbalik untuk kembali kepada hidup yang benar. Saat kita terus berada dalam dosa, Tuhan tahu kita tak akan bisa bebas tanpanya. Hidup dalam dosa berarti kita kehilangan kemuliaan Allah dan layak untuk menerima maut, sama seperti Gomer. Tapi seperti apa yang Hosea lakukan, Tuhan Yesus datang untuk menebus kita yang hidup bagaikan "Gomer Gomer zaman sekarang". Ketahuilah Tuhan Yesus tidak menebus kita dengan limabelas syikal perak dan satu setengah homer jelai melainkan dengan darah-Nya yang kudus dan dengan mengorbankan tubuh-Nya di kayu salib. Agar kita semua tidak terus hidup dalam kegelapan seperti Gomer.

Sekali lagi bukan karena kita layak, bukan pula karena kita hebat. Melainkan hanya karena Anugerah Tuhan, hanya karena kasih-Nya yang tidak terbatas untuk kita semua. Percayalah, di mata Tuhan tidak ada manusia yang terlalu hina sehingga Tuhan tidak mengasihinya, atau terlalu hina hingga Tuhan tidak mampu mengampuninya.

Lukas 5:32 “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE