Rumah Bagi Ingatan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 05 September 2018
“Cerita adalah satu-satunya kekuatan di dunia fana yang menawarkan wahana untuk mengalahkan tirani waktu dan kematian. Akhir dari cerita yang utuh tentang diri kita bukan hanya tentang masa depan kita atau akhir sejarah hidup kita, tapi juga tentang kehidupan yang melampaui kematian.“

Berpisah denganmu

T'lah membuatku semakin mengerti

Betapa indah saat bersama

Yang masih selalu ku kenang

Selamat jalan kekasih

Kaulah cinta dalam hidupku

Aku kehilanganmu

Untuk selama-lamanya…


Lirik lagu “Selamat Jalan Kekasih” yang dinyanyikan Wizzy seakan menembus relung hati seraya membawa segenggam kenangan akan seseorang yang begitu berarti yang telah pergi membawa sebagian atau seluruh diri kita bersamanya. Bersama dengan lantunan OST film Si Doel The Movie ini, ingatanku melayang kepada sosok Benyamin, si babeh yang lucu, konyol, sekaligus bijak. Mendadak, sosok-sosok dari sinetron si Doel tahun 1990-an lainnya bermunculan silih berganti dalam ingatanku, lalu akhirnya sosok papaku yang telah tiada, teman setia menonton sinetron ini di tahun 1990-an.

Tiba-tiba aku merasa bahwa betapa cepat Sang Waktu menyeret kita semua. Betapa lamanya dan banyaknya yang sudah kulalui. Betapa banyak pula orang-orang terkasih yang sudah mendahuluiku. Apa yang kuingat tentang masa lalu lebih mirip sebuah lukisan atau sebuah potret daripada sebuah film. Kita hanya ingat apa yang mau kita ingat.

Satu yang selalu kuingat paling jelas dari papaku adalah ketika ia menggendong aku, waktu itu baru berumur lima, di Taman Mini Indonesia Indah. Hari itu perutku sakit dan jalan-jalan di Taman Mini kelihatan tak berujung di tengah teriknya matahari siang. Wajahnya begitu dekat denganku saat dia menggendongku. Dia tampan, rambut hitamnya selalu dibasuh minyak rambut merk Brycleam dengan baunya yang khas. Wajahnya ketika meninggal 20 tahun kemudian jelas sudah jauh berubah. Wajahnya tirus dan rambutnya memutih ketika itu. Di dalam mimpi-mimpi yang menghantuiku selama dua tahun— waktu yang kuperlukan untuk merelakan kepergiannya—wajahnya di Taman Mini selalu muncul menggantikan wajahnya yang terakhir.



pexels.com


Film Si Doel The Movie sukses karena Rano Karno tahu betul apa yang tertinggal dalam ingatan para penggemarnya. Maka, dengan susah payah dia membangun kembali rumah tua dengan detil perabotan yang sama beserta Opelet tua si Doel tahun 90-an demi menghormati ingatan para penonton, sekalipun Rano (dalam salah satu wawancara) menyatakan sangat sadar akan protes akal sehat yang berteriak menggugat betapa niscayanya perubahan kedua benda itu dalam selang hampir tiga puluh tahun ini.

Tapi penonton ingin bernostalgia (nostalgia berasal dari bahasa Yunani, nostos=pulang dan algos=sakit) sekaligus ingin tahu kelanjutan cerita dan perubahan yang terjadi pada karakter-karakternya. Bagaimana si Doel sekarang? Bagaimana Sarah dan Zaenab sekarang? Mandra? Atun? Apa yang terjadi? Setting yang persis sama akan membantu menyambung ingatan yang terputus, tetapi kalau kita menemukan segala sesuatu tetap sama dan hanya kita yang berubah, nostalgia akan sangat menyakitkan.

Bayangkan kalau kita datang ke pesta reuni di mana semua orang tetap sama seperti berpuluh tahun yang lalu dan hanya kita yang berubah (menua). Sangat menyakitkan bukan? Kita ingin menemui kembali karakter-karakter yang membekas di ingatan kita dari masa lalu. Berbagai karakter itu dihidupkan lagi dengan berbagai cara.

Kehidupan dicirikan oleh perubahan, maka karakter-karakter itu harus berubah kalau mau ‘hidup kembali’. Tapi kalau semuanya berubah, nostalgia itu akan gagal total seperti remake Benyamin Biang Kerok-nya Hanung Bramantyo. Maka perlu ada yang tetap sama di tengah perubahan.

Zaenab tampil dengan keriput-keriput halus di sudut matanya dengan kecantikan yang nyaris sama, Sarah kelihatan lebih gemuk sekaligus masih mellow, Si Doel tampak tambun tanpa kehilangan ke- plin-plan-annya, Mandra yang jauh lebih kurus masih nyosor terus, Atun tak lebih kurus namun tak lagi hobi main layangan, Mak Nyak sudah tua, buta dan terbaring sakit dengan nasihat yang masih menggetarkan hati. Mengharukan

Yap, ketemu sosok-sosok lama yang akrab di masa lalu dan menyaksikan mereka ‘baik-baik’ saja sungguh melegakan dan mengharukan. Lega karena kita merasa seperti pulang ke rumah dan menemui sosok-sosok yang akrab masih ada di sana (walaupun hanya untuk 2 jam) dan haru karena melihat betapa cepatnya kita semua menua. Keharuan mungkin adalah gabungan rasa bahagia sekaligus rasa sakit. Nostalgia yang sukses seharusnya memang mengandung rasa sakit akibat melihat kejamnya Sang Waktu.

Tidak setiap tindakan untuk mengunjungi masa lalu bisa dikategorikan bernostalgia. Berkunjung ke museum dan membaca buku sejarah tidak dapat disebut bernostalgia. Masa lalu yang kita temui di kedua tempat ini bukanlah bagian dari pengalaman masa lalu kita.

Di sini kita perlu untuk mulai membedakan antara ingatan dan kenangan (mnēmē dan anamnēsis dalam bahasa Yunani). Kita bisa dengan akurat mengingat fakta-fakta masa lalu dalam pelajaran sejarah tapi sesungguhnya kita tak sedang mengenang mereka. Sebaliknya, kita bisa terus-menerus mengenang mereka yang sudah pergi dengan ingatan yang tak sempurna. Mengingat menghasilkan gambar atau potret di dalam ingatan kita, sementara mengenang menghasilkan sebuah cerita.



pexels.com


Sebuah cerita hanya dapat lahir dari pengalaman sejati. Sebuah cerita yang utuh juga selalu membawa kita melanglang masa lalu untuk kemudian menerbangkan kita ke masa depan. Masa lalu dalam sebuah cerita selalu menampilkan dirinya seperti sebuah hikayat: dia mengawali dengan sebuah masa yang mendahului catatan sejarah dirinya. Ketika kita bercerita tentang hidup kita, misalnya, kita seringkali memulainya dari masa sebelum kita sendiri ada, dimulai dari masa kehidupan orang tua kita, siapa mereka atau siapa kakek nenek kita atau bahkan nenek moyang kita; jauh mendahului sejarah diri kita.

Nostalgia bukanlah sebuah catatan sejarah, dia adalah sebuah cerita mengenai masa lalu. Nostalgia adalah bagian dari sebuah cerita utuh yang perlu dilengkapi alur masa depannya. Sebagaimana sebuah cerita dimulai dari awal yang mendahului sejarahnya, demikian juga sebuah cerita juga menghendaki akhir yang jauh melampaui catatan sejarah, akhir yang eskatologis.

Akhir dari cerita yang utuh tentang diri kita bukan hanya tentang masa depan kita atau akhir sejarah hidup kita, tapi juga tentang kehidupan yang melampaui kematian. Di dalam pengharapan eskatologis, kita terus bertanya-tanya adakah kehidupan sesudah kematian, apakah keberadaan diri kita berhenti hanya sampai di sini. Cerita adalah satu-satunya kekuatan di dunia fana yang menawarkan wahana untuk mengalahkan tirani waktu dan kematian.



pexels.com


Ingatlah sekali lagi bahwa cerita lahir dari kenangan (anamnēsis), bukan hanya ingatan (mnēmē). Mengenang hanyalah dapat dilakukan bagi mereka yang hidup di dalam ingatan kita. Dalam hal ini Alkitab menjadi menarik karena dia mengandung banyak catatan sejarah yang tidak bersangkut paut dengan hidup kita, namun cerita utuhnya (kalau sudah membaca seluruh Alkitab) bisa kita klaim sebagai cerita hidup kita.

Bagaimana mungkin tokoh-tokoh yang tidak pernah hidup bersama kita, bisa hidup dalam kenangan kita? Kuncinya mungkin ada ketika Yesus memecah-mecah roti dalam Ekaristi dan berkata, “…perbuatlah ini menjadi peringatan (anamnēsis) akan Aku.” (Luk 22:19)

Ijinkan saya mengganti kata ‘peringatan’ di atas menjadi kata ‘kenangan’ atas dasar bahwa mengenang atau anamnēsis hanya dapat dilakukan bagi mereka yang pernah pergi atau mati tapi hidup kembali di dalam cerita yang kita hidupi bersamanya sampai akhir yang melampaui waktu, sampai kekekalan.

Kenangan akan Yesus mensyaratkan kita memiliki cerita masa lalu bersama Yesus Kristus, berarti Dia harus pernah kita alami dalam hidup kita. Kenangan akan Yesus berarti Dia sudah tak bersama kita lagi saat ini. Kenangan akan Dia juga berarti bahwa Dia sesungguhnya masih hidup terus.

Ciri mereka yang hidup adalah perubahan. Dia terus berubah menjadi semakin mulia atau terus bertransfigurasi dalam cerita hidup kita. Pada diri-Nya, kita letakkan pengharapan eskatologis. Di dalam persekutuan dengan-Nya, momen membaca Alkitab seharusnya menjadi momen nostalgia, seperti pulang ke rumah, bahagia bercampur haru karena sementara ini Dia tidak bersama kita, namun Roh-Nya hidup di dalam kita menghiburkan kita dan mengingatkan kita akan diri-Nya. Kerinduan akan sosok-Nya terpuaskan setiap kali kita berbicara dengan-Nya di dalam doa dan pembacaan Alkitab.



Photo by Alexander Michl on Unsplash


Kenangan akan orang yang kita cintai bersifat terbatas karena mereka sudah pergi dan hidup kembali hanya di dalam ingatan kita. Kenangan akan Yesus Kristus tidak dapat dibatasi hanya di dalam ingatan karena Dia sudah bangkit dari kematian dan bertransfigurasi. Kenangan akan orang yang terkasih memungkinkan kita untuk membangun cerita hidup kita secara utuh di dunia, sedangkan kenangan akan Yesus melampaui kehidupan di dunia. Akan tiba harinya kita bertemu muka dengan-Nya dan bernostalgia bersama-Nya akan hari-hari ini. Sebuah nostalgia tanpa rasa sakit lagi.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE