Refleksi Paska: Sudahkah Dirimu Benar di Hadapan-Nya?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 17 April 2017
Ingat, misi iblis adalah menjauhkan orang Kristen dari Kristus. Melenceng 1 derajat bisa berdampak luas dikemudian hari

Suatu hari wartawan TV meliput berita kubur Yesus yang kosong.
Saksi (S): “Paska itu HOAX??? Ya!!! 100% Benar... benar benar bohong. Bagaimana mungkin Yesus itu bangkit, kami yakin Yesus tidak bangkit!!!”
Wartawan (W): “Bagaimana anda yakin bahwa Yesus tidak bangkit?”
S: “Ya saya yakin. Lha wong mayat Yesus itu dicuri kok”
W: “Apakah ada bukti yang menunjukkan hal itu?”
S: “Ya pokoknya saya yakin!!!”
W: “Menurut anda, siapa kira-kira pelaku pencurian mayat Yesus?”
S: “Siapa lagi kalau bukan pengikut-pengikutnya”
W: “Kapan itu terjadi?”
S: “Pasti malam sampai subuh tadi, yang pasti pagi tadi mayatnya sudah tidak ada dan ada berita tentang Yesus yang bangkit, padahal saya katakan dengan yakin bahwa berita itu HOAX!!! Pemirsa jangan percaya berita tersebut! Itu menyesatkan”

Percakapan di atas memang percakapan imajiner ketika saya membaca Matius 28:11-15. Perikop tersebut menceritakan tentang kubur Yesus yang kosong. Menarik sekali bila dalam suasana Paska seperti ini kita mencoba sejenak mengamati kisah ini.

Kisah ini dibuka dengan imam-imam kepala yang memperoleh informasi dari para penjaga. Imam-imam kepala merupakan jabatan yang tidak sederhana dalam strata sosial Yahudi. Mereka adalah kaum agamis yang sangat vocal dalam menentukan arah sosial-politik Yahudi. Kaum agamis inilah yang ikut menentukan keputusan pengadilan Yesus ketika dihadapkan pada Pilatus.

Menarik bila penulis injil Matius menjelaskan apa yang terjadi oleh kaum agamis ini. Setelah mendengarkan info mengenai kebangkitan Yesus (Paska), mereka mengadakan konsolidasi dengan para tua-tua. Dari nama saja sudah disebut tua-tua. Berarti pertimbangan yang mereka berikan kepada kaum agamis ini pastilah pertimbangan yang matang, bijaksana, dan teruji ketika didiskusikan antara satu dan yang lain. Sampai di sini, kita melihat hal yang wajar. Melakukan pertimbangan untuk mendapatkan keputusan yang terbaik.

Namun mata saya terbelalak ketika melanjutkan kisah ini. Betapa terkejutnya keputusan yang diambil. Kaum agamis beserta orang yang dianggap tua menghasilkan keputusan yang hebat! Ya hebat karena kaum agamis justru melanggar perintah Tuhan ke-9. “Jangan bersaksi dusta!”

Apakah mereka tidak menyadari bahwa hukum Taurat adalah fatwa dari Tuhan secara langsung, salah satunya adalah jangan bersaksi dusta. Pertimbangan kaum agamis dan para tua-tua ini pasti matang. Mungkin terjadi pro dan kontra dalam memutuskan untuk melakukan perbuatan dusta. Namun toh, keputusannya memilih untuk dusta. Meskipun selalu ada alasan dibaliknya yang kita sendiri tidak tahu. Bisa alasan stabilitas politik, bisa alasan memecah belah umat, dan alasan lain yang dianggap sah-sah saja oleh kaum agamis dan para tua-tua bila berdusta.

Tak cukup sampai di situ. Suatu keputusan harus diikuti oleh modus operandi. Modus operandi adalah cara sekelompok orang menjalankan rencana kejahatannya. Modus operandinya pun sangat rapi dan bisa saja dipakai untuk memperkuat berita dusta. Adolf Hitler, Sang diktator Jerman pernah berkata,

“Tidak masalah seberapa banyak kebohongan yang kamu buat, tetapi yang penting adalah bagaimana kamu membuat kebohongan itu menjadi kenyataan.”

Ternyata perkataan Hitler ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun yang lalu sudah dilakukan oleh kaum agamis. Mereka membuat narasi agar narasi yang ada itu menjadi kenyataan dan diamini oleh para pendengarnya. Mereka memberikan uang suap kepada serdadu untuk bersaksi dusta seperti percakapan imajiner di awal artikel ini. Mereka berusaha agar berita dusta itu menjadi “kenyataan”. Kita melihat kaum agamis memakai cara cara duniawi untuk melanggengkan dustanya. Jadi kalau kita hitung-hitung kesalahannya:

Berdusta, melanggar hukum ke-9

Menyuap saksi, menggerakkan orang lain untuk melakukan dusta.

Kedua kesalahan itu dilakukan oleh kaum agamis berdasarkan konsolidasi oleh para tua tua.

Melindungi orang yang bersalah.

Di ayat 14 dijelaskan bila saksi itu ketahuan, maka kaum agamis ini akan melakukan lobi politik agar dibebaskan. Berarti kaum agamis ini membela orang yang salah.

Melalui 3 hal ini, kita melihat rapi sekali modus operandi yang dilakukan oleh kaum agama untuk suatu gerakan. Jika kita simpulkan permainannya adalah sebagai berikut: Dosa → mengajak orang lain untuk berdosa → melenggangkan agar orang lain berdosa. Dan sekali lagi dilakukan oleh siapa? Kaum agamis.

Oleh sebab itu yang bisa kita lakukan sebagai kaum muda Kristen adalah sebagai berikut:

1. Kritis

Artikel ini hendak melihat bahwa kaum agamispun bisa ‘kepleset’. Oleh sebab itu agamis belum tentu jelek, namun juga belum tentu baik. Adanya pemahaman Alkitab yang kuat dan memiliki prinsip, sangat dibutuhkan dalam semakin mengenal Yesus. Saya sendiri sering berkata pada anggota remaja dan pemuda di GKI Sorogenen, “Jangan percaya sama saya 100%, percayalah 100% sama Tuhan”.

Mengapa saya berkata demikian? Hal ini dikarenakan ada juga pendeta (atau penginjil dan teolog) yang menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk kepentingan yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, misalnya untuk kampanye yang kita sudah tahu bahwa calon itu kurang baik dibanding calon yang lain. Apalagi pakai ambil ayat seenaknya untuk kepentingan duniawi. Ujung-ujungnya juga menghalalkan dosa, mirip seperti kaum agamis yang kita bicarakan di atas.

 

2. Waspada

Cara kerja iblis luar biasa. Kaum agamispun bisa kemasukan iblis. Cara berpikir iblis, modus operandinya pun menyenangkan iblis. Ingat, misi iblis adalah menjauhkan orang Kristen dari Kristus. Melenceng 1 derajat bisa berdampak luas dikemudian hari. Berawal dari keinginan dusta → melakukan dusta → mengajak orang lain berdusta → melindungi pendusta. Modus operandi yang rapi sekali. Puji Tuhan bila di liturgi GKI selalu ada bagian “pengakuan dosa” disinilah peran kita untuk berani jujur dihadapan Tuhan sebelum terlambat.

 

3. Penginjilan

Arti injil adalah kabar baik. Jadi orang Kristen wajib melakukan penginjilan, yakni menyebarkan kabar baik melalui apapun termasuk teknologi dan media sosial. Tidak sedikit anak muda Kristen mem-posting “kesulitan pelajaran ini bagaikan kasih ibu: tak terhingga” atau “hati ini tersayat dan kau kucurkan garam ketika memutuskan aku”. Memang itu sah-sah saja mem-posting kegalauan. Namun ingat juga agar kita mem-posting berita kabar baik dan meneruskannya (forward) dari pada fokus pada kabar yang belum tentu benar. Apalagi kabar hoax seperti serdadu bayaran dari kaum agamis.

So, kita ini kaum muda yang kelihatannya agamis atau memang benar benar agamis? Selamat berkaca.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE