Refleksi Paska: Kita atau Tuhan Yang Mendekat?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 16 April 2017
Karena dekat dengan Tuhan, belum tentu kita mengenal dan memahami-Nya

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata MUDIK? Ya, sebuah perjalanan yang memiliki kesan menyenangkan karena saat mulih ka udik (mudik) biasanya seseorang membawa berjuta kegembiraan dalam berbagai rupa. Namun, bagaimana jika saat mudik kita mengalami kegagalan, penolakan bahkan harapan terbesar pun terenggut? Rasanya mudik menjadi penuh nestapa. Tak ada cerita bahagia yang bisa dibagi dan kita pulang sebagai orang yang kalah.

Keadaan tersebut sama halnya dengan perjalanan kedua murid Yesus yang pulang ke kampung halaman mereka, Emaus (Lukas 24:13-35). Dikisahkan bahwa perjalanan sejauh kira-kira sebelas kilometer itu mereka jalani hanya berdua serta begitu berat. Kemungkinan bahwa mereka bisa ditangkap oleh orang-orang Yahudi yang menangkap dan menghukum mati Yesus menjadi kekuatiran mereka. Seharusnya, kedua murid itu tidak perlu khawatir jika mereka mengerti apa yang Yesus sudah ajarkan selama di Galilea (Matius 17:22-23) serta pemahaman tentang kitab Musa dan kitab para nabi yang menjelaskan bahwa Mesias harus menderita (Lukas 24:25-27). Namun, semua yang mereka alami dalam tiga hari sebelum mudik tidak bisa mereka pahami dan membuat berat dalam menapaki perjalanan pulang.

Status mereka sebagai murid Yesus ikut merasa kalah ketika mereka terus berpikir bahwa seharusnya Yesus berkuasa dan tidak perlu dihukum mati, bahkan di kayu salib yang begitu hina. Seolah harapan mereka ikut lenyap bersama dengan penderitaan dan kematian Yesus.

Melihat kisah tersebut, terdapat satu nama murid Yesus bernama Kleopas (Lukas 24: 18). Sekalipun nama Kleopas hanya disebutkan satu kali dalam Alkitab, tetapi jika menelusuri bahasa asli dari nama itu, kita akan menemukan bahwa pribadi ini disebutkan beberapa kali dalam Alkitab. Dalam Yohanes 19:25 disebutkan bahwa dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Nama Klopas dalam American Version Bible ditulis dengan Cleopas karena memang nama ini memiliki penggunaan kata yang sama dalam bahasa Yunaninya. Penyebutan lainnya terdapat di dalam Lukas 6:15. Disebutkan ada Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus... Nama Alfeus adalah bahasa asli Aram untuk nama Kleopas.

Jika keterangan di atas diterima, maka satu pribadi lain dari dua orang murid yang pulang ke Emaus menunjuk pada dua kemungkinan, yaitu Maria istrinya atau Yakobus anaknya yang merupakan orang terdekat Yesus. Jika benar Kleopas adalah pribadi yang sangat dekat dengan Yesus, bahkan istri dan anaknya juga sangat dekat dengan-Nya, maka yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa ia tidak mengerti tentang Mesias yang menderita?

 

Sebuah Refleksi

Mari bandingkan diri kita dengan Kleopas. Sudah berapa lama kita mengenal Tuhan? Seberapa aktifnya kita dalam hidup bergereja? Berapa kali kita khatam dalam membaca Alkitab?

Mungkin saja kita lebih hebat dari Kleopas dalam segala hal soal kedekatan terhadap semua tradisi Kristen. Akan tetapi, semuanya akan menjadi sia-sia saat kita tidak mengundang Tuhan Yesus menguasai rumah hati kita. Kleopas dan teman perjalanannya yang awalnya tidak memahami, akhirnya mengundang Tuhan Yesus untuk masuk rumahnya dan membiarkan Tuhan menjadi “tuan rumah” yang melayani meja di dalam rumah mereka (Lukas 24:29-30). Setelah itu kita melihat bahwa mereka mengalami pengenalan sesungguhnya akan Tuhan serta muncul keberanian besar dalam menghadapi segala resiko untuk memberitakan tentang kebangkitan-Nya (Lukas 24:33-35).

Sebuah perubahan besar terjadi ketika kita mengijinkan Tuhan menguasai rumah hati kita

Biarlah perjalanan 40 hari menjelang Paska yang telah kita isi dengan berbagai aksi mendekatkan diri pada Tuhan tidak hanya sekadar membangun kedekatan dengan-Nya, tetapi sungguh-sungguh membuka diri dan mengundang Tuhan untuk masuk dalam rumah hati kita. Tanpa Tuhan yang menjadi tuan rumah hati kita, maka kita akan penuh dengan ketidakmengertian, ketakutan, bahkan jauh dari kebahagiaan.

Pada akhirnya, kesadaran akan kebangkitan-Nya lah yang membuat Kleopas memiliki kebahagiaan sejati di balik mudik yang awalnya penuh dengan nestapa.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE