Pesan Paulus: Ketuhanan yang Maha Esa

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Agustus 2018
“Peringatan Paulus kepada jemaat Korintus semata-mata dilakukan untuk menyadari bahwa mereka satu sebagai tubuh Kristus, sehingga tidak tercipta tirani keagamaan yang mematikan pluralitas.”

Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang plural, Pancasila menjadi dasar yang sangat kokoh dalam mempersatukan keragaman tersebut. Sifat pluralistis inilah yang juga muncul dalam konteks jemaat Allah di dalam surat 1 Korintus. Di kota Korintus, Paulus mengalami ketakutan sekaligus penguatan kembali atas tugas panggilannya sebagai murid Kristus. Baginya, Allah yang menyertai dimaknai sebagai penguatan atas ketakutannya.

Memang begitu banyak polemik yang terjadi di dalam jemaat Korintus, namun penulis hanya akan mengerucutkan pada bagian 1 Korintus 12:12-31. TB-LAI memberi judul pada perikop tersebut yaitu “Banyak Anggota, tetapi Satu Tubuh”. Dari judul tersebut terlihat bahwa Paulus ingin menunjukkan kondisi jemaat Korintus yang plural, meski pada hakikatnya mereka adalah satu. Tetapi ini barulah hipotesis dari penafsiran perikop 1 Korintus 12:12-31.



pexels.com


Eksklusifitas Jemaat di Korintus

Menjaga jemaat Korintus dari perpecahan merupakan tujuan Paulus ketika menuliskan perikop 1 Korintus 12:12-31. Baginya, perpecahan bisa terjadi jika eksklusivitas kelompok dalam jemaat Korintus terus dibiarkan. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari keragaman jemaat Korintus dalam dua hal: Pertama, keragaman dalam ras dan suku serta status sosial di masyarakat (aspek sosial). Kedua, keragaman dalam karunia dan ajaran Kristen yang dianut oleh kelompok-kelompok yang ada (aspek teologi).

Dalam perkembangannya, Paulus menerima keragaman kelompok yang ada dalam jemaat Korintus, namun menolak eksklusivitas kelompok tersebut, terlebih ketika ada kelompok yang merasa paling penting dan paling benar. Dari hal tersebut, timbul tindakan kafir-mengkafirkan sehingga membawa jemaat Korintus semakin terkotak-kotakan dan mungkin saja menjadi pecah. Dalam permasalahan tersebut, Paulus berusaha melakukan tindak persuasi dengan mengingatkan bahwa mereka sebenarnya sama-sama jemaat Kristus.


Pesan Paulus: Ketuhanan yang Maha Esa

Pesan yang dituliskan oleh Paulus kepada jemaat Korintus dalam perikop 1 Korintus 12:12-31 mirip dengan apa yang tertuang dalam Pancasila. Sila pertama memiliki pesan bahwa Pancasila bukanlah sebuah ajaran agama yang mengatur sistem peribadatan dan sistem norma dalam ranah privat dan ranah komunitas. Pancasila juga tidak dipandang mewakili salah satu aspirasi kelompok keagamaan saja, karena hal tersebut dianggap sebagai tirani keagamaan yang mematikan pluralitas kebangsaan dan menjadikan pengikut agama lain sebagai warga negara kelas dua.

Menurut Kuntowijoyo, Tuhan dan rakyat harus dibaca dalam satu tarikan nafas. Karena itu, Kuntowijoyo menuliskan istilah teodemokrasi. Dalam konsep tersebut, ia menjabarkan makna sila pertama sebagai undangan bagi masyarakat untuk tidak melalaikan tugas tanggung jawabnya dan harus mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan atas nama Tuhan. Kepedulian Pancasila lebih tertuju pada moralitas publik, tidak mencampuri moralitas pribadi. Nilai-nilai Ketuhanan yang dikehendaki Pancasila ialah nilai Ketuhanan yang positif, inklusif, membebaskan, memuliakan keadilan dan persaudaraan.[1]



Photo by Tim Marshall on Unsplash


Apa yang ada dalam sila pertama Pancasila mirip dengan empat pesan yang disuarakan oleh Paulus. Pertama, perihal semangat persatuan yang dikobarkan oleh Paulus untuk tidak menghendaki agar semua keragaman dihilangkan dan dibawa ke dalam suatu sistem sosial atau ajaran agama tertentu, baik itu ajaran menurut Gnostisisme ataupun ajaran menurut para rasul atau guru Kristen. Peringatan Paulus kepada jemaat Korintus semata-mata dilakukan untuk menyadari bahwa mereka satu sebagai tubuh Kristus, sehingga tidak tercipta tirani keagamaan yang mematikan pluralitas dalam hal sosial maupun teologi, seperti juga yang dicegah oleh sila pertama Pancasila.

Kedua ialah perihal semangat saling membutuhkan. Ada perbedaan antara Pancasila dengan konteks jemaat Korintus. Pancasila memunculkan semangat saling membutuhkan muncul dalam hal relasi antara Tuhan dan rakyat, sedangkan jemaat Korintus dituntut untuk memiliki semangat saling membutuhkan di antara sesama jemaat Korintus yang berbeda kelompok sosial maupun teologinya. Namun keduanya menawarkan pesan yang sama, yaitu soal semangat saling membutuhkan. Semangat itulah yang disuarakan Paulus sehingga dapat membawa jemaat Korintus juga menjadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas panggilannya di tengah kota Korintus –seperti yang terdapat dalam pesan teodemokrasi sila pertama Pancasila-

Ketiga ialah perihal semangat solidaritas. Meskipun kelompok Yunani dianggap lebih mendominasi jemaat Korintus, tidak berarti ajaran yang dianut oleh kelompok Yunani Kristen menjadi ajaran Kristen yang paling benar. Ide ini sama juga dalam halnya sila pertama Pancasila yang tidak menjadikan agama Islam –agama mayoritas– sebagai agama yang paling benar untuk dijadikan agama negara.



Photo by Helena Lopes on Unsplash


Keempat yaitu perihal sikap terhadap eksklusivitas kelompok. Ketiga semangat yang dikobarkan Paulus didasari oleh suatu sikap yang anti terhadap eksklusivitas kelompok. Sikap inilah yang juga muncul dalam sila pertama Pancasila, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa nilai Ketuhanan yang dikehendaki Pancasila ialah nilai Ketuhanan yang positif, inklusif, membebaskan, memuliakan keadilan dan persaudaraan. Sikap Ketuhanan yang inklusif maksudnya ialah sikap Ketuhanan yang mengutamakan keadilan dan persaudaraan, atau bisa dikatakan sebagai Ketuhanan dengan semangat solidaritas atau kesetaraan yang disuarakan oleh Paulus.


Penutup

Korelasi antara keempat pesan Paulus dengan sila pertama Pancasila menunjukkan bahwa pesan Paulus relevan terhadap konteks Indonesia, terkhususnya dalam dasar negara Indonesia yang senantiasa dihidupi hingga masa kini. Dapat dikatakan juga bahwa pesan Paulus dalam 1 Korintus 12:12-31 ialah soal Ketuhanan Yang Maha Esa, meski tidak sepenuhnya hanya berisi tentang sila pertama Pancasila. Ketiga semangat yang dikobarkan Paulus inilah yang perlu untuk dihidupi dalam konteks masyarakat Indonesia yang pluralistis, terkhususnya bagi jemaat Allah di Indonesia sebagai kesatuan tubuh Kristus.



Refrensi:

1] Yudi Latif. Negara Paripurna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011. Halaman 110-115.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE