Perjuangan ‘Lady Gaga’ dan Kita, Sang Bejana Kosong dan Retak

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 25 September 2017
Momen the dark night of the soul menimbulkan rasa sakit yang tak dapat dijelaskannya. Puncak desolasi yang sangat mendalam juga dirasakan oleh Kristus sendiri, yaitu tepat di kayu salib.

Lady Gaga dan Perjuangan Imannya

Siapa yang tak mengenal sosok Lady Gaga? Seorang yang bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta adalah seorang penyanyi pop Amerika Serikat yang mendunia. Kontribusinya akan dunia musik tentu tidak diragukan. Berbagai prestasi yang ia hasilkan antara lain mendapatkan lima Grammy Awards dengan dua belas nominasi dan mendapatkan dua Guinness World Records. Penjualan kasetnya pun diperkirakan mencapai angka sekitar 64 juta rekaman. Tak heran, Majalah TIME dan Forbes memasukkan nama Gaga ke dalam daftar tahunan 100 "orang paling berpengaruh di dunia".

Di balik segudang prestasinya, ia juga dikenal sebagai artis yang penuh kontroversi. Beberapa karyanya menjadi perdebatan dan menimbulkan berbagai kritik karena dianggap melawan arus budaya. Berbagai pandangan kontra juga datang dari kaum religius, salah satu yang menjadi kritik kaum agamawan adalah adanya beberapa karyanya yang dianggap menghujat religi. Tak sedikit isu-isu negatif melekat pada dirinya, salah satunya Lady Gaga sering membawakan pesan ajaran sesat dalam karya-karyanya, bahkan ada kajian-kajian media yang menyebutkan Lady Gaga adalah seorang Illuminati, Penganut Satanic, anti-Christ, dll. Kontroversi inilah yang kemudian menyebabkan konser dia ditolak di beberapa negara konservatif, Indonesia salah satunya. Tentu kita masih mengingat ketika rencananya konsernya pada 03 Juni 2012 di Stadion Gelora Bung Karno mendapat penolakan keras dari Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).


blogs.wsj.com

18 September lalu, melalui akun Instagramnya, Lady Gaga menuangkan perjuangan imannya dalam menghadapi kesehatan fisik dan mental yang harus ia alami dalam caption dan sebuah foto yang menampilkan dirinya sedang berdoa rosario.


Lady Gaga, instagram.com

Dalam caption nya ia juga mengatakan bahwa “Bertahun-tahun saya mencari akar penyebabnya. Semuanya rumit dan sulit untuk dijelaskan, tapi kita mencoba untuk mencari tahu sampai ke akarnya.”

Dibalik segala kontroversi dan status negatif yang melekat pada dirinya, Lady Gaga tidak pernah merahasiakan imannya sebagai seorang Kristen Katolik. Bahkan, melalui Instagram pula, ia pernah memposting foto bersama seorang Pastor setelah mengikuti Misa dan mengatakan "Terima kasih Pastor Duffell untuk homili yang indah seperti biasanya dan makan siang di restoran pop saya. Saya begitu tergerak hari ini saat Anda berkata, "Ekaristi bukanlah hadiah untuk kesempurnaan, tapi makanan yang Tuhan berikan kepada kita."

The Dark Night of the Soul

Setiap hari, kita selalu disibukkan dengan berbagai hal yang tentunya menyita banyak waktu, baik urusan pekerjaan, tugas, dan aktivitas lainnya hingga tanpa sadar itu menjadi alasan munculnya rasa kekecewaan, kegalauan, sakit hati, dendam, ketidakberdayaan, dan perasaan tidak menyenangkan lainnya.

Para sahabat muda yang kekasih,

Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama! Ia harus dihadapkan pada sebuah tanggungan yang besar dan berat di Asia Kecil sehingga mereka sampai pada sebuah titik keputusasaan akan kehidupannya (2 Kor 1:8). Karena keputusasaannya itu, Paulus bahkan merasa akhir hidupnya sudah tiba (2 Kor: 9). Bunda Teresa juga pernah mengalami suatu titik desolasi, dimana ia mengalami the dark night of the soul; di satu sisi ia mengalami kerinduan yang tak terputus akan Tuhan, namun di sisi lain, ia mengalami kegelapan dimana seolah-olah Tuhan tidak hadir dalam jiwanya. Baginya, the dark night of the soul menimbulkan rasa sakit yang tak dapat dijelaskannya. Puncak desolasi yang sangat mendalam dirasakan oleh Kristus sendiri ketika di kayu salib. Teriakan “Allah-Ku, ya Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34) adalah sebuah puncak desolusi kemanusiaan Yesus dimana Ia betul-betul merasakan penderitaan dan kesakitan yang amat sangat ketika harus menanggung dosa dunia.


Shutterstock.com

Bejana Kosong dan Retak

Setiap dari kita bisa saja mengalami pengalaman yang terkadang hanya menghasilkan kekecewaan, kegalauan, sakit hati, dendam, ketidakberdayaan dan perasaan tidak menyenangkan lainnya. Itu adalah hal yang lumrah! Lihatlah kisah-kisah di atas dimana Bunda Teresa, Paulus bahkan Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Tetapi, yang perlu menjadi refleksi adalah bagaimana sikap kita dalam memandang setiap perasaan tak berdaya dan kecewa itu?

Teringat akan kisah “duri dalam daging” yang dialami Paulus (2 Kor 12:7-10) dimana dalam kisah itu kita dapat belajar bahwa Allah memang mengizinkan pencobaan yang hebat terjadi dalam diri kita sebab dalam kelemahan, kuasa-Nya menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Dari ayat itu kita juga meyakini bahwa kasih karunia Allah tidak terbatas pada kekosongan dan keretakan diri kita.

Kedua, peristiwa desolasi dan the dark night of the soul yang kita alami sebenarnya ingin menguji ketulusan iman kita. Kita dihadapkan akan dua pilihan: pertama, kita akan pasif dan tak berdaya dalam masa desolasi atau kedua, masa desolasi menjadi masa dimana kita mengoreksi diri, refleksi dan meditasi sehingga tercipta ketegaran dan keteguhan (konsolasi) akan segala tantangan dalam hidup kita, terlebih, kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kita dapat mencontoh Bunda Teresa, Paulus dan Yesus dimana mereka bertumbuh dalam situasi desolasi sehingga pada akhirnya, mereka mendapatkan penghiburan Ilahi dan menjadi berkat bagi orang lain. Paulus yang sebelumnya putus asa, kemudian menjadi berani untuk menyebaran ajaran kekristenan. Bunda Teresa yang sebelumnya sering mengalami the dark night of the soul, Tuhan pakai dirinya untuk mengabdi kepada orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat sampai akhirnya ia mendapatkan Penghargaan Nobel Dunia untuk Perdamaian dan saat ini, ia bergelar santa (orang kudus). Perkataan “Allah-Ku, ya Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” juga semakin mengkonfirmasi kesetiaan Yesus untuk menebus dosa dunia sehingga terwujudlah karya penebusan umat manusia.


Shutterstock.com

Para sahabat muda yang kekasih,

Tertulis dalam 2 Korintus 4:7 bahwa “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Yang menarik, kata “bejana” (skeuos) dalam 2 Kor 4:7 juga digunakan dalam Kis 9:15 ketika Paulus ditetapkan dan diutus sebagai “alat” (skeuos) untuk menyebarkan ajaran kekristenan.

Maka, “Marilah datang kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Mat 11:28) dan biarlah kita yang adalah bejana tanah liat yang kosong, retak dan murah harganya mengalami persekutuan mesra bersama Sang Penjunan Agung itu. Dialah yang akan bekerja memenuhi setiap bejana yang kosong dan mengokohkan setiap bejana yang retak sehingga pada akhirnya, bejana itu kembali penuh, kokoh dan siap untuk digunakan orang banyak.


Shutterstock.com

Doa:

Tuhan, kepada-Mu aku tidak mohon keajaiban atau penglihatan luar biasa. Tetapi ajarkanlah kepadaku seni menjalani langkah-langkah kecil dan sederhana. Buat aku merasa aman dan pasti dalam saat-saat hidup yang harus kulalui. Curahkanlah kepadaku pengetahuan yang jernih dan terang, bahwa kesulitan, kegagalan, juga kemunduran adalah bagian tak terelakkan dalam hidupku dan aku harus menerimanya. Amin.
Adpt. Günter putz, Im Gleichgewicht Würzburg (hlm. 58)

 

 

Selamat berjuang,
Ad Maiorem Dei Gloriam!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE