PenjagaanNya Tidak Selalu Tentang Apa yang Manusia Inginkan Atau Pikirkan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 November 2017
Kerap kali Tuhan mengungkapkan penjagaan-Nya melalui hal-hal yang tidak diketahui dan tidak dipahami manusia, tetapi percayalah bahwa rancangan penjagaan-Nya sungguh lebih baik.

Suatu kisah, ada seorang Pendeta yang sudah merencanakan semuanya dengan baik untuk berkhotbah dan memimpin kebaktian di sebuah Gereja pada hari Minggu. Segala sesuatu yang sebelumnya sudah disiapkan secara matang oleh sang Pendeta akhirnya hancur ketika dirinya harus mendapati sang istri, secara mendadak, jatuh sakit. Sang Pendeta dihadapi pilihan yang dilematis, pertama, ia meninggalkan sang istri dan pergi berkhotbah atau membatalkan khotbahnya di Gereja dan memilih untuk merawat istrinya.

Melihat ayahnya yang dalam kondisi bimbang, anak laki-laki mereka yang berusia sembilan tahun berkata kepada ayahnya, "Ayah, bukankah ayah berpikir bahwa jika Tuhan ingin ayah berkhotbah hari ini, Tuhan akan menjaga Ibu saat ayah pergi!". Kata-kata lembut dari anaknya yang berusia sembilan tahun itu tampaknya meneguhkan hatinya dan pada akhirnya, sang ayah memutuskan untuk pergi berkhotbah dan memimpin kebaktian.


Pexels.com

Kidung tersebut semakin terkenal dan akhirnya diterbitkan pada tahun 1905 dalam "Songs of Redemption". Kita pun sampai saat ini bisa menikmati kidung tersebut dalam Kidung Jemaat 438 yang berjudul “Apapun Juga Menimpamu (God Will Take Care of You)” karya sang ayah dan pendeta, Walter Stillman Martin dan sang ibu, Civilla Durfee Martin.

Apapun juga menimpamu,
Tuhan menjagamu.
Naungan kasihNya pelindungmu,
Tuhan menjagamu.

Refrein:
Tuhan menjagamu waktu tenang atau tegang,
Ia menjagamu, Tuhan menjagamu.

TUHAN, Penjaga Israel

Mazmur 121 tentunya menjadi perikop yang tidak asing bagi kita, terlebih bagi jemaat Gereja Kristen Indonesia. Ayatnya yang kedua (Mzm 121:2, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi”) diadaptasi menjadi kalimat votum dalam liturgi kebaktian Gereja Kristen Indonesia (band. Mzm 124:8). Ayat 5-8 juga kerap kali dipilih untuk diucapkan oleh pelayan firman (pendeta) sebagai sebuah berkat dalam kebaktian dengan mengucapkannya sembari mengangkat kedua tangannya.

Mazmur 121 menjadi salah satu dari lima belas perikop yang dijadikan Nyanyian Ziarah. Dalam bahasa aslinya disebut Shir Hama'aloth, artinya "nyanyian pendakian". Hal ini lahir dari kebiasaan orang Yahudi yang menyanyikan Mazmur-Mazmur ini ketika menjalani kehidupan peziarahannya dengan mendaki ke Yerusalem dan berbagai tempat lainnya. Mazmur inilah yang kemudian menjadi sumber kekuatan dan pengharapan bagi mereka, karena mereka percaya, walaupun harus melalui perjalanan jauh, melewati gurun, padang pasir, hutan belantara, cuaca ekstrem dan ancaman dari binatang buas dalam perjalanan perziarahannya, sang Penjaga Israel itu akan terus menjaga mereka (lih. Mzm 121:3-8).

Dalam perikop ini kita bisa melihat bahwa: pertama, TUHAN adalah Penjaga Israel yang menyejarah. Hal ini menunjukkan kepastian Allah untuk menjaga dan memelihara umat-Nya sepanjang sejarah. Rm. Armada Riyanto dalam bukunya “Menjadi-Mencintai” menuliskan bahwa dalam sejarah, Allah tidak mungkin dipikirkan hanya seolah garis “start” dan kemudian berpindah ke garis “finish”. Allah pastilah bukan “garis”, melainkan Ia hadir sebagai penyusun sejarah sekaligus menyejarah dalam sejarah manusia.


Photo by Alfred Aloushy on Unsplash

Kedua, TUHAN adalah Penjaga Israel yang kekal. Mazmur 121 mencatat “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel” (ay.4). ayat ini menekankan kepastian dan kekekalan Allah dalam menjaga umat-Nya. Kepastian dan kekekalan Allah untuk menjaga kita sampai selama-lamanya juga tertuang dalam ayat 8, “TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

TUHAN, Penjaga Israel yang menyejarah dan kekal menunjukkan bahwa Ia ikut serta dan terlibat dalam segala hal yang telah diciptakan-Nya karena Ia tinggal di dunia serta menopangnya. Campur tangan dan pemeliharaan Allah itulah yang kemudian disebut sebagai Providentia Dei (penyelenggaraan ilahi). Kita dapat melihat konsistensi Allah dalam menjaga dan memelihara seluruh ciptaan-Nya ketika Allah mencipta dan memelihara Adam dan Hawa. Berlanjut ketika Ia juga yang memanggil Abraham untuk memelihara umat-Nya. Allah yang sama pula yang membebaskan umat pilihan-Nya keluar dari Mesir menju tanah perjanjian. Dalam Perjanjian Baru juga terlihat konsistensi Allah dalam memelihara para Rasul dan orang-orang percaya. Hingga saat ini tentunya kita yakin dan percaya bahwa Tuhan Allah memelihara kehidupan kita.


Photo by Manuel Schinner on Unsplash

Respon Manusia

Dewasa ini, tentu banyak diantara kita yang justru mempertanyakan dan meragukan penjagaan Tuhan sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita seperti: apakah Tuhan benar-benar menjagaku? Dan kalau Tuhan menjagaku, mengapa diriku selalu dirundung penderitaan?

Para rekan muda yang terkasih,

Pertama, kerap kali Tuhan mengungkapkan penjagaan-Nya melalui hal-hal yang tidak diketahui dan tidak dipahami manusia, tetapi percayalah bahwa rancangan penjagaan-Nya sungguh lebih baik. Mungkin Bangsa Israel juga akan bertanya dimana kah penjagaan Allah ketika mereka harus mengalami perbudakan di Mesir selama empat ratus tahun. Mungkin pertanyaan yang sama diajukan Abraham dan Sara yang harus menantikan keturunannya dengan waktu yang sangat lama, yakni selama dua puluh lima tahun ataupun pertanyaan yang sama juga diajukan Nuh ketika ia harus membuat bahtera dan menunggu air bah dengan sangat lama, yakni selama seratus dua puluh tahun. Lihat lah bagaimana Tuhan menunda (delay) dengan begitu lama. Bahkan, Ia juga menolak (denied) doa yang disampaikan Yesus (dalam kenosisnya) di Taman Getsemani.

Begitu juga dengan kita, terkadang kita kecewa dan bahkan meragukan penjagaan Tuhan karena apa yang kita harapkan dan nanti-nantikan tak kunjung datang. Berharap dengan sabar dan percaya kepada Tuhan menjadi salah satu kuncinya. Bentuk penjagaan Tuhan memang tak selalu manis untuk kita, tetapi percayalah bahwa rancangan-Nya pasti lebih baik. Pengalaman-pengalaman diatas membuktikan bahwa Tuhan menjaga mereka dengan menunda (delay) dan bahkan menolak (denied) berbagai harapan dan permohonan. Hal demikian pun juga bisa terjadi dengan kita entah dengan bentuk yang sama ataupun berbeda. Hal ini terjadi karena Ia menjaga kita melalui hal-hal yang tidak kita diketahui dan pahami.

Kedua, Tuhan juga bekerja melalui hal-hal yang sederhana. Terkadang kita terlalu sibuk dan terhanyut dengan hal-hal yang besar sehingga kita tidak dapat merasakan pemeliharaan dan penjagaan Allah melalui hal-hal yang kecil dan sederhana. Kita dapat belajar dari kisah penciptaan kidung “Apapun Juga Menimpamu (God Will Take Care of You)” dimana Allah bekerja melalui perkataan anak laki-laki mereka yang berusia sembilan tahun sampai pada tercipta kidung yang indah itu.Allah yang bekerja dan menjaga kita melalui hal-hal yang sederhana sebenarnya mengajak kita untuk senantiasa menemukan Allah di dalam segala (finding God in all things). Sarana utama untuk menemukan Allah di dalam segala yakni memiliki jiwa dan hati yang murni, suci dan bersih dari egoisme serta kokoh dalam kebebasan batin (inner freedom).


Photo by rawpixel.com on Unsplash

Selamat berjuang,

Ad Maiorem Dei Gloriam!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE