Pause and Pondering: Berhenti dan Berpikir Secara Mendalam Tentang Kehendak Allah

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 20 Juni 2017
Sebuah pelengkap bahwa pause secara aktif diikuti dengan pondering, berhenti untuk berpikir secara mendalam tentang apa yang telah Allah lukiskan dalam hidup kita dan meminta Allah untuk menyatakan kepada kita ke mana dan bagaimana kita melangkah

Betapa sering hidup kita menjadi bising dan berisik dengan berbagai hal yang menjadi keseharian kita, kuliah, bekerja, dikejar deadline tugas, nongkrong bareng teman, bertengkar dan bersahabat dengan keluarga, atau bahkan pelayanan. Terkadang, manusia menjadi seperti robot yang mengerjakan ini itu dengan beban pekerjaan yang cukup besar dan lupa dengan kata istirahat, bahkan lupa pada esensi yang sedang dikerjakan saking banyaknya kegiatan yang harus sesegara mungkin diselesaikan.

Pause sebagai tema bulan ini saya artikan sebagai istirahat dan berpikir sejenak tentang segala hal yang begitu cepat terjadi di luar diri kita dan tentang bagaimana kita bertindak saat ini. Pada zaman yang serba cepat dan teknologi super canggih, melambat bahkan berhenti menjadi tidak begitu relevan. Keluhan 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu bukanlah waktu yang cukup, sering digaungkan pada masayarakat modern yang melihat ada begitu banyak hal yang harus selesai untuk mencapai target.

Mengapa butuh berhenti?

Secara mudah dan logika yang langsung masuk akal, berhenti sejenak membuat kita dapat mengisi kembali tenaga yang telah keluar. Saya membayangkan pause seperti tanda rest pada partitur musik. Para pemain alat musik tiup secara cepat dapat merasakan ini. Jika dalam lagu yang akan dimainkan tidak ada tanda rest dan dimainkan dalam tempo yang cepat, pasti ia akan menyerah dan tidak mau meniupkan instrumentnya memainkan lagu tersebut karena tidak ada waktu untuk bernapas dan beristirahat sekian detik. Ilustrasi lain adalah pada tidur manusia. Sebagai manusia kita butuh tidur setelah beraktifitas. Setelah tidur, badan akan lebih segar untuk melanjutkan aktifitas berikutnya.

Pause juga membuat kita lebih memahami segala sesuatu. Illustrasi mudahnya pause seperti tanda koma dalam sebuah kalimat. Tanda koma memberikan suatu dinamika pada saat membaca di mana harus berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan bacaan. Jika tidak ada tanda koma, kalimat sulit dimengerti. Namun, jika tanda koma ditaruh di tempat yang tidak semestinya, kalimat juga tidak dapat dipahami. Berhenti sejenak menjadi penting, tapi tahu di mana kita harus berhenti sejenak dan berapa lama kita harus berhenti.

Alkitab juga mengajarkan kepada kita untuk dapat berhenti sejenak, bahkan Yesus juga melakukannya di tengah kesibukannya yang begitu padat. Markus 1: 21-39 menceritakan aktifitas Yesus dimulai pada hari Sabat ia mengajar (ayat 21) dan mengusir setan (ayat 25-26) dilanjutkan dengan menyembuhkan ibu mertua Petrus (ayat 31). Pelayanannya tidak berhenti sampai di situ, sore hari ia menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan (ayat 32-34). Orang yang datang tidak hanya satu atau dua orang, tapi dikatakan di ayat 33 bahwa berkerumun seluruh penduduk di depan pintu kota. Dengan orang sebanyak itu, kira-kira pukul berapa Yesus selesai dengan pelayanannya dan beristirahat?

Apa yang telah Yesus lakukan pasti akan diminta oleh orang-orang lain yang ingin dan belum menerima mujizat kesembuhan dari Yesus. Dengan keadaan yang lelah, mudah saja baginya untuk tidur dan besoknya kembali pelayanan, tapi Ia mengambil waktu untuk pause. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (ayat 35). Namun, para murid masih bising dengan kegiatan mereka (ayat 37). Secara paralel, Lukas menulis hal yang sama pada pasal 4: 42 dengan keterangan waktu pada siang hari. Responnya pun sama, bahkan Lukas menuliskan bahwa orang-orang berusaha menahannya agar ia tidak pergi (Lukas 4: 42).

Tidak hanya Yesus, Musa, Daniel, Ester, dan beberapa tokoh yang lain perlu waktu diam sejenak untuk dapat berpikir, merenung, dan yang terutama untuk mendengarkan Allah. Bahkan Daud dalam Mazmur yang ia tulis sering ada Sela, yang artinya diam dan merenung sebentar.

Pause bukan sekedar break dari segala rutinitas dan mengganti dengan aktifitas yang lain. Bukan pula sekedar keluar sejenak dari pekerjaan atau sekolah untuk pelayanan atau sekedar beristirahat dari padatnya rutinitas. Sebuah pelengkap bahwa pause secara aktif diikuti dengan pondering, berhenti untuk berpikir secara mendalam tentang apa yang telah Allah lukiskan dalam hidup kita dan meminta Allah untuk menyatakan kepada kita ke mana dan bagaimana kita melangkah. Sehari-hari kita dapat melakukannya dengan saat teduh, sebulan sekali mengkhususkan waktu seharian untuk hanya berdoa dan membaca firman sendiri saja.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE