Pasca TRP GKI 2017: Berubahlah dan Bersukacitalah Karena Hidup Itu Menyala!

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 18 Mei 2017
God loves and He invites us to love in return

Filsuf Spanyol, José Ortega y Gasset pernah mengungkapkan bahwa manusia merupakan “ada-belum-penuh”. Seringkali, kalimat ini hanya diidentikkan dengan satuan kuantitas dan realitas kekurangan. Lebih dari itu, Ortega y Gasset sebenarnya ingin menunjukkan sebuah kreativitas dalam kehidupan manusia. “ada-belum-penuh”menujukkan bahwa di dalam diri manusia ada sebuah “ruang kosong” dimana manusia dapat membiarkan diri untuk terbuka kepada orang lain, memberi diri kepada orang lain, dan saling menyempurnakan satu sama lain. Ketiga hal itu membuat manusia menjadi lebih sempurna, karena kodrat manusia adalah homo socius.

Bersyukur bahwa Gereja Kristen Indonesia (GKI) mewadahi hal itu. Misalnya dengan acara Temu Raya Pemuda yang menjadi ajang perjumpaan pemuda pemudi GKI dari seluruh Indonesia untuk saling mengenal dan menginspirasi. Dengan tema yang dikutip dari filosofi Jawa “urip iku urup!” yang berarti “hidup itu menyala!” kami, sebagai peserta diajak untuk memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.

Bagi saya, secara personal (dan saya harap para rekan juga merasakan hal yang sama), TRP GKI 2017 membuat saya mengevaluasi dan memeriksa batin (examen conscientiae) sehingga muncul sebuah titik kesadaran untuk melihat sejauh mana saya menyadari kehadiran Allah sebagai seorang pemuda GKI dan kehadiran Allah dalam setiap pelayanan yang saya lakukan. Timbul juga sebuah kesadaran tentang pentingnya panggilan sebagai orang percaya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan pada akhirnya juga dibutuhkantransformasi atau perubahan (contemplation in action) atas setiap perenungan batik yang kita lakukan.

Perubahan (transformasi) adalah suatu sikap hidup yang tak tertahankan. Bahkan seorang Sastrawan Indonesia, Ajip Rosidi dalam puisinya “Tiada yang Lebih Aman” menggambarkan perubahan adalah suatu kondisi yang tidak aman, tidak nikmat, sesuatu yang berat, yang gamang dan tidak menyenangkan. Kata “berubah” akan semakin berat dilakukan apabila itu berkaitan dengan zona nyaman yang kita rasakan selama ini. Di satu sisi, perubahan juga merupakan hal yang lumrah. Lihat saja detik pada jam yang selalu bergerak, atau kondisi cuaca di musim pancaroba. Tetapi, satu kepastian yang dapat kita simpulkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang telah dan harus terus dilakukan (semper reformanda est).

Ketika mengikuti TRP, saya merasakan bahwa acara ini menumbuhkan kelanjutan pertumbuhan spiritual saya sekaligus menimbulkan keresahan sebagai seorang pemuda GKI dan warga negara Indonesia. Saya juga beranggapan bahwa momen TRP ini menjadi start point untuk para agen perubahan bergerak.

Walau demikian, pergerakan perlu diarahkan dengan tepat. “God loves and he invites us to love in return” pernyataan dari David L. Fleming, SJ ini mengingatkan kita bahwa perubahan itu harus diawali dengan menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah pribadi yang dicintai dan mencintai Tuhan. Perubahan yang berpusat pada Kristus, singkatnya.

Selain itu, perubahan juga perlu didasari dari kerelaan hati Allah sebagai pemberi. As we know and believe, Allah selalu bersama dengan kita (immanuel) sekalipun kita adalah pendosa. Terungkap suatu kerelaan hati Allah untuk senantiasa member rahmat dan mengampuni kita, dari sanalah dapat tumbuh optimisme serta kerinduan yang tulus untuk mau ‘memberi diri’ dalam setiap karya dan pelayanan kita.

Kembali ke slogan “urip iku urup!”, ijinkan saya merangkum dan membagi beberapa perenungan pesan sepulang dari TRP:

1. Non abbiate paura! (Janganlah takut!) dan be courageous!
Kita mungkin kerap takut melakukan pelayanan dengan alasan berbagai hal, terutama melihat kondisi bangsa yang seperti ini. Selain itu, harus diakui kadang kita dipandang sebelah mata. Maka mari memulai langkah dengan satu pesan: “jangan takut!

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
1 Timotius 4:12

Rasul Paulus berani menempatkan seorang muda seperti Timotius untuk menjadi pelayanNya. Yakub dan anak-anaknya juga terselamatkan dari ancaman kelaparan karena pertolongan orang muda, yaitu Yusuf. Bahkan Yesus sendiri melakukan puncak karya-Nya di usia yang tergolong muda yaitu tiga puluh tiga tahun,

Maka, kaum muda, non abbiate paura!

2. Hidup itu menyala (urip iku urup) karena diterangi oleh Kristus.
Sebagian dari syair lagu Taize yang berjudul “Jesus le Christ” tertulis, “Yesus, terangMu pelita hatiku. Jangan keg’lapan menguasaiku. Yesus, terangMu pelita hatiku. Biar selalu kusambut cintaMu!”. Ya, kita menyala karena Kristuslah Sang Terang itu. Maka dengan semangat itu juga, kita membagikan terang kepada orang lain dan bahkan di tempat yang gelap dan kecil sekalipun. (Seperti kutipan lirik pada NKB 212, “Brighten the corner where you are!”)

3. Be joyful and living the Gospel!
Diawali dengan semangat persatuan dalam Temu Raya Pemuda 2017, mari kita mulai melakukan perubahan dengan sikap sukacita (joyful). Di tengah keanekaragaman masyarakat Indonesia yang multikultur, besar harapan untuk pemuda GKI dapat memberi manfaat bagi Gereja, orang lain dan negara dengan terus mengabarkan sukacita injil (evagelii gaudium). Mari kita mulai perubahan ini dengan pergi dan mengobarkan dunia, Ite Inflammate Omnia!

“Engkau lilin-lilin kecil Sanggupkah kau mengganti Sanggupkah kau memberi Seberkas cahaya? Engkau lilin-lilin kecil Sanggupkah kau berpijar Sanggupkah kau menyengat Seisi dunia?”

Semoga, kutipan lirik lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya Chrisye ini semakin menyemangati kita, sebagai pemuda GKI untuk menjadi menjadi cahaya serta garam dan terang. Dimanapun. Kapanpun. Amin.

Ad Maiorem Dei Gloriam!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE