Painkiller versus Love Grower

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Agustus 2018
Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people. Karl Marx

Sejak menemukan opium dari bunga poppy, orang mulai bermimpi untuk hidup lepas dari rasa sakit. Penggunaan opium menjadi sangat populer pada masa-masa perang besar untuk mengurangi penderitaan para prajurit yang terluka atau membantu meringankan rasa sakit pada saat pembedahan darurat. Rasa sakit sendiri sebenarnya sedang menyatakan hadirnya penderitaan dalam hidup manusia, walaupun penderitaan itu sendiri tak selalu disertai kesakitan spesifik. Misalnya penderitaan akibat kebosanan atau hampanya perasaan. Morfin yang terkandung di dalam opium ternyata tidak hanya menghilangkan rasa sakit, namun juga memberikan perasaan nikmat seperti bermimpi. Dari sinilah kata morfin berasal, yaitu dari Morpheus, dewa mimpi dalam mitologi Yunani. Sensasi kenikmatan setengah bermimpi ini membuai para penggunanya untuk melarikan diri dari kenyataan hidup dan menjadi alat pelarian yang sempurna dari segala macam penderitaan.



Photo by GoaShape on Unsplash


Padahal rasa sakit bukan hanya merepresentasikan penderitaan, tapi juga sebagai signal bahwa anggota tubuh yang sakit itu masih ada dan berfungsi. Seringkali kita tidak menyadari kita memiliki usus buntu sampai suatu hari bagian itu meradang, bukan? Atau bahkan kita tidak menyadari fungsi jari kelingking kita sampai kelingking kita terluka. Mungkin painkiller melenyapkan rasa sakit sekaligus juga mengurangi fungsi dari anggota tubuh yang sakit. Jika yang sakit itu fisiknya, indera perasa akan kehilangan fungsi untuk mendeteksi area yang sakit ketika painkiller digunakan. Bagaimana jika yang sakit psikisnya?

Dalam buku The Beautiful Risk (2001), teolog James Olthuis menuliskan bahwa manusia berusaha untuk tetap bekerja dan berfungsi secara normal dengan berbagai cara ketika psikisnya tersakiti. Dalam praktiknya sebagai seorang psikoterapis Kristen, beliau bertemu dengan banyak orang yang berusaha menenggelamkan diri dalam pekerjaannya untuk lari dari sakit psikisnya, sementara beberapa orang lainnya menutup dirinya rapat-rapat terhadap relasi yang personal, atau, yang paling sering terjadi, kecanduan berbagai jenis substansi dan keranjingan aktivitas tertentu termasuk kecanduan judi, gaming, bahkan kecanduan ibadah. Maka tidak heran kalau Karl Marx mengklaim, bahwa agama adalah opium dari massa.

Semua contoh di atas adalah painkiller yang kita ciptakan tanpa memerlukan substansi kimiawi dari luar tubuh kita dalam membantu kita melupakan penderitaan dan rasa sakit di dalam hati. Orang-orang yang tersakiti ini akan sulit untuk membuka hatinya untuk mencintai manusia lain. Segala macam painkiller psikologis tersebut malahan akan membuat mereka melupakan bagian diri mereka yang kehadirannya sedang ditandai oleh rasa semacam nyeri yang berdenyut.



Photo by Brian Patrick Tagalog on Unsplash


Memeluk Penderitaan


Penderitaan dan kesakitan yang menyertainya akan selalu ada di dalam dunia ini. Bagaimana kita menyikapinya? Teolog Protestan asal Kroatia, Miroslav Volf, yang negerinya dikoyak genosida, menggunakan simbol "pelukan" dalam upaya-upaya rekonsiliasi di negara-negara yang dilanda konflik berdarah. Volf berharap seorang Kristen dapat memeluk mereka yang sudah menyakiti dirinya berdasarkan keyakinannya bahwa semakin gigih kita melawan ketidakadilan yang kita derita, semakin buta kita terhadap ketidakadilan yang kita timbulkan.

Bagi kebanyakan orang, apa yang diyakini Volf terlalu sulit untuk dilakukan, bahkan bagi seorang nabi Tuhan. Di dalam Alkitab tertulis kisah tentang seorang nabi, Yunus namanya, yang meradang hatinya ketika diharuskan Tuhan untuk ‘memeluk’ musuhnya, musuh Tuhannya, musuh bangsanya, orang-orang Asyur yang tinggal di kota Niniwe. Penduduk kota ini layak dijadikan musuh umat manusia segala zaman karena, konon, kekejaman mereka dalam menyiksa musuh-musuh mereka melebihi kekejaman Nazi Jerman terhadap orang Yahudi. Salah satu contohnya adalah kegemaran tentara Asyur untuk bertaruh atas jenis kelamin anak di dalam kandungan seorang ibu yang hamil tua, dan membuktikan tebakannya dengan cara merobek perut wanita itu hidup-hidup untuk mengeluarkan janinnya.

Nabi Yunus diutus ke tengah orang-orang bejat ini dengan berita penghukuman sekaligus kesempatan pertobatan dari Allah yang Maha Kuasa. Yunus tahu bahwa bangsa ini —kelak akan menjadi sumber bencana bagi bangsanya— akan mungkin sekali bertobat dan diampuni dosanya oleh Tuhannya, Allah yang Rahmani. Ini sama saja dengan menyuruhnya untuk memeluk musuhnya, menggendong musuhnya untuk keluar dari kobaran api neraka, yang layak membakar mereka.

Tepat seperti perkiraannya, mereka bertobat dan dibebaskan dari hukuman mati dari Tuhan. Maka sakitlah hati Yunus. Sakit sesakit-sakitnya. Dia ngambek dan berseru minta mati karena sakit hatinya melihat musuhnya dibiarkan hidup.



Photo by Craig Whitehead on Unsplash


Tuhan, secara unik, memberikan semacam painkiller bagi sakit hatinya, yaitu sejenis tanaman—tidak mengandung morfin—sulur-suluran yang menghasilkan minyak jarak. Tanaman ini tumbuh dengan cepat, berdaun lebar dan memberikan keteduhan pada hati Yunus yang sedang 'panas' di tengah teriknya matahari. Hati Yunus yang tadinya penuh kebencian dan kehilangan kemampuan mengasihi, perlahan mulai terobati dan tersentuh. Untuk sementara dia lupa akan sakit hatinya. Tanpa disadarinya, tumbuhlah afeksi atau rasa sayang terhadap pohon jarak. Tapi Tuhan membiarkan Yunus menikmati painkiller itu hanya sekejap. Lalu didatangkannya ulat untuk menggereknya sehingga layu. Seiring dengan layunya pohon itu, panas terik angin timur terasa tak tertahankan sengatannya dan rasa sakit di hatinya kembali terasa. Rasa kasih terhadap pohon jarak ini justru menjadi nyata ketika hati Yunus kembali sakit. Rasa sakit secara psikis akibat matinya pohon itu menjadi bukti nyata afeksi yang sedang bersemi di hati Yunus terhadap pohon itu, dan pada titik inilah Tuhan menyadarkan Yunus akan kemampuannya untuk mencintai penduduk Niniwe yang adalah manusia-manusia yang jauh lebih bernilai dibanding pohon jarak. Pada bagian ini pula Tuhan menunjukkan kasihNya yang universal, bagi semua bangsa dan bagi semua makhluk, termasuk ternak peliharaan orang Niniwe. Di dalam kasihNya yang universal, Tuhan menyentuh hati yang luka, lalu menumbuhkan cinta yang baru yang juga tidak lepas dari rasa sakit.



Photo by Erico Marcelino on Unsplash


Dengan berefleksi atas kedatangan Yesus ke dunia dua ribu tahun lalu yang tidak serta merta menghapus seluruh penyakit dan kematian atau penderitaan di dunia ini, seorang Kristen seharusnya bersedia untuk memeluk rasa sakit di dalam pengharapan atas kasih Kristus yang universal, yang berdetak lebih kencang dan tumbuh lebih subur di dalam penderitaan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE