Negara, Gereja, dan Anak Muda

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 10 April 2018
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian “setuju”

Lirik di atas ialah penggalan lagu dari Iwan Fals yang berjudul Surat Untuk Wakil Rakyat, sebuah lagu yang seharusnya membuat para wakil rakyat tersentil dan sadar akan tugasnya yang menampung dan melaksanakan aspirasi rakyat. Sayang, saya meragu apakah lagu tersebut akan terdengar lagi dan apakah akan ada lagu-lagu baru yang tercipta untuk menegur kinerja wakil rakyat terlebih setelah disahkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD atau yang disingkat UU MD3.

Pasal 122 huruf k dalam revisi UU MD3 cukup menarik perhatian, dimana Mahkamah Kehormatan Dewan kini memiliki tugas untuk mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang, perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan DPR dan anggota DPR. Adakah yang dimaksud dalam aturan ini bahwa wakil rakyat menjadi lembaga yang anti kritik, tidak menerima saran dan kritik dari rakyat maupun para pakar yang lain jika memang terbukti melalaikan tugas dan tangggung jawabnya? Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia memberikan penilaian buruk atas kinerja DPR pada tahun 2017 karena kasus korupsi sebagian anggotanya, kepemimpinan yang gagal, serta target pengesahan rancangan undang-undang yang sangat sedikit. Kinerja buruk anggota DPR pada tahun lalu tersebut diprediksi tidak akan berubah pada tahun 2018 maupun 2019 dikarenakan kesibukan untuk mempersiapkan Pilkada serentak dan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Jika kinerja Wakil Rakyat buruk dan tidak mau mendengar suara rakyat, maka kepada siapa rakyat Indonesia harus berharap?


Photo by davide ragusa on Unsplash

Gereja dan Superioritas Pejabatnya

Seandainya Martin Luther, yang 500 tahun lalu menentang otoritas Gereja Katolik Roma dengan harapan adanya perubahan yang baik pada gereja, masih hidup hingga masa kini, maka mungkin ia akan sedih melihat realita pejabat gereja masa kini yang berlomba-lomba menjadi superior yang otoriter bagi umatnya. Pejabat gerejawi yang seharusnya menunjukkan praktek pelayanan kasih kepada sesama yang berkekurangan, justru terus menerus mempersuasi umat untuk memberi banyak persembahan guna pembangunan fasilitas yang berupa gereja megah, mobil dan rumah mewah bagi pendeta tanpa peduli terhadap kondisi perekonomian umat. Superioritas tak hanya ditunjukkan dalam bentuk jarak status sosial pejabat gereja dan umat, tetapi juga terjadi pada internal pejabat gerejawi yang didasarkan pada senioritas jam terbang pelayanan. Tak ayal pejabat gereja yang senior memaksa pendapatnya yang diutamakan dari pejabat gereja lain yang lebih muda, dan banyak pejabat gereja pun juga menuntut umat untuk dilayani oleh umat, padahal semestinya pejabat gereja lah yang melayani umat.

Ketika wakil rakyat terkesan tidak ingin mendengar suara rakyat maupun pejabat gereja yang lebih peduli terhadap jabatan dan kehormatan mereka sendiri, kita cenderung berpikir bahwa tidak ada harapan di dunia ini. Seolah ayat Matius 23: 11 “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” menjadi kurang relevan lagi dengan kondisi masa kini. Bagaimana tidak, mereka yang kita angkat dan teguhkan baik menjadi wakil rakyat maupun gerejawi justru tidak melayani rakyat maupun umat Tuhan dengan bijak. Lantas apa yang harus dilakukan oleh anak muda?

Sebagian anak muda bisa jadi berpikir, ikut atau tidaknya mereka dalam pemilu tidak akan banyak mengubah kondisi negara yang tetap kacau. Mungkin juga ada yang berasumsi bahwa aktif tidaknya anak muda dalam kegiatan maupun organisasi gereja tidak akan membawa perubahan signifikan pada gereja. Kalau pun ikut aktif, anak muda lebih banyak diperdaya oleh pejabat gereja dan begitu berbuat kesalahan sedikit lantas dihujat. Dampaknya, tak sedikit anak muda yang akhirnya acuh, menghindar untuk ikut berpartisipasi dalam politik di negara maupun aktif di kegiatan gereja. Jika anak muda meninggalkan gereja dan menghiraukan negara, lantas siapakah yang akan membawa perubahan?


Photo by Jason Wong on Unsplash

1 Timotius 4: 12 – Pesan Paulus bagi Pemuda Kristen

Terdapat sosok dalam iman Kristen yang bisa menjadi inspirasi bagi banyak anak muda dalam merespon lingkungan yang memerlukan perubahan, yaitu Timotius. Ia beserta ibu dan neneknya mengenal Yesus lewat pemberitaan yang diberikan Paulus dan Timotius pun memiliki keprihatinan pada kesejahteraan gereja-gereja, terlebih di wilayah Efesus kala itu. Dalam permasalahan yang dihadapi oleh jemaat Efesus, Rasul Paulus memberikan pesan kepada Timotius, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Pesan tersebut diberikan agar Timotius menjadi anak muda yang kuat menghadapi situasi banyaknya pengajar sesat dan penyimpangan dari ajaran Firman Tuhan, dengan cara menjadi teladan melalui hidup secara keseluruhan. Hal yang sama juga tertuju bagi anak muda Kristen saat ini, agar kita benar-benar menunjukkan kualitas hidup Kristiani dan meneladankannya kepada lingkungan kita berada, terlebih dengan tujuan memperbarui gereja dan juga Indonesia.

We are The Youth of Nation

Generasi tua akan segera gugur bak daun yang berjatuhan di musim kemarau, namun generasi muda merupakan tunas yang akan membawa kehidupan baru. Anak muda memiliki mimpi yang besar terhadap Indonesia, anak muda juga mempunyai harapan yang indah bagi pergerakan gereja untuk sesama, namun semua akan sia-sia tanpa dilakukan. Sebuah kutipan dari Tan Malaka, “Berpikir Besar kemudian Bertindak” sekiranya bermakna bagi kita agar bukan hanya sekedar memiliki konsep-konsep idealisme bagi Indonesia dan gereja, tetapi kita harus mewujudnyatakannya sebagai tunas yang membawa kehidupan yang lebih baik.


Photo by Christian Joudrey on Unsplash

Jika kita berpikir politik negara Indonesia penuh dengan korupsi dan tidak ingin mendengar rakyatnya, maka hadirlah dalam ranah politik untuk menunjukkan nilai Kristiani yang menjunjung kejujuran dan berpihak kepada orang-orang kecil. Jika kita merasa pejabat gereja lebih peduli pada kepentingan diri sendiri, maka jadilah pejabat gereja yang menggembalakan umat layaknya Yesus. Tentu lewat teladan yang kita hidupi dari Yesus, yang diharapkan bukanlah supaya kita dipuja, melainkan kita bisa menjadi pelayan layaknya Yesus dan membuat semua lidah terkagum akan Yesus yang telah menjadi teladan bagi anak muda Kristen.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE