Merenung Makna Kebangkitan, Menjadi Berani Dalam Perjuangan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 10 April 2018
Setidaknya ada tiga perjuangan yang patut dikaryakan oleh anak muda untuk menghayati karya Kebangkitan-Nya.

Dalam budaya populer masa kini kita bisa menemukan narasi melimpah tentang kebangkitan. Buku ketujuh serial Harry Potter-nya J.K Rowling mengisahkan tentang tokoh utama yang bangkit dari kematian setelah dikutuk Lord Voldy-mort. J. R. R Tolkien menceritakan tentang Gandalf The White yang merupakan versi kebangkitan dari Gandalf the Grey, penyihir yang menolong dunia middle earth untuk selamat dari gempuran si Jahat Sauron. Film Justice League menarasikan kebangkitan yang bikin aneh cerita mengejutkan Man of Steel, alias Clark Kent yang akhirnya memampukan dunia untuk bertahan dari rencana keji Steppenwolf. Menarik bukan? Di dalam karya-karya tersebut para tokoh utama yang berperan sebagai ‘sang juruselamat,’ selalu dikaitkan dengan big event yang disebut ‘kebangkitan.’

Kita perlu menyadari betapa sentralnya kisah kebangkitan dalam iman Kristiani. Hapus cerita tentang kelahiran Yesus dari Alkitab-mu, maka kamu hanya kehilangan dua cerita kecil dalam Injil Matius dan Lukas. Hapus cerita tentang kebangkitan Yesus, maka kamu akan kehilangan seluruh Injil, bahkan pula sebagian besar surat-surat Perjanjian Baru. Orang Kristen mula-mula seringkali dikaitkan dengan dua hal yang menjadi pembeda mereka dari agama Yahudi: salib dan kebangkitan. Oleh karena itu, kisah kebangkitan Yesusserta pemaknaan terhadapnya amatlah penting bagi hidup keimanan kita.

Persoalan yang patut kita pikirkan, sebenarnya apa sih arti kebangkitan Yesus? Bagaimanakah kita menemukan makna kebangkitan Yesus?


Photo by Yoal Desurmont on Unsplash

Konsep Kerajaan Allah dan Teologi Mesianis

Pertama-tama, kita harus memahami dua ide penting terkait dengan Kerajaan Allah dan teologi Mesianis, mengapa? Karena dua ide sepanjang Injil menafasi tapak perjalanan pelayanan Yesus serta kehidupan gereja mula-mula.[1]

Konsep Kerajaan Allah, kingdom of God jelas menjadi penggerak dari gerakan Kekristenan mula- mula (Markus 1:14-15). Dalam tulisan-tulisan Rasul Paulus, frasa ‘kerajaan Allah’ bisa dianggap sebagai ‘jalan hidup,’ raison d etre, alasan untuk hidup, cara hidup, bahkan membentuk pemikiran Kristen mula-mula (Roma 14:17; 1 Korintus 4:20, 6:9-10. 15:50, Galatia 5:21, 1 Tesalonika 2:12). Kerajaan Allah bukanlah sebuah wilayah teritori yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah, dimana Allah bertahta sebagai Raja, dimana nilai-nilai Allah diejawantahkan di dalam kehidupan umat-Nya (Mazmur 47:7, 74:12, Yeremia 10:10). Kerajaan Allah nyata melalui kasih, keadilan, pengampunan, solidaritas dan kebenaran. Murid Kristus mula-mula, membentuk ulang hidup mereka di sekitar iman percaya bahwa Allah adalah Raja, bahwa kerajaan-Nya telah datang di dalam dan melalui Yesus Sang Mesias (2 Petrus 1:11).

Bagi orang Yahudi, kedatangan Kerajaan Allah seringkali dibicarakan sebagai masa berakhirnya pembuangan Israel, penghancuran kekaisaran bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, kembalinya kejayaan Israel serta kembalinya Allah ke Sion. Motif tersebut dapat kita temukan misalnya di nubuatan kerajaan Allah di Yesaya 40-55. Kedatangan kerajaan Allah adalah event publik, momentum pembebasan Israel dari belenggu penjajahan Romawi, dan secara luas adalah datangnya keadilan Allah dan pembebasan bagi seluruh ciptaan. Tentulah sebagai orang Yahudi, murid-murid Kristus (dan Yesus sendiri) dekat dengan pemahaman yang demikian terkait dengan Kerajaan Allah.

Kemudian tentang teologi Mesianis. Kitab Kisah Para Rasul mengaku bahwa proklamasi yang sentral bagi iman Kristen adalah bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus (Christos berarti mesias dalam bahasa Yunani) (Kisah Para Rasul 3:36). Paulus sendiri juga menyatakan bahwa kemesiasan Yesus amatlah sentral (Kisah Para Rasul 9:22, 17:3). Mesias dalam pemikiran Yahudi adalah Ia yang diutus Allah, sosok yang diurapi Allah untuk menegakkan Kerajaan Allah. Mesias adalah pemimpin yang akan mengembalikan kejayaan Israel. Sepanjang Perjanjian Lama kita bisa menemukan pengharapan Mesias yang membingkai kehidupan bangsa Israel di tengah pembuangan ke Babilonia (Yesaya 9).

Patut dicatat bahwa pada era Yesus, gerakan-gerakan yang pemimpinnya mengaku sebagai ‘mesias’ amatlah banyak, misalnya gerakan dari Simeon ben Kosiba di sekitar tahun 135. Namun, gerakan mesianis yang menentang penjajahan dan imperalisme Romawi itu dengan mudahnya dipatahkan oleh kekaisaran Romawi melalui hukuman mati di atas salib. Penyaliban Yesus jelaslah sebentuk teror yang paling mengerikan dari rezim penguasa keji pada saat itu. Tetapi, bagi para murid Yesus, kematian Yesus justru menjadi awal sebuah perubahan besar dalam sejarah. Fakta sejarah bahwa Yesus bangkit dari kematian merupakan gagasan yang subversif pada saat itu. Bila kematian adalah cara yang paling kuat yang dipakai oleh tirani Romawi untuk membungkam kritik dan pemberontakan, sedangkan Yesus mampu mengalahkan kematian, tentu tirani macam mana pun akan gentar dan takut pada tokoh yang mampu mengalahkan teror terbesar mereka. Inilah yang menyebabkan kita patut yakin bahwa kebangkitan tubuh Kristus pastilah fakta sejarah, tirani mana yang takut pada kebangkitan yang cuma ilusi atau halusinasi para murid?

Jadi berbeda dengan gerakan-gerakan mesianik pada masa itu yang berakhir dalam kegagalan dan keputusasaan, para murid Yesus yang menyaksikan Yesus telah bangkit mendapati bahwa iman mereka makin menguat, bahwa Yesus sungguh-sungguh Mesias yang memimpin hadirnya kerajaan Allah!Kaitan dari konsep Kerajaan Allah dan teologi Mesianis ini dengan event kebangkitan Kristus melahirkan gerakan Kekristenan mula-mula yang begitu berani untuk terus berjuang mewartakan Kabar Baik. Di tengah kekejaman imperialisme Romawi, para murid berani memberitakan bahwa Yesus Kristus Anak Allah telah bangkit (Yohanes 20:31, Roma 1:4, 1Yohanes 4:15). Pengakuan iman ini amatlah revolusioner, karena pada saat itu yang diklaim pantas disebut sebagai ‘anak Allah’ atau anak dewa hanyalah kaisar Romawi. Bila murid Kristus perdana menyebut Yesus sebagai anak Allah berarti mengklaim ada sosok raja lain, sosok lain yang lebih berkuasa dibandingkan penguasa lalim pada saat itu. Inilah penyebab yang paling mungkin mengapa Kekristenan perdana menjadi musuh pemerintahan Romawi sampai isunya orang Kristen diburu dengan begitu kejam. Namun, orang Kristen malahan tidak pernah takut pada maut: “hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu?) (1 Korintus 15:55).

Sepanjang sejarah kita melihat, iman pada Yesus yang telah bangkit itu membangkitkan keberanian murid-murid Kristus untuk bergerak melawan kejahatan dan memberitakan kabar baik. Sesungguhnya, Kebangkitan Kristus adalah titik mulai dari pembaharuan ciptaan Allah. Kolose 1:18 menyebutkan “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati. . . “ Jadi kebangkitan Yesus adalah yang pertama dari kebangkitan-kebangkitan yang lain. . . kebangkitan siapa? Kebangkitan kita! 1Korintus 15: 20 menegaskan hal tersebut: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Dari ayat-ayat tersebut kita melihat bahwa kebangkitan Yesus adalah titik awal sejarah baru. Sejarah dimana Allah sedang memperbaharui ciptaan-Nya yang rusak oleh karena dosa. Tubuh jasmani kita yang diciptakan Allah dengan amat baik menjadi rusak karena dosa, maka nanti ketika Yesus datang kali yang kedua, tubuh ini akan diperbaharui. Roma 6:4 memaparkan bahwa di dalam kebangkitan Kristus kita mengalami manusia baru, new creation, “seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh Kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Hidup apa hidup yang baru? Hidup yang menghidupi cara dan gaya hidup Kerajaan Allah, hidup yang menjadi senjata-senjata kebenaran (Roma 6:13). Oleh karena itu, gereja adalah komunitas orang percaya, komunitas murid Kristus yang menghidupi tata cara alternatif, tata cara Kerajaan Allah, yang membedakan mereka dari tata cara pada masa itu.

Lalu kemudian, seluruh dunia ini pun diperbaharui, dunia yang baru yang kita temukan di dalam Wahyu 21 dapat kita lihat melalui tubuh kebangkitan Yesus. Dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia masa kini. Tidak ada lagi penindasan, teror, air mata, sakit-penyakit dan kesusahan. Dunia di mana Allah menjadi Raja, kasih dan keadilan selaras serta kejahatan dibungkam. Finalitas karya kebangkitan Yesus akan digenapi ketika pembaharuan ciptaan itu dilaksanakan sepenuhnya. Kapankah itu? Yaitu saat Yesus datang kali yang kedua, masa dimana penyataan Kerajaan Allah diwujudkan secara utuh dan penuh. Saat ini, bersama-sama ciptaan kita sedang menantikan dengan penuh harap kapan itu terjadi, namun penantian itu juga menjadi masa antisipasi, yakni kita menyambutnya dengan mempersiapkan sebaik-baiknya, membangun kerajaan Allah ‘di bumi seperti di surga!’


Photo by Kaushik Panchal on Unsplash

Kebangkitan Kristus dan Perjuangan Kita di Masa Kini

Dapat kita simpulkan melalui peristiwa kebangkitan Yesus dikaitkan dengan konsep kerajaan Allah dan teologi mesianis kita dapat menemukan bahwa makna kebangkitan Yesus adalah sebuah momentum yang menandakan era baru Allah telah dimulai, bahwa kerajaan Allah telah datang melalui Mesias yaitu Kristus. Allah menjadi Raja melalui karya kebangkitan Kristus mengalahkan kebatilan. Sehingga, para murid Kristus dipanggil untuk berkolaborasi dengan Allah mewujudnyatakan Kerajaan Allah di dalam segala bidang.

Oleh karena itu pemahaman ini seharusnya menolong kita untuk berani melakoni perjuangan menghadapi kehidupan di dunia yang semakin semrawut ini. Setidaknya ada tiga perjuangan yang patut dikaryakan oleh anak muda yang mengaku berkarya:[2]

1. Perjuangan Keadilan. Kita hidup dalam konteks dimana diskriminasi menjadi sangat lazim, hak-hak kaum lemah seperti perempuan dan anak dirampas. Ruang hidup masyarakat kerapkali diambil demi kepentingan yang menguntungkan segelintir para elit. Tahukah kamu jika kepemilikan lahan di Indonesia amatlah timpang? Tahukah kamu korban pemerkosaan selalu tidak mendapat pembelaan yang seharusnya? Sadarkah kamu ada banyak tenaga kerja (baik industri konvensional mau pun industri kreatif) tidak dibayar dengan adil?

Jika Yesus, yang adalah korban ketidakadilan namun mampu melawan ketidakadilan pada zamannya dengan gagah, apakah kita juga berani untuk berdiri di sisi para korban diskriminasi? Bersuara untuk tenaga kerja yang diperlakukan tidak adil atau kaum perempuan yang disepelekan? Beranikah kita bergerak bersama para korban? Manifestasi kuasa kebangkitan Yesus seharusnya dinyatakan dalam perjuangan keberpihakan keadilan yang nyata, bukan festival yang gembar-gembor mempopulerkan keajaiban yang egois.

2. Perjuangan Budaya. Kita hidup dalam konteks dimana budaya yang ada adalah budaya yang menantang Kekristenan. Sayangnya, orang Kristen kerapkali memisahkan antara yang jasmani dan yang rohani. Jadi, orang Kristen merasa tidak ada kaitannya antara urusan jasmani dengan urusan rohani. Kebangkitan Kristus seharusnya mendasari theology of work, teologi pekerjaan kita. Bila saat ini kita bekerja, apa pun area pekerjaan kita, tugas kita adalah menjadi agen pembaharu budaya.

Apakah kita bisa membangun budaya perbankan Kristiani? Apakah kita mau memikirkan sistem ekonomi Kerajaan Allah? Apakah karya seni kita memberitakan nilai-nilai Kerajaan Allah? Apakah pendidikan kita didasari nilai-nilai Kerajaan? Bagaimana seorang pengusaha Kristen menjalankan bisnisnya?

3. Perjuangan Penginjilan. Penginjilan melalui tutur kata dan tindakan adalah tugas orang Kristen, menceritakan Kristus melalui karya dan aksara adalah tantangan setiap murid Kristus. Para murid perdana yang mengalami kebangkitan Kristus bersegera mungkin menyebar luaskan berita itu ke orang banyak, karena melalui Yesus yang bangkitlah orang bisa mengalami transformasi personal. Kebangkitan Yesus yang nyata itulah yang membuat para murid berani martir, mengalami penderitaan yang tidak bisa dianggap sebelah mata.

Apakah kita sudah mengerjakan penginjilan dengan sebaik-baiknya? Apakah kita memberitakan Injil melalui kesaksian hidup kita? Sosial media kita? Dan seluruh aspek hidup kita?

Pada akhirnya, fakta kebangkitan Kristus harus menyadarkan bahwa kita punya tugas dan tanggung jawab di masa kini, bahwa dunia ini tidak boleh dan tidak akan terus dikuasai oleh kejahatan, bahwa panggilan dan tujuan hidup kita secara pribadi diletakkan di bawah pembaharuan karya ciptaan Allah, bahwa Allah memanggil kita untuk berkolaborasi dalam karya pembaharuan-Nya. Seharusnya, ini mendorong kita untuk menghidupi Kekristenan yang tak lagi sekedar sebagai agama privat yang menyenangkan serta memuaskan diri sendiri, namun kepercayaan iman yang bergerak keluar memperbaharui sekitarnya, mentraformasi seutuhnya.

Oleh karena itu, dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita bergerak, berjuang dan terus berkarya sembari bersenandung: Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salib-Nya! Anjungkan panji Raja dan jangan menyerah! (Kidung Jemaat 340).

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE