Merawat Ingatan, Merawat Kehidupan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 02 Oktober 2018
Proses mengingat mereka yang telah meninggalkan kita dapat menjadi sesuatu yang berat. Namun ketika kita mau belajar mengingat dengan benar, kita akan diundang untuk menyelami indahnya ingatan tersebut dan sadar bagaimana mereka menorehkan makna.

7 September lalu, beberapa rekan yang terlibat dalam aktivisme hukum serta Hak Asasi Manusia (HAM) memasang status di media sosial masing-masing untuk memperingati suatu peristiwa pada 14 tahun lalu. 7 September 2004, Munir Said Thalib, seorang aktivis HAM dan anti-korupsi yang begitu gigih melawan penguasa dan memperjuangkan yang tertindas, dinyatakan meninggal setelah diracun saat di pesawat dalam perjalanannya dari Jakarta ke Amsterdam.

Hal yang menyedihkan dan menghadirkan rasa miris adalah proses pengusutan pembunuhannya yang berputar-putar di tempat dan terasa sengaja dibiarkan begitu saja berlalu. Lebih mengenaskan lagi ketika banyak pihak yang diduga kuat berkonspirasi membunuhnya bisa dengan leluasa bergerak dan beraktivitas, bahkan mungkin bisa bebas terlibat dalam pemerintahan negara saat ini.

Saya jadi teringat Suciwati, istri Munir, yang hingga kini terus menuntut pertanggungjawaban atas kematian suaminya. Sudah beratus-ratus aksi Kamisan[1] yang dia ikuti. Sudah dia saksikan bagaimana para pembenci suaminya bebas bergerak ke mana-mana. Entah sudah berapa banyak upaya mediasi yang terus menemui jalan buntu. Juga sudah seberapa jauh kebenaran disembunyikan demi kepentingan penguasa. Namun beliau terus berjuang menuntut keadilan. Bagaimana bisa?

Nampaknya jawaban saya temukan dari sebuah frase yang sering para pegiat Kamisan gaungkan dalam perjuangannya: menolak lupa.



by Marcella Leticia Salim (GKI Cikarang)


Ya, mereka menolak begitu saja melupakan bagaimana orang-orang terkasih itu diobrak-abrik hidupnya. Mereka menolak lupa bagaimana para korban ketidakadilan itu menjalani hidup yang berisiko demi apa yang mereka yakini benar.

Saya semakin yakin bahwa bila orang yang pernah mengalami kehilangan hebat seperti Suciwati masih kuat berjuang hingga saat ini, itu karena beliau terus merawat memori Munir dalam hidupnya. Segala kesederhanaan hidup Munir. Segala kehangatan yang dihadirkan dalam rumah tangga mereka. Semua korban penindasan yang ditolong dalam solidaritas dan empati. Setiap perjuangan yang mengundang ancaman oleh pihak yang tidak mencintai kebenaran serta keadilan. Begitu pentingnya peran ingatan dalam merawat perjuangan.


Belajar dari Ingatan akan Dorkas

Kekuatan ingatan yang dirawat mengundang saya membuka kembali sebuah kisah menarik dalam Alkitab, ketika Petrus membangkitkan Dorkas (Kisah Para Rasul 9:36-43). Secara singkat, kisah ini bertutur tentang Dorkas, seorang perempuan Yope, murid Kristus yang setia, sakit, kemudian meninggal.

Petrus, yang saat itu berada di Lida, dekat Yope, dipanggil untuk menuju Yope, bergabung dengan janda-janda yang mengalami uluran kasih Dorkas sepanjang hidupnya dan menangisi kepergian Dorkas. Kemudian Petrus meminta untuk seorang diri bersama mayat Dorkas dan, setelah berlutut serta berdoa, membangkitkan Dorkas. Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan mengundang banyak orang menjadi percaya pada Tuhan.

Ada beberapa poin yang amat menggerakkan hati saya saat mencoba merenungkan kisah ini.


1. Iman menuntut perbuatan

Dorkas adalah seorang murid perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Dengan singkat, kita dapat menangkap bagaimana sebagai salah satu perempuan pertama yang disebut sebagai murid dalam Alkitab, imannya mewujud nyata dalam karya bagi sesama.

Dalam hidupnya dia telah banyak menolong para janda, terkhusus membuatkan mereka pakaian. Para janda pada masa itu adalah di antara kelompok masyarakat yang paling rapuh dan dipandang rendah. Apa yang dilakukan Dorkas adalah menjadi uluran tangan Tuhan untuk mengangkat mereka yang direndahkan dunia dan mengajak untuk melihat betapa berharganya diri mereka.


2. Memori kuat menuntut untuk diingat

Setelah Petrus dipanggil pengikut-pengikut Kristus di Yope dan datang, segera ia bergabung dengan para janda yang menangis sambil menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas saat ia masih hidup. Dengan segera, Petrus menjumpai memori-memori yang nyata dalam kehadiran para janda yang mengenang Dorkas dengan begitu intim. Ingatan akan bagaimana kehidupan Dorkas mengangkat harkat mereka tentu begitu menyentuh Petrus. Ingatan yang juga mengundang pemimpin penting dalam perkembangan gereja mula-mula seperti Petrus untuk hadir bersama mereka. Dalam waktu singkat Petrus dapat merasakan, bagaimana pentingnya karya Dorkas merawat kehidupan mereka yang tersingkirkan. Bagaimana berita kehilangan atas perginya Dorkas begitu nyata membekas dalam setiap hati yang disentuhnya.


3. Kerajaan Allah menuntut untuk dihadirkan

Ayat 40-42 mengisahkan mukjizat ketika Tuhan memakai doa Petrus untuk membangkitkan Dorkas, serta bagaimana kejadian ini mengundang banyak warga sekitar menjadi percaya Tuhan. Apakah dengan kebangkitan Dorkas, kisahnya berakhir penuh kebahagiaan dan masalah selesai? Entahlah. Dorkas sebagai manusia juga pada akhirnya akan meninggal. Para janda tetap membutuhkan uluran tangan. Penindasan dan ketidakadilan struktural terhadap mereka juga masih akan berlangsung.

Namun, dibangkitkannya Dorkas adalah cara Allah membagikan cicipan Kerajaan-Nya yang hadir. Suatu dunia baru di mana mereka yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan mendapat kekuatan. Dunia baru di mana mereka yang lemah dikuatkan dan diangkat harkat dan martabatnya. Dunia baru di mana pengharapan tak kunjung padam, dan damai sejahtera dalam Kristus berotoritas atas segenap penjuru semesta. Dunia itu menuntut untuk segera hadir, melalui karya pengikut-Nya yang terus digerakkan untuk menyatakan kasih Kristus dalam segala sendi kehidupan.


Pentingnya Mengingat dalam Berkarya



by contributor


Kita semua pernah mengalami kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidup. Di bulan September ini juga, dua tahun lalu, saya kehilangan teman kuliah yang cukup dekat. Bisa dikatakan dia adalah teman dekat pertama saya saat berkuliah. Teman mengerjakan tugas dan belajar jelang ujian dalam waktu mepet. Teman bersama dalam persekutuan kampus, mulai pertama bergabung sebagai “manusia-manusia kurang iman” hingga mengalami pertumbuhan spiritual sampai akhirnya sama-sama menjadi pengurus. Teman menggumulkan panggilan hidup dan mencari konteks berkarya di dunia pasca-kuliah. Teman yang memberi contoh pula akan integritas sebagai pekerja, pelayan, bahkan anggota keluarga.

Seperti layaknya orang yang kehilangan, ada rasa sedih dan sesal atas berbagai hal yang belum tersampaikan. Ada penyesalan ketika menyadari karena kesibukan masing-masing, saya tidak banyak berinteraksi dengannnya dalam beberapa minggu terakhir sebelum kecelakaan fatal yang dialaminya. Namun dalam perjalanannya, saya makin belajar untuk mengingat karyanya yang mengubahkan hidup saya sebagai teman, dan di kala lelah dengan kehidupan, malah dapat menjadi pengingat mengapa saya terus bertahan.

Proses mengingat mereka yang telah meninggalkan kita dapat menjadi sesuatu yang berat, dan bahkan butuh waktu lama untuk siap mengingat lagi. Namun ketika kita mau belajar mengingat dengan benar, kita akan diundang untuk menyelami indahnya ingatan tersebut, Ingatan yang bukannya membuat kita pahit, terlena atau malah tidak ingin move-on, melainkan malah membuat kita sadar bagaimana mereka menorehkan makna. Berbagai makna yang dititipkan pada kita, yang telah mengalaminya, untuk lanjut dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.


Refrensi

1] Aksi unjuk rasa rutin yang dilaksanakan setiap Kamis, pertama kali pada 18 Januari 2007 hingga saat ini, di depan Istana Negara, oleh aktivis HAM dan rekan-rekan terdekat korban ketidakadilan di Indonesia, identik dengan payung dan kostum hitam.


Sumber bacaan:

https://nasional.kompas.com//read/2014/09/08/1958016/Mengenang.Munir.Mengenangkan.Luka.Sejarah

https://www.merdeka.com/munir-said-thalib/profil/

https://tirto.id/14-tahun-tewasnya-munir-suciwati-hadiri-aksi-kamisan-istana-negara-cXxl

Lockyer, Herbert (1967). All the women of the Bible

Achtemeier, Elizabeth (2003). Preaching and Reading the Old Testament Lessons, Volume 3

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE