Menyandingkan Disabilitas dan Citra Allah yang Sempurna

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 25 April 2018
Ketika kita menyadari bahwa Allah maha Hadir, maka kita juga harus mengakui bahwa Allah juga hadir pada diri pribadi dengan disabilitas.

Kata “disabilitas” memang masih asing bagi orang-orang Indonesia. Biasanya, kata yang merujuk kepada keadaan disabilitas adalah “penyandang cacat” atau “berkebutuhan khusus”. Pengertian “disabilitas” tidak sesempit sebagai seorang yang cacat, namun seseorang dengan disabilitas adalah seseorang yang tidak mampu melakukan suatu hal. Namun, orang-orang yang berkebutuhan khusus biasanya dimasukkan ke dalam golongan penyandang cacat karena kemampuan mereka yang tidak bisa menyamai seperti “orang normal”.

Mengapa saya memakai kata dimasukkan daripada sekadar kata masuk? Saya melihat bagaimana masyarakat (bahkan mungkin gereja dan kita sekalipun) kerap melihat diri mereka sendiri dari kacamata normalisme. Kita (yang menganggap diri normal) telah membuat sebuah konstruksi yang disadari atau tidak menyingkirkan mereka para penyintas disabilitas dan menganggap mereka adalah pribadi yang tidak bisa melakukan apa yang kita kerjakan.

Imago Dei dan Disabilitas

Mungkin, sejak lama kita mengetahui bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan/Imago Dei (Kej 1:27). Hal ini membuat kita berpikir bahwa manusia adalah sempurna, seperti Allah Sang Pencipta. Bagaimana kita bisa menyebut manusia itu gambar Allah? Apakah seorang gambar Allah adalah seseorang yang bisa bekerja? Apakah ia mampu bergerak? Mampu beraktivitas dengan baik?

Dalam melihat Imago Dei, secara tidak sadar, banyak yang kemudian menggunakan konsep normalisme itu. Akibatnya, mereka yang menyandang disabilitas apalagi yang tidak dari lahir (mungkin karena kecelakaan) rawan untuk menjadi pesimis mengenai “kesempurnaan Allah” di dalam dirinya.

Sangat disayangkan ketika kita melihat kesempurnaan Allah dalam standar manusia. Padahal, ketika kita mengakui diri kita segambar dan serupa dengan Allah, maka sejatinya standar “kesempurnaan” itu ditetapkan oleh sang Pencipta sendiri. Seperti seorang pembuat vas bunga, yang menentukan apakah vas bunga itu sempurna atau tidak adalah sang pembuatnya, bukan vas bunga yang lainnya. Identitas manusia sebagai gambar Allah.

Kita tidak dapat membatasi dan memberi standar bagaimana gambar Allah dan bagaimana standar minimalnya. Ketika kita mengakui bahwa Allah tidak terselami, maka kita juga harus mengakui bahwa gambar Allah tidak dapat terdefinisikan. Ketika kita menyadari bahwa Allah maha Hadir, maka kita juga harus mengakui bahwa Allah juga hadir pada diri pribadi dengan disabilitas. Kita tidak bisa membatasi citra Allah dalam ukuran manusia. Ketika kita mengakui bahwa Tuhan Maha Kuasa, maka kita harus pula mengakui bahwa citra Allah dapat saja hadir dalam berbagai bentuk dan rupa manusia.

Salib dalam Kacamata Disabilitas

Kita mengakui bahwa Yesus adalah manusia dan Allah. Yesus mengambil rupa seorang manusia dan berperan mempedulikan orang-orang dengan berbagai kekurangan dan kebutuhannya (Fil 2:7). Ketika Yesus disalibkan, kita dapat melihat dalam sisi kemanusiaanNya, bahwa Ia menunjukkan kerapuhan sebagai manusia. Melalui peristiwa penyaliban tersebut, bisa dikatakan bahwa Ia menempatkan diriNya bersama dengan orang-orang penyintas disabilitas.

Penempatan diri Yesus kepada para penyintas disabilitas memiliki pesan bahwa Yesus pun juga menderita dan rapuh pada saat Ia disalib. Yesus menjadi seorang manusia yang harus menerima kenyataan pahit yang terjadi seperti para penyintas disabilitas. Ketika para penyintas disabilitas harus menjalani hidup dengan kekurangannya, Yesus pun juga harus menjalani kehidupanNya dengan ending mati menderita. Ia ingin memberitahu bahwa Ia pun menerima diriNya degan segala keberadaanNya pada saat ia tergantung di kayu salib. Maka dari itu, Yesus ingin meneguhkan hati para penyintas disabilitas untuk menerima dirinya dan menguatkan mereka untuk menjalani hidup.


Photo by Nathan Anderson on Unsplash

Panggilan kita Sebagai Gereja

Tidak dapat dipungkiri permasalahan mengenai ketidakadilan terhadap orang dengan disabilitas dapat terjadi dimana saja, termasuk gereja. Terkadang, gereja mengabaikan keberadaan saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas. Tidak dapat kita sangkal juga keberadaan pemahaman bahwa orang dengan disabilitas adalah orang berdosa, najis, dan sebagainya, telah ada sejak lama. Sikap ketidakadilan terhadap orang dengan disabilitas yang telah ada dan terus terjadi (kemungkinan hingga sekarang) harus dihentikan.

Disadari atau tidak, ada beberapa orang dengan disabilitas yang ada di gereja kita. Setelah kita mempunyai persepsi baru mengenai Imago Dei, lantas apa yang dapat kita lakukan bagi mereka? Secara praktis, kita dapat melibatkan mereka dalam berbagai hal, misal dalam kepanitiaan gereja, sebagai seorang pengurus komisi, dan lain sebagainya. Namun, hal yang paling mendasar adalah: “Maukah kita menjadi sahabat bagi mereka?”

Disabilitas mungkin mempunyai keterbatasan di satu sisi. Namun, mereka mempunyai sebuah potensi, yang bahkan bisa melebihi orang-orang yang menganggap dirinya normal. Dengan memberikan ruang bagi mereka untuk melayani dan memberikan ruang bagi mereka di gereja untuk bersekutu bersama, percayalah bahwa kita sedang mencerminkan penghormatan akan kehadiran Allah sendiri.


www.simcoemuskokahealth.org

Impian bagi Gereja

Secara jangka panjang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan gereja dalam skala besar dalam merangkul para penyintas disabilitas. Hal ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti pengadaan tempat khusus bagi orang dengan disabilitas yang menggunakan kursi roda, menyediakan Alkitab dalam versi Braille, dan memberikan bantuan bagi orang dengan disabilitas yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan peralatan (alat bantu dengar, kursi roda, alat bantu berjalan, tongkat, dll). Terlihat sederhana, namun ini dapat sangat membantu mereka yang membutuhkan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE