Menyadari dan Memahami Realitas Kematian

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 28 Maret 2018
Dengan menyadari kematian, secara tidak langsung juga akan menyadari kita bahwa hidup ini hanyalah sementara.

Ketika kelas 3 SMA, saya berkesempatan untuk mengikuti retreat yang diselenggarakan oleh suster-suster Katolik. Pada salah satu rangkaian acara, ada satu sesi yang disebut sebagai “kontemplasi kematian”. Pencahayaan di Kapel tersebut diredupkan dan dengan samar-samar saya dapat melihat Pastor sudah duduk bersila di depan altar. Sang Pastor pun juga terlihat menggunakan stola (busana liturgis berupa selempang kain) berwarna ungu. Dalam tradisi Katolik, warna ungu melambangkan duka atas kematian, pertobatan dan penitensi. Warna ungu juga dapat dikenakan dalam Ibadah Requiem sebagai pengganti warna hitam. Dengan duduk bersila, ibadah pun berlangsung khidmat. Berbagai nyanyian dan bacaan Alkitab pun dipilih yang bernuansa kematian dan dukacita.

Hingga tiba saat homili (khotbah), Sang Pastor tersebut justru mengajak kami membayangkan kematian. Dengan mata yang tertutup, kami diajak untuk membayangkan apa yang terjadi saat kami menghembuskan nafas terakhir. Saya pribadi membayangkan rasa dingin dan kaku menyelimuti tubuh. Kemudian terbayang juga kalau saya terbaring di dalam peti mati dan dengan jelas, saya dapat mendengar isak tangis dari para kerabat, sahabat dan keluarga yang berdiri mengelilingi peti mati. Isak tangis tersebut semakin lama, semakin sayup-sayup terdengar hingga sampai akhirnya saya mengalami kegelapan dan keheningan yang amat sangat karena peti mati sudah tertutup sepenuhnya dengan tanah. Setelah semua itu saya bayangkan, saya menarik nafas dalam-dalam, membuka mata perlahan-lahan dan menyadari realitas bahwa saya masih duduk bersila di dalam sebuah kapel.

Ingatlah akan kematianmu

Sebagian dari kita mungkin jarang untuk berpikir bahwa kematian adalah suatu realitas, bahwa suatu saat nanti kita akan mengalami kematian. Hal tersebutlah yang mendasari Shakespeare untuk menyebutkan kematian sebagai “the undiscovered country” (negeri yang tak terjamah). Di sisi lain, mungkin kita menghindar untuk berpikir tentang kematian karena memang kita takut akan kematian. Edmund Bourne dalam The Anxiety and Phobia Workbook menuliskan bahwa fobia kematian (thanatophobia) merupakan salah satu fobia spesifik yang melibatkan rasa takut akan kematian. Orang-orang yang mengidap thanatophobia akan cenderung menghindari situasi tersebut sama sekali atau tetap bertahan menghadapinya walaupun dengan rasa takut. Hal lainnya juga datang dari sebuah gereja kecil yang bernama Sedlec Ossuary. Gereja tersebut menjadikan 40.000 kerangka manusia sebagai interior yang menghiasi gereja. Kerangka-kerangka tersebut seakan ingin berkata kepada manusia untuk “ingatlah akan hidupmu dan ingatlah akan kematianmu!” (memento vivere, memento mori!).


pexels.com

Kematian yang Manusiawi

Dengan menyadari kematian, secara tidak langsung juga akan menyadari kita bahwa hidup ini hanyalah sementara, sangat singkat dan berakhir dengan cepat. Pemazmur dengan sangat indah menulis, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm 90:12). Doa ini, yang dianggap digubah Musa, diperkirakan ditulis ketika Allah membuat Israel mengembara di padang gurun. Disitulah letak esensi dari kehidupan manusia, yakni sebagai peziarah (homo viator). Di dalam pengembaraannya itu, ternyata ada sebuah kerinduan untuk memperoleh hikmat – yakni hati yang bijaksana – di dalam kehidupan yang singkat ini.

Dalam pengalaman pastoralnya yang dituangkan dalam buku “The Jesuit Guide to (Almost) Everything”, James Martin SJ menyebutkan bahwa kematian telah menjadikan seseorang lebih manusiawi. Hal tersebut terjadi karena dalam kematian lah, kita menyadari hubungan yang tak terpisah dengan Allah. Dalam kematian, Allah mampu berjumpa dengan manusia melalui cara yang baru karena kematian menghilangkan segala penghalang yang pernah menjauhkan kita dari Allah.

Penyaliban dan Wafat-Nya

Pada hari ini, Gereja memperingati hari Jumat Agung yang merupakan hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota. Peristiwa tersebut tercatat di keempat Injil. Yesus telah mengosongkan diri dari segala sifat ke-Allahan-Nya dan mengenakan sifat-sifat kemanusiaan (kenosis), pun termasuk dalam hal kematian. Wafat Kristus dan kebangkitan-Nya merupakan puncak rencana Allah untuk menyelamatkan manusia karena melalui wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga, tercurah rahmat keselamatan bagi manusia.

Menanggapi penyaliban dan wafat-Nya, muncul pertanyaan seperti: “bagaimana Allah bisa wafat dan mengapa Allah tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri?”. Pertanyaan tersebut ternyata juga sudah pernah dilontarkan oleh orang-orang yang menyaksikan penyaliban Yesus. Sembari menggelengkan kepala, mereka berkata: “turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” (lih. Mrk 15:29-30). Tak terkecuali juga pada imam-imam kepala bersama ahli-ahli Taurat, mereka juga mengolok Yesus: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” (lih. Mrk 15:31-32).


pinterest.com

Injil Markus dan Lukas sebenarnya tidak secara harafiah menggunakan kata “mati atau wafat” untuk merujuk pada kematian Yesus. Kedua injil tersebut justru menggunakan kata “menyerahkan nyawa-Nya” (yun: exepneusen). Exepneusen bisa berarti sebuah tindakan menyerahkan dan menghembuskan nafas terakhir bukan karena sebab alamiah, melainkan karena perbuatan sukarela. Dalam konteks ini, Ia tentu saja dapat turun dari Salib dan menyelamatkan diri-Nya sendiri, tetapi Ia menunjukkan kesetiaan dan ketaatan-Nya yang memilih untuk tak melakukannya. Yesus yang tetap berada di Salib bermakna tergenaplah berbagai nubuat para nabi tentang Mesias yang diutus Allah dan terciptalah karunia keselamatan bagi umat manusia. Bagi Yesus, keselamatan itu berarti pengorbanan segala sesuatu, laksana gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (lih. Yoh 10:11).

Wafat Kristus dan kebangkitan-Nya juga membuktikan bahwa Ia sudah mengalahkan kuasa dosa dan maut sehingga terjadilah kesatuan antara Allah dengan manusia. Perkataan Salib yang keenam, “Sudah selesai” (Yoh 19:30) berasal dari bahasa Yunani yakni ‘tetelestai’. Kata tersebut terbentuk dari kata ‘telos’ yang artinya sebuah akhir yang menyatukan perjalanan dari awal dan yang memberi makna pada semua yang telah dijalani. Dalam bahasa Latin disebut juga sebagai ‘consummatum est’. Kata tersebut terbentuk dari kata ‘con’ dan ‘summa’ yang memiliki arti “merangkum semua menjadi utuh”. Rasul Paulus juga menegaskan bahwa dibaptis ke dalam Kristus adalah sebuah tindakan penyerahan diri manusia untuk mau menyatu dalam kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya (lih. Roma 6:3-5). Realitas kematian yang akan kita alami nanti justru sebenarnya menghilangkan segala penghalang yang pernah menjauhkan kita dari Allah sehingga memudahkan kita untuk menyatu dengan Allah.


Photo by Matthew Ansley on Unsplash

Pemeriksaan Diri

Pada hari ini pula, gereja menyelenggarakan perayaan Sakramen Perjamuan Kudus. Tradisi ini sudah dijalankan orang Protestan (utamanya Lutheran di Jerman) dari abad 16 yang merayakan Jumat Agung dengan melakukan Perjamuan Kudus. Dalam tradisi GKI, penting bagi jemaat untuk memeriksa diri (censura morum) sebelum mengenang peristiwa pengorbanan Yesus Kristus yang disimbolkan dalam rupa roti dan anggur (Lih. Tata Laksana GKI 24:3a).

Sebelum kita mengikuti perayaan Sakramen Perjamuan Kudus, alangkah baiknya jikalau kita mempersiapkan diri dengan cara memeriksanya. Sejauh mana aku menyadari dan memahami realitas kematianku? Sejauh mana aku menyadari dan memahami kesatuanku dengan Allah? Sejauh mana aku menyadari dan memahami kesetian dan ketaatan Allah dalam kematian-Nya di kayu salib? Dan bagaimana pula dengan kesetiaan dan ketaatanku pada Allah?



Selamat memaknai dan menghayati,

Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE