Menguatkan Bejana Retak di dalam Hati melalui Doa Bagi Diri Sendiri

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 03 Oktober 2017
Berdoa bagi diri sendiri bukan bentuk keegoisan, karena Yesus sendiri mengajarkannya.

Rasa-rasanya tema broken vessel menjadi tema yang sangat ‘gue banget’ bagi kita anak muda. Hidup di tengah dunia sekular abad 21 yang dipenuhi beragam tuntutan kompetisi ditambah dengan prosesi jatuh bangun quarter life crisis yang menyumbangkan kehidupan yang rapuh dan gaduh dengan berbagai luka. Kita adalah bejana retak.

Saya pikir sudah banyak tulisan tentang bagaimana move on menjadi bejana retak yang hidup dalam keseharian, tulisan ini hanya menyumbangkan perspektif spiritualitas Kristen terhadap topik ini. Berdoa bagi diri [dan bagi pemulihan diri khususnya] adalah satu latihan rohani yang penting apalagi setelah kita menyadari bahwa kita adalah bejana retak.

Apa itu berdoa bagi diri? Doa bagi diri adalah praktik berdoa bagi diri sendiri. Berdoa dimana kita mendoakan kepada Tuhan kebutuhan-kebutuhan kita secara khusus berkaitan dengan pembaharuan karakter, pemulihan relasi, serta kehidupan pribadi kita di hadapan Tuhan. Tentu berkaitan pula dengan batin dan fisik, spiritual dan lahiriah. Doa pribadi menghantarkan kita menjadi murid Kristus yang lebih utuh dan penuh dalam mengalami Injil. Doa bagi diri sendiri ini bisa disebut juga dengan doa transformasi, karena waktu bersama-sama dengan Kristus akan membuat kita semakin serupa dengan Kristus.

Mengapa berdoa bagi diri kita? Saya rasa itu pertanyaan yang begitu mendasar yang perlu kita jawab, karena mungkin ada banyak yang berkomentar: kok kita egois sekali, sehingga berdoa bagi diri sendiri?


Photo by Ben White on Unsplash

Pertama, tentu karena Tuhan Yesus dan Firman Tuhan mengajarkannya pada kita! “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7) apa yang diminta? Apa yang dicari? Semua! Semua kebutuhan kita, dan itu berarti termasuk segala sesuatu yang berkaitan tentang diri kita: kebutuhan untuk belajar mengampuni, menang atas dosa, pemulihan dari luka batin dan segala macam persoalan diri ini. Segala sesuatu itu bisa kita doakan kepada Yesus sang Gembala Agung.

Kedua, karena doa mampu membawa perubahan dan bahkan berfungsi sebagai “terapi”. Semua orang beragama akan berdoa, namun yang membedakan doa orang Kristen adalah kepada siapa kita berdoa lebih menentukan daripada cara atau apa yang kita doakan. Kita berdoa kepada Kristus, sang pemulih, Kekasih Abadi, Guru Agung, dan Gembala yang baik. Ketika kita berdoa kepada Kristus, seharusnya kita akan mengalami pelekatan. Relasi lekat kepada sang pokok anggur itu akan menghasilkan buah-buah rohani, yang tidak lain adalah pemulihan dalam diri. Proses “membuang waktu” bersama dengan Tuhan ini begitu nyata signifikansinya. Seperti ketika kita makin sering bersama-sama dengan ayah kita, kita akan berusaha untuk makin meniru ayah kita, dan inilah yang terjadi ketika kita berdoa.


Photo by Ben White on Unsplash

Bagaimana Berdoa Bagi Diri? Richard Foster dalam bukunya Prayer membantu kita menelisik bentuk-bentuk doa pribadi bagi diri. Kali ini saya pikir cukup tiga bentuk praktik doa ini yang bisa kita terapkan untuk perlahan-lahan menguatkan bejana yang retak di dalam diri kita.

Doa sederhana (simple prayer) adalah doa yang paling mendasar. Doa dimana kita membawa diri kita ke hadapan Allah sebagaimana adanya kita. Seperti seorang anak di hadapan Ayah yang terkasih, kita membuka hati kita dan meminta sesuatu. Kita tak perlu mencoba untuk jadi baik, kita secara sederhana menuangkan perhatian kita dan mengatakan pada Allah betapa frustrasinya hidup kita. Doa sederhana membawa hal-hal keseharian kepada Allah yang memerhatikan dan mengasihi kita. Lalu bagaimana kita mempraktikkannya? Sederhana. Kita mulai dengan mendoakan hal-hal sederhana di sekeliling kita: kesedihan kita, kegelisahan, kegamangan, kekuatiran kita. Lalu kita bisa menyerahkannya kepada Tuhan sembari menunggu kapan Tuhan merevolusi hati kita. “Tuhan, hatiku lelah hari ini... tolong aku Tuhan.

Doa orang yang ditinggalkan (prayer of the forsaken). Doa ini dimulai dengan kondisi dimana kita merasa kita ditinggalkan Allah. Ada situasi-situasi yang dimana kita merasa Allah itu tidak ada: kedukaan, bangkrut, relasi yang rusak. Doa orang yang ditinggalkan adalah doa dimana kita merindukan kehadiran Allah secara nyata di dalam hidup kita, dimana hati kita merasa hangat, damai dan sukacita. Perasaan ditinggalkan Allah adalah hal yang wajar dialami orang percaya, semua raksasa rohani dalam Alkitab pernah mengalaminya, dan memang Allah merancangnya untuk membentuk kita. Bagaimana mempraktikkan doa dalam kondisi ini? Kita bisa memulai dengan Mazmur Ratapan. Misalnya Mazmur 13. Mazmur ratapan adalah jenis mazmur yang ditulis dalam kondisi bangsa Israel di buang ke pembuangan. Dengan doa ini kita boleh komplain kepada Tuhan: Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku. Kemudian, kita bisa menyatakan kerinduan kepada Allah dan menunggu dengan setia.


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Doa pembentukan (formation prayer). Doa ini bicara soal bagaimana kita mengalami kebaruan batin ketika menghadap Kristus. Praktiknya adalah salah satu dari pergumulan kita tentang pribadi kita, baik itu luka, kekecewaan, penolakan dan pahit masa lalu, kita gumulkan secara khusus dalam praktik menyepi (solitude), yaitu mengambil tempat dan waktu khusus untuk mendoakan hal itu. Misalnya dengan pergi mencari tempat hening di café tertentu, kita bisa mendoakan pergumulan itu sepanjang hari bahkan secara rutin di dalam kehidupan anda. Dengan kesetiaan dan komitmen serta ritme yang terus berulang dan menjadi habit, percayalah doa ini berkuasa untuk membentuk hati yang retak itu menjadi hati yang kuat di dalam Kristus!

Akhir kata, disiplin rohani yang saya usulkan tidaklah berguna jika tidak dilakukan. Ketika kita melakukannya, tidak berarti lembah kekelaman itu akan hilang seketika. Namun jangan takut, gada dan tongkat Sang Gembala itu beserta kita! (Mazmur 23). Menutup tulisan ini, saya mengutip sebuah lagu dari Sovereign Grace:

 

When You lead me to the valley of vision

 

I can see You in the heights
And though my humbling wouldn’t be my decision
It’s here Your glory shines so bright
So let me learn that the cross precedes the crown
To be low is to be hight
That the valley’s where You make me more like Christ.
(In the Valley)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE