Menggapai Perfeksi: Mewujudkan Integritas

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Agustus 2018
“Peringatan Paulus kepada jemaat Korintus semata-mata dilakukan untuk menyadari bahwa mereka satu sebagai tubuh Kristus, sehingga tidak tercipta tirani keagamaan yang mematikan pluralitas.”

Manusia terlahir dengan sebuah hasrat yang membuat manusia, sadar tidak sadar, ingin menjadi sempurna. Misalnya dalam hal penampilan. Paling simpel, saat ke kondangan, kita ingin tampil sempurna kan? Dari pilihan baju sampai make up (bagi wanita) dipersiapkan dengan baik dan itu hukumnya wajib.

Tidak mungkin seseorang yang masih waras datang ke kondangan atau acara ulang tahun sembari pakai daster atau singlet dan rambut yang acakan-acakan. Minimal ditata dulu biar nggak malu-maluin. Baik kamu yang jomblo dan sudah punya pasangan pasti akan meluangkan waktu sejenak agar bisa tampil sempurna.

Apalagi ditambah dengan berbagai fitur canggih yang ada di ponsel pintar makin membuat seseorang menampilkan yang terbaik dan sempurna. Selfie yang kini jadi aktivitas biasa masa kini malah mendorong orang untuk terobsesi dengan oplas.

Journal of American Medical Association's Facial Plastic Surgery karya Dr. Neelam Vashi menyimpulkan, tren remaja masa kini yang ingin melakukan oplas agar wajah mereka makin kece dan kinclong saat di foto selfie yang mereka lakukan.

Direktur Ethnic Skin Centre di Boston Medical Center, membuat istilah 'Snapchat Dysmorphia', yang artinya kekhawatiran tak wajar di kalangan remaja yang ingin wajahnya terlihat sempurna seperti di foto selfie. Tinggal ke dokter yang biasa melakukan oplas dan dijamin wajah bisa dipoles sesuai keinginan atau sesuai pesanan.



Photo by Antoine Beauvillain on Unsplash


Atau wujudnya GGSTS: ganteng-ganteng soleh tapi serigala. Wajah boleh ganteng kayak Kim Jong Hyun, bahkan senyumnya soleh kayak ulama, tapi kalau murka persis mirip diktator dunia yang ga segan menghabisi jutaan nyawa, kacau kan?

Lah, gimana kalau luarnya cantik tapi ternyata CCS alias cantik-cantik serigala? Paham kan? Maksudnya luarnya cantik tapi licik, penipu dan nggak punya hati. Penampilannya kayak biarawati tapi suka menipu sana sini.


Kisah Nuh dan Hidup Sempurna

Ternyata tak hanya dunia, Pencipta kita menuntut hidup kita menjadi ‘sempurna’. Dalam Injil, Yesus sendiri mengatakan bahwa “Haruslah kamu sempurna seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Apakah sempurna di sini berarti hidup tanpa dosa? Bukan.

Kata ‘sempurna’ dalam bahasa Yunani adalah teleios. Ada beragam makna yang bisa lahir dari kata ini, yang akan diuraikan setidaknya di tiga tulisan. Pertama, memaknai padanan kata Teleios dalam Perjanjian Lama atau bahasa Ibrani adalah tamim, yang berbicara tentang makna ‘having integrity or true’. Kata ini dikenakan kepada Nuh dalam Kejadian 6:9, ” Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah”.

Lebih mencengangkan lagi ketika Allah mendeklarasikan bahwa Nuh bukan hanya tak bercela atau bercacat alias sempurna (tamim) tapi juga ‘benar’ (tsaddiq). Ini benar-benar kombinasi yang komplit.

Ada yang menyebutkan bahwa Nuh sempurna karena genetik alias keturunan, udah dari sononya. Tetapi kalau ditelisik, Nuh bukanlah keturunan dari orang yang sempurna. Bahkan episode setelah keluar dari bahtera, Nuh didapati teler berat karena anggur. Di sisi lain, Kitab Ibrani justru menetapkan Nuh adalah tokoh dan pahlawan iman.

Patut direnungkan, mengapa Allah rela mendeklarasikan Nuh dengan paket komplit tersebut? Apa yang Nuh lakukan? Dalam ayat sebelumnya terkuak, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (Kej 6:8). Jadi, ini merupakan karya Allah.

Allah dalam anugerah-Nya memilih Nuh yang notabene manusia berdosa. Ia telah membalutnya dengan kesempurnaan Ilahi, kekudusan, dan kebenaran. Jadi, Nuh yang sempurna itu semata-mata merupakan karya dan pekerjaan Allah.

Adalah anugerah Allah yang membuat Nuh, insan berdosa di zamannya, memiliki hidup yang tsaddiq (benar) dan tamim (sempurna). Kabar baiknya, Allah terus memakai pola dan cara yang sama untuk memilih dan membenarkan serta menyempurnakan umat-Nya. bahkan ketika kenakalan dan kegagalan melekat pada diri kita. Jadi, menjadi sempurna itu bukan semata-mata usaha dan kekuatan kita, tetapi kasih karunia Allah yang menguduskan dan membenarkan kita dalam kelahiran kembali.



Photo by Ben White on Unsplash


Setelahnya, Nuh hidup bergaul dengan Allah. Bagaimana cara Nuh tahu apa yang benar dan salah? Apa yang membuat standar moralnya tinggi? Simpel, relasinya yang dekat dengan Allah setiap hari. Koneksi dan relasi ini membuat Nuh tahu dan peka pada kehendak Allah. Tak hanya sampai di situ, Nuh taat sepenuhnya kepada Allah.

Inilah rahasia hidup yang sempurna dari Nuh. Kata ‘tamim’ atau sempurna dimaknainya sebagai tak bercela, memiliki integritas, komplit, utuh. Cara pandang tersebutlah dapat meneguhkan kualitas hidupnya. Ini sangat relevan untuk bangsa kita saat ini.


Hidup Berintegritas

Salah satu penyebab krisis di tengah-tengah bangsa kita saat ini adalah korupsi. Korupsi merajalela dan sebagian melihatnya sebagai hal yang lumrah dalam pemerintahan dan dalam berbagai aspek. Terlebih bagi anak muda yang melihat tak ada teladan dari sebagian besar pemimpin dan pejabat yang bersih dan berintegritas.



pexels.com


Integritas menjadi sesuatu yang langka dan berharga di tengah-tengah bangsa kita. Untuk mengisi kemerdekaan yang adalah anugerah Tuhan bagi bangsa kita, milikilah dan ekpresikanlah hidup yang berintegritas dalam hidup sehari-hari.

Hidup yang berintegritas dimulai dari hati yang utuh, tidak bercabang, baik di hadapan Tuhan dan sesama. Hidup yang utuh berarti tak terbagi-bagi atau terbelah. Tapi hidup yang berintegritas adalah kualitas hidup yang sinkron dan harmoni antara hati, ucapan dan tindakan. Mau di mall, di resto atau saat main gadget, tak ada kelicikan atau manipulasi disana. Benar-benar utuh, bulat dan transparan alias bersih.

Hidup berintegritas juga merupakan hidup dalam totalitas. Hidup Nuh itu menggemakan Hukum yang Terutama: ”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan “segenap” : hati, jiwa, akal budi dan kekuatanmu.” Hidup dengan maksimal adalah menunjukkan karya yang luar biasa dan berbuat yang terbaik bagi Tuhan, bangsa dan sesama.



Baca Juga


Menggapai Perfeksi: Menyatakan Kasih

Menggapai Perfeksi: Menjadi Tekun

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE