Menggapai Perfeksi: Menjadi Tekun

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Agustus 2018
“Seorang yang sempurna adalah dia yang menunjukkan ketekunan atau kesetiaannya kepada Allah melalui ucapan dan tindakan atau perbuatan.”

Dalam kompetisi mencari calon presiden belum lama ini, ada sosok yang sudah menampilkan beragam iklan di mana-mana terutama di Jakarta. Penampilan dan tagline yang keren, diharapkan dapat memikat publik terutama calon presiden yang sedang mencari pasangan di kontestasi Pilpres 2019.

Iklannya dalam bentuk media luar ruang atau OOH (out of home) yang dihitung terbagi dari beberapa jenis yakni billboard/neon, baliho, bando/JPO, midi dan LED. Itu semua menghabiskan 58 milyar. Angka yang masih tergolong mahal walaupun nilainya sudah diskon 50 persen sekalipun.



pexels.com


Taglinenya adalah : “Muda itu Kekuatan, Sekarang dan Masa Depan” ditambah wajah dan pose gagah serta ganteng, bak foto model. Konon sepatu LV-nya saja seharga 13 juta lebih. Perfeksi, bukan?

Tapi tragisnya ternyata kedua calon presiden tak meminangnya juga. Dengan blak-blakan tokoh muda tersebut mengakui bahwa tidak ada jalan yang lunak untuk meraih cita-cita dan tujuan besar. Menurutnya, tidak ada pemimpin hebat tanpa proses penempaan ujian dan tantangan berat. Sudah tahu kan? Pasti bukan saya, kendati gantengnya bersaing, haha.

Alhasil, upaya pencitraan yang maksimal dari AHY itu tak membuahkan hasil. Pengakuan jujur tokoh tersebut sebenarnya tak lain adalah untuk mematahkan jalan pencitraan yang dipilih dan dibangunnya. Inilah model experienced learning yang terlampau mahal dan berharga.


Pesan Yakobus

Membangun hidup yang perfeksi itu tidak bisa dengan cara atau jurus pencitraan. Mari kita lihat Yakobus berbicara secara tajam dan menohok soal ini. “Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”, (Yak 1:4).

Selain berbicara tentang “menjadi benar” dan “mencapai tujuan”, kata ‘sempurna’ atau ‘teleios’ ini bicara soal “komplit, lengkap, penuh”. Maka, salah satu hal yang perlu diperjuangkan dalam menggenapinya adalah dengan ketekunan atau kesabaran. Dari sanalah akan lahir karya atau pekerjaan yang sempurna. “Let patience have her perfect [teleios] work, that ye may be perfect [teleios] and entire, wanting nothing” (James 1:4).

Jemaat penerima surat Yakobus tengah menghadapi tantangan dan masalah yang berat. Bukan hanya berserah atau bertahan, Yakobus mendorong mereka untuk terus bertekun. Penulis Yakobus memberikan tips praktisnya untuk terus aktif dan tidak apatis sebagai umat yang menghadapi tantangan.

Ibarat sepakbola, menyerang adalah pertahanan yang terbaik. Berjuang dalam iman itu bukan hanya dengan puasa, doa dan amin tapi bekerja, berkarya dan melayani dalam perbuatan nyata di tengah dunia.

Yakobus kembali menegaskan bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak 2:22). Iman tanpa perbuatan -meminjam istilah Rocky Gerung- adalah ‘fiksi’. Proses dalam hidup harus diisi dengan karya dan kerja yang konkret.

Tak lupa Yakobus juga menegaskan aspek yang tak kalah pentingnya yakni menjaga ucapan atau perkataan. Lidah lah yang menjadi tolok ukur dari teleios. Saat lidah konsisten dengan perbuatan, intinya tak ada ngelesisasi atau pengibulan. Disitulah letak tolok ukur kesempurnaan.



Photo by Kristina Flour on Unsplash


Singkatnya bagi Yakobus, seorang yang sempurna adalah dia yang menunjukkan ketekunan atau kesetiaannya kepada Allah melalui ucapan dan tindakan atau perbuatan. Bukan hanya mendadak karena ada pemilihan Majelis dan Pengurus atau jelang Natal dan Paskah.

Nah, mau menjadi sempurna tanpa melalui proses, usaha dan keringat serta air mata? Ya itu namanya judul filmnya si Tom Cruise, “Mission Impossible” alias suatu hal yang mustahil. Kalau di filmnya Tom Cruise yang mustahil pasti bisa, ya iyalah. Tapi dalam realita hidup, pasti berbeda.

Tanpa ketekunan maka yang muncul bukanlah ‘teleios’ tapi oplos alias campuran dan rapuh, ringkih, rentan dan akan mudah ambruk dan hancur. Tak ada pilihan atau cara instan untuk mencapai kepenuhan atau kesempurnaan.

Ketekunan itu adalah etos yang menghasilkan karakter yang kuat dan kokoh. Bukan sekedar pencitraan semata tapi reputasi yang kuat sebagai hasil ujian dan tempaan serta gemblengan dalam kehidupan.


Wolter Monginsidi dan Teladannya

Penulis teringat sosok pahlawan dari Sulawesi Utara, Robert Wolter Mongisidi. Sosok yang ganteng, gagah, pandai berbahasa Belanda dan pintar, terbukti pernah menjadi seorang guru di sekolah menengah. Semangatnya berjuang dengan gigih membuatnya layak menerima sebagai pahlawan nasional.

Tapi imannya yang teguh dan kesetiaannya dalam Tuhan lebih menggetarkan lagi, membuatnya layak disebut sebagai pejuang iman. Wolter gugur dalam usia 24 tahun, usia yang masih muda. Tapi perjuangan dan imannya itu tak lekang oleh zaman, tak pudar oleh waktu.



Photo by Stijn Swinnen on Unsplash


“Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja, yaitu roh kesetiaan hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun menuju cita-cita kebangsaan yang ketat.”

“Jika jatuh sembilan kali, bangunlah sepuluh kali; jika tidak bisa bangun, berusahalah untuk duduk dan berserah kepada Tuhan”.

Mongisidi sempat ditawari grasi dengan imbalan kebebasan oleh Belanda tapi harus berpihak pada mereka. Dia menolak. Dia memilih berjuang hingga akhir hidupnya bersama Tuhan bagi NKRI. Pesan terakhirnya sebelum ditembak mati adalah: “Setia hingga akhir di dalam keyakinan!” Setia hingga akhir adalah wujud ketekunan yang luar biasa.

Robert Wolter Mongisidi adalah sosok pahlawan yang terus berjuang untuk kemerdekaan dan turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ini adalah analogi yang pas buat kita yang sudah menikmati kemerdekaan. Hal tersebut merupakan berkat dan rahmat Allah serta perjuangan para pahlawan bangsa termasuk Robert Wolter Mongisidi.

Seandainya, ini pengandaian, dibuat percakapan imajiner atau drama imajiner dengan Robert Wolter Mongsidi, lalu dia diminta sharing tentang semua perjuangannya, kita pasti akan mengangguk-angguk sambil mengaminkannya.

Seandainya giliran dia bertanya, “Lalu apa yang sudah Anda lakukan saat ini untuk Tuhan, bangsa dan sesama?” Hmmm, silakan menjawabnya masing-masing. “Kalau sudah, sejauh mana Anda memperjuangkan atau bertekun dalam mengerjakannya sejauh ini?”



Baca Juga


Menggapai Perfeksi: Menyatakan Kasih

Menggapai Perfeksi: Mewujudkan Integritas

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE