Menemukan Sapaan Tuhan Melalui Anak-Anak

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 16 Mei 2018

Guru Sekolah Minggu (GSM)? Sepertinya pelayanan model seperti ini tidak cocok untuk saya. Saya tidak punya pengalaman sama sekali menjadi seorang GSM. Muka yang tidak baby face ditambah dengan postur tubuh yang berisi lemak-lemak bandel ini seringkali bukannya membuat anak-anak bersukacita ketika bertemu dengan saya, yang ada malah jadi ketakutan. Baru saya sodorkan tangan untuk bersalaman, mereka sudah pergi meninggalkan saya. Dalam hati, “Saya tidak akan pernah mau menjadi GSM.”

Namun, betapa jengkelnya hati saya ketika masa kuliah. Kami diharuskan untuk melayani pos-pos Sekolah Minggu di sekitar Malang. Di situ saya berdoa, “Tuhan, semoga nanti saya mengajar di kelas yang besar dan kalau boleh anaknya baik-baik serta mudah diatur. Amin.” Sayangnya, Tuhan menjawab doa saya dengan styleNya. Saya terdiam dan terpaku ketika melihat papan pengumuman bahwa saya ditempatkan di kelas Batita.

Akhirnya datanglah hari di mana saya mulai mengajar di kelas Batita. Murid saya hanya 2 orang waktu itu. Saya pun menyiapkan cerita dan segala perlengkapan untuk membuat 2 murid saya ini betah dengan cerita saya, pikir saya. Waktu mengajar telah tiba dan murid yang datang di hari itu hanya 1 anak saja, yang sebelumnya saya dengar bahwa dia cukup sulit untuk diajak konsentrasi. Dalam hati, “Mateng kon!”, dalam bahasa Indonesia gaul anak muda dibaca: Mati aku!


Photo by Blake Meyer on Unsplash

Ketika mulai mengajar, rasanya malah seperti pertarungan antara Goliat melawan Daud. Badan saya yang besar berhadapan dengan anak itu yang kecil imut-imut. Dan hasilnya sudah bisa ditebak, kelas saya hari itu gagal total, seperti Goliath yang limbung akan Daud. Ketika saya bercerita, anak itu tidak mau mendengarkan sama sekali dan dia malah lari ke sana kemari. Saya minta kepada kakak kelas saya untuk membantu namun tetap tidak membuahkan hasil. Hari itu saya merasa sangat gagal. Saya telah gagal menjadi seorang GSM...

Di tengah pergumulan tersebut, seorang pembicara dalam pembinaan GSM yang saya ikuti memberikan selembar kertas berisi doa tentang seorang anak di sekolah minggu. Doa itu berbunyi demikian:

Tuhan . . .

Sudah 120 kali aku meminta kepada-Mu

Jangan beri seorang guru sekolah minggu

Yang tidak siap,

Yang sering terlambat,

Yang ketus lagi galak,

Yang tidak sayang padaku.

Tetapi . . .

Berilah seorang “guru yang baik seperti Engkau”

Tidak usah . . .

Indah suaranya, namun ramah senyumnya;

Cantik parasnya, namun pribadinya menarik;

Tegap badannya, namun lembut hatinya;

Bagus ceritanya, namun hidupnya memiliki Kristus

Agar . . .

Ketika aku sedih, aku dapat menangis di pelukannya

Ketika aku gembira, aku dapat tertawa bersamanya

Ketika papa dan mama berselisih, aku dapat . . .

Tertawa dan menangis bersamanya.

Tuhan . . .

Aku ingin “guru yang baik seperti Engkau”

Amin

Ketika membaca doa itu, saya terdiam. Mungkin sayalah guru yang tidak diinginkan oleh anak itu. Seringkali saya memilih jalan termudah dalam mengajar, daripada menghayati panggilan sebagai GSM. Lebih mudah bagi saya untuk mengajarkan Alkitab daripada menghidupinya. Lebih mudah memarahi anak yang nakal daripada memahami perilaku mereka dan menanggapinya dengan kasih. Lebih mudah bagi saya untuk terfokus kepada anak-anak yang lucu, imut dan instagramable untuk saya posting di social media dan mengatakan kepada dunia betapa saya mencintai pelayanan terhadap anak-anak. Lebih mudah bagi saya untuk mengabaikan mereka yang datang dengan baju yang bau, muka yang putih karena bedak yang tidak merata, membersihkan bekas ompol atau BAB anak yang kadang-kadang tertinggal di ruangan sekolah minggu. Doa yang sederhana itu sangat menghujam saya. Sekali lagi, saya telah merasa gagal untuk menjadi seorang GSM. Saya telah gagal karena karena seringkali terjebak dalam upaya menjadi GSM yang baik menurut versi saya, bukan GSM yang baik seperti Kristus seperti di dalam secarik kertas doa anak sekolah minggu.


Photo by frank mckenna on Unsplash

Di dalam Matius 18:1-6, kita melihat bagaimana murid-murid Yesus terjebak dalam upaya menjadi murid yang baik menurut versi mereka. Mereka sengaja datang kepada Yesus dan kemudian bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Saya membayangkan setiap murid menunggu nama mereka disebut oleh Yesus. Mereka sudah meninggalkan segalanya untuk memilih mengikut Yesus. Mereka layak untuk dinyatakan sebagai yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Atau mungkin ada yang merasa bahwa Petrus, atau Yohanes atau Yakobus lah yang mungkin masuk dalam kandidat sebagai yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Tetapi menarik sekali, Yesus tidak segera menjawab pertanyaan mereka. Dia justru memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka dan kemudian memberikan jawabanNya. Yesus menjadikan anak kecil itu sebagai contoh dari murid yang sejati. Murid yang sejati bukan berbicara tentang seberapa besar karya yang sudah dia lakukan. Bukan tentang populer di sana-sini. Bukan tentang seberapa banyak mengetahui firman Tuhan. Bukan tentang kesempurnaan. Namun, tentang bagaimana menjadi seperti anak kecil (lih. ay. 3 dan 4).

Anak-anak identik dengan ketidakberdayaan, tidak penting, kerendahan hati, kebergantungan, dan kepercayaan penuh. Kyle Idleman di dalam The End of Me mengatakan, “Tuhan Yesus memilih kelemahan sebagai latar terbaik untuk menunjukkan kekuatan-Nya. Kelemahan menciptakan ruang yang akan diisi oleh kekuatan Allah. Tuhan Yesus memakai anak-anak untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka.” Jangan lagi kita terjebak menjadi seorang yang baik menurut versi kita, tetapi berjuanglah untuk menjadi seorang yang baik menurut versi Allah. Dengan melihat anak-anak, Allah mengundang kita untuk menemukan Dia. Allah rindu kita bergantung kepada-Nya. Allah rindu kita mempercayai Dia sepenuh-Nya meskipun terkadang jalan-Nya membuat kita bingung dan ragu. Allah rindu kita tidak lagi mencari kebesaran menurut versi dunia, melainkan kebesaran hanya dapat diraih dengan kerendahan hati. Allah rindu kita tetap memiliki kerendahan hati di dalam mengikut Dia. Orang yang semakin mengenal Allah, seharusnya semakin menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah yang maha besar.

Selamat menemukan sapaan Tuhan melalui anak-anak di sekitar kita.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Matius 23:12

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE