Menemukan Allah Dalam Segala Hal

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 16 Mei 2018

Banyak orang Indonesia berprofesi sebagai pengacara, tetapi tidak semua memiliki 'keunikan' seperti Hotman Paris Hutapea. Bukan hanya melalui barang-barang branded yang kerap ia tonjolkan, pengacara kondang tersebut juga dikenal karena sering menjadi pengacara selebritis Indonesia dan kasus-kasus besar. Tak heran, julukan 'Celebrity Lawyers', ‘The Most Dangerous Lawyer’dan 'Bling-bling Lawyer' disematkan padanya.

Popularitas pria yang lahir pada 20 Oktober 1959 ini semakin meningkat ketika konten-konten Instagram pribadinya dilirik banyak netizen dan menjadi viral. Mengulik rutinitas sehar-harinya yang padat ataupun kegiatannya mendengarkan keluh kesah masyarakat sembari ngopi di sebuah kedai Johny, telah mewarnai linimasa dari hampir satu juta followers Instagramnya.

Siapa sangka, seorang Hotman Paris Hutapea yang sukses dan berkecukupan itu nyatanya pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak obat pembunuh serangga. Kejadian itu terjadi pada Maret 1983 dimana ia frustasi karena tekanan pekerjaan di dunia perbankan.

"Saya stres kerja di Bank, saya hampir bunuh diri minum baygon. Tapi saat saya mau minum, saya mendengar ketawa-ketawa tukang becak di pinggir jalan. Kok tukang becak aja bisa ketawa-ketawa, apalagi saya pegawai central bank," ungkapnya dalam video berdurasi satu menit dalam instagram @hotmanparisofficial.

Pencarian akan Allah

Satu kisah dalam Perjanjian Lama menuliskan kisah seorang panglima tentara Aram bernama Naaman yang disembuhkan (2 Raja-Raja 5:1-27). Karena kusta, Naaman mengalami penderitaan secara lahir batin. Penderitaan itulah yang mendorong sang raja untuk meminta Nabi Elisa untuk menyembuhkannya.

“Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” (ay.10) kata Nabi Elisa kepada seorang suruhan untuk menyampaikannya kepada Naaman. Naaman yang mendengar itu langsung gusar dan marah besar. “Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” (ay. 12). Ia mungkin berpikir bahwa dirinya akan disuruh untuk membasuh diri di sungai lain, yang lebih penting dan terkenal.

Melihat Naaman yang berpaling dan pergi dengan panas hati, pegawai-pegawainya lantas tak tinggal diam. Mereka mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir." (ay. 13). Dengan bahasa yang lain, mereka ingin berkata bahwa “Mengapa anda mengharapkan tugas-tugas yang spektakuler, sedangkan ia menawarkan hal yang sederhana? Lakukanlah hal yang sederhana!” Naaman akhirnya melakukan hal tersebut dan tubuhnya kembali pulih (ay. 14).


Photo by Annie Spratt on Unsplash

Pencarian kita akan Allah sering kali mirip dengan pengalaman Naaman yang disembuhkan. Kita mencari sesuatu yang spektakuler untuk meyakinkan diri sendiri pada kehadiran Allah, namun dalam hal-hal yang sederhana, melalui peristiwa yang biasa dan kerinduan yang biasa pula, ternyata Allah dapat juga ditemukan. Seorang profesor teologi bernama Michael Scoot Horton dalam salah satu bukunya menegaskan bahwa Allah pun menggunakan cara-cara yang biasa (ordinary) agar kita dapat bertumbuh di dalam kerohanian. Bahkan ia menilai, sebuah pencarian atas hal yang luar biasa (extraordinary) secara terus menerus adalah sebuah pandangan tentang pertumbuhan rohani yang tidak sehat.

Ingatlah kembali kisah Hotman Paris Hutapea. Hanya dari tawa tukang becak di pinggir jalan, Hotman menjadi sadar bahwa kegagalannya itu adalah titik dimana ia harus bangkit. Bahwa dari hal yang amat biasa –yakni tawa tukang becak di pinggir jalan– Allah bekerja dan dapat ditemukan disana.

Membiarkan Allah Menemukanmu

Menemukan Allah sering kali berarti menyadari secara nyata, Allah telah berkarya di sepanjang hidup kita. Kita telah belajar bahwa kehadiran-Nya tidak terbatas pada saat-saat yang indah dan spektakuler saja, melainkan juga dalam berbagai lintas peristiwa sehari-hari di mana kerap kali tidak kita sadari.

Dalam proses mencari dan menemukan Allah, James Martin SJ dalam bukunya The Jesuit Guide to (Almost) Everything justru memberikan cara pandang yang lain bahwa dalam berproses untuk menemukan Allah dalam segala aspek, kita juga harus memiliki kesadaran dan kerelaan hati untuk mau ditemukan-Nya. Ia menambahkan, “Dalam pengertian ini, yang sebenarnya terjadi bukanlah pertama-tama soal mencari Allah, tetapi membiarkan diri kita ditemukan oleh-Nya dalam segala situasi hidup ini di mana Dia tidak berhenti melewati kita dan membiarkan diri-Nya disadari keberadaan-Nya, begitu Dia telah melewati kita.”

Lima Tahapan

Dalam bukunya juga, James Martin SJ menuliskan langkah bagaimana kita dapat menyadari hadirnya Allah dalam lintas peristiwa sehari-hari, antara lain:

Pertama, rasa syukur. Kita diajak untuk kita menyadari kehadiran Allah, mengucap syukur atas berkat dan kasih karunia-Nya yang mengatasi segala kelemahan kita. Dalam tahap ini, kita harus mampu meningkatkan kesadaran bahwa segala yang baik datang dari Allah.


Photo by Ivana Cajina on Unsplash

Kedua, memohon rahmat untuk mengetahui dosa-dosa yang telah kita perbuat. Tahap ini mengajak kita melihat kembali penggal-penggal hari yang telah dilewati dan memohon pengampunan Allah atas apa yang terjadi di masa lalu. Kita juga meminta Roh Kudus untuk menerangi dan membuka budi serta hati dalam melihat kembali masa lalu.

Ketiga, mengulas peristiwa masa lalu. Kita dapat terbantu untuk membuat keputusan yang penting di dalam hidup dan tetap teguh melakukan yang baik.

Keempat, memohon pengampunan atas setiap kesalahan. Setelah mengetahui berbagai dosa-dosa yang telah diperbuat pada masa lampau, pada tahap ini kita diajak untuk memohon pengampunan dari Allah. Dan terakhir, memperbaharui diri dengan membangun sebuah niat untuk memperbaiki hidup kita dan membangun semangat untuk bangkit kembali. Dalam tahap ini, kita meminta berkat kepada Tuhan untuk menjernihkan perasaan dan pikiran kita untuk mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup dan merancang prioritas hidup untuk masa depan.

Kelima langkah tersebut kiranya membantu kita untuk menyadari dan peka akan kehadiran Allah sehingga harapannya, dalam kesadaran yang sama pula, kita semakin bisa menemukan dan ditemukan-Nya.

Selamat berjuang,

Ad Maiorem Dei Gloriam

Doa:

Kekuatan besar yang tak kuketahui

yang telah membentukku;

Di segenap masa yang gelap itu, Oh Allah,

Bukalah hatiku hingga kumengerti itu adalah Dikau

(sejauh imanku cukup kuat)

Yang tengah mencabik-cabik serat kehidupanku

Guna menembus langsung ke sumsum keberadaanku

dan menggendongku

di dalam Dirimu sendiri.

Amin.

“Gendonglah Aku”

Teilhard de Chardin (1881-1995)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE