Mendengar dan Menjawab Panggilan Tuhan di Zaman Now

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 15 Januari 2018
Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” - Yesaya 40:3

Banyak orang yang bilang bahwa mereka tidak tahu panggilan Tuhan dalam hidup mereka dan tidak sedikit yang mengambil kesimpulan bahwa Tuhan BELUM mengambil kita sebagai salah satu alat-Nya di muka bumi. Padahal mungkin bahan perenungan yang tepat adalah apakah kita sudah PEKA terhadap panggilan yang Tuhan berikan pada kita? Sebagai anak muda zaman now, tantangan terbesar dalam mendengar panggilan Tuhan adalah banyak ‘sumber suara’ lain yang lebih menarik perhatian. Suara duniawi seringkali terdengar lebih lantang di telinga dan hati kita sehingga kita cenderung mengabaikan suara Roh Kudus yang ‘membisikkan’ kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sebenarnya ada salah satu bukti panggilan Tuhan yang jelas-jelas tertulis dalam Alkitab, yaitu panggilan untuk memberitakan injil dalam kitab Matius 28:19-20 yang juga disebut sebagai “Amanat Agung”. Amanat tersebut diberikan pada kita untuk menyebarkan injil, sebuah kabar sukacita mengenai penyertaan Tuhan sampai kepada akhir zaman(ayat 20b).


Source: ffcgrow.com

Beberapa orang memang dipanggil secara khusus oleh Tuhan sebagai hamba Tuhan secara full-timer, namun bukan berarti kita yang tidak terpanggil melalui jalan tersebut tidak dapat menjadi mitra pekerja Allah di Bumi. Tuhan menciptakan setiap kita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing dan dari situlah kita dapat menjawab panggilan Tuhan yang unik dalam hidup setiap kita. Satu yang terpenting adalah sebuah kesediaan hati untuk menyerahkan hidup sepenuhnya dalam rencana dan kendali Tuhan bahkan dari hal sehari-hari yang kita lakukan.

Apa yang tertulis di Amanat Agung memang menggunakan frasa ‘menjadikan murid’, ‘baptislah’, dan ‘ajarlah’ terdengar seperti hal-hal yang biasa dikerjakan oleh misionaris atau hamba Tuhan full-timer. Terjemahan Alkitab bahasa Indonesia agak lemah dalam menyatakan maksud asli dari ayat ini. Kata perintah "pergilah" memberi kesan bahwa untuk dapat menjalankan Amanat Agung ini, seseorang harus meninggalkan rumahnya, pekerjaannya, atau kondisinya sekarang. Padahal, kata asli yang dipakai untuk "pergilah" (Yunani: poreuothentes) adalah dalam bentuk "aorist participle" dan lebih tepat diartikan sebagai "as the way you go" atau "ke tempat mana saja kamu pergi" atau "di mana saja kamu berada". Dalam artian lain, apapun yang kita lakukan, apabila itu sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita sedang mengerjakan panggilan Tuhan dalam hidup kita.


Source: Pinterest

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kita peka terhadap panggilan yang Tuhan berikan kepada kita? Bicaralah pada Tuhan. Berdoalah. Minta Tuhan untuk bekerja menurut kehendak-Nya. Apabila kita dihadapkan pada pengambilan keputusan yang sangat krusial, ambil waktu tenang sejenak, berbicaralah secara pribadi dengan Tuhan dan dengarkanlah suara Tuhan menuntun kita. Sembari terus memperjelas panggilan-Nya yang spesifik bagi kita, tak lupa kita harus giat dan berintegritas dalam melangkah maju di setiap jalan hidup kita. Dengan demikian, itu sama artinya dengan kita sedang menjawab panggilan Tuhan dalam hidup kita. Saat kita bersedia dan berusaha menjadi saluran berkat, sejatinya kita sedang berseru: “I listen, I obey, I do.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE