Melekat Pada Tuhan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 7 Februari 2018
Kehidupan ini tidak pernah jauh dari permasalahan dan pergumulan, dan di satu titik sayapun berpikir 'mau sampai kapan saya menjadi orang yang khawatir?'

“Apakah nanti saya bisa lulus?”

“Apakah nanti saya bisa dapat pekerjaan setelah lulus kuliah?”

“Bagaimana menyelesaikan semua tanggung jawab?”

“Rasanya saya memang tidak kompeten”

“Sepertinya saya tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini”

Mungkin itu lah yang sering saya pikirkan selama ini. Penuh keraguan dan kekhawatiran.

Mungkin kita pernah merasakan hal tersebut, namun yang jadi pertanyaan adalah sudahkah kita mencoba untuk memfokuskan pikiran kita kepada Tuhan? Dalam suatu acara Malam Puji & Doa yang dihelat oleh GKI Gading Serpong, saya diteguhkan tentang pentingnya mempercayai Allah. Mengangkat tema “Trust in God”, acara yang dilaksanakan pada Kamis, 25 Januari 2018, dipimpin oleh pendeta Jonathan Lo. Beliau memberikan beberapa kisah di alkitab yang mendorong kita untuk bisa sungguh mempercayai Tuhan, tetapi ada satu bagian yang sungguh melekat dalam pikiran dan hati saya yaitu kisah yang diambil dari Yosua 1:1-18. Dalam kisah ini Yosua menjadi pemimpin Israel yang baru, menggantikan Musa yang dapat dibilang adalah “mentornya” sendiri. Tuhan mengingatkan Yosua untuk tidak gentar dan tidak takut bahkan Tuhan berjanji bahwa Dia akan selalu menyertainya untuk dapat bisa pergi ke tanah perjanjian yaitu Kanaan.


Photo by Will van Wingerden on Unsplash

Kisah ini membuat saya merenung, sudahkah saya seperti Yosua? Sudahkah kita memiliki iman seperti Yosua yang mau percaya kepada Tuhan meskipun tahu bahwa masalah di depan kita sungguh amat besar? Banyak perkara dan masalah yang akan kita hadapi, tapi yang penting justru respons apa yang akan kita berikan? Apakah kita mau percaya dan berserah kepadaNya? Atau menyerah dan meninggalkanNya? Lalu bagaimana kita bisa seperti Yosua? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang mempunyai “iman” seperti para tokoh-tokoh alkitab itu?

Selain Yosua, cerita lain yang amat berkesan bagi saya adalah kisah iman dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka menolak untuk menyembah patung emas yang dibuat raja Nebukadnezar dengan sebuah pengakuan lantang, bahwa bukan saja mereka percaya Allah akan menyelamatkan namun juga meyakini bahwa kalaupun Tuhan tidak melakukannya, mereka tetap dengan teguh dan berani menolak untuk menyembah berhala (Daniel 3:1-30). Iman semacam itu membuat saya terkagum dan merenung. Kalau kita memposisikan diri sebagai salah satu dari nabi tersebut bisakah kita seperti mereka? Akankah kita mempertahankan “Iman” saya kepada Tuhan? Saya tahu bukan hal mudah untuk menjawab apalagi melakukan, namun inilah satu kata kunci penting dalam perjalanan memiliki iman yang demikian: Proses.


Photo by Daniel Hjalmarsson on Unsplash

Dengan mempunyai komunitas di gereja, mentor yang membimbing dan mendampingi, dan teman-teman yang dapat mendukung tatkala sedang jatuh, saya sadar dan bersyukur akan pentingnya berproses dalam kehidupan ini. Mungkin kita saat ini belum bisa menjadi seperti tokoh-tokoh Alkitab yang penuh dengan kebijaksanaan, keberanian, dan penuh dengan karakter-karakter yang baik dalam kehidupannya, tetapi kita bisa mulai menjadi demikian dengan sebuah kesediaan untuk berproses dengan terus dekat dan mencintai Tuhan. Apabila kita mengasihi Tuhan dan kita betul-betul mau mengenal-Nya, saya yakin sedikit demi sedikit karakter-karakter Tuhan akan tumbuh dalam kehidupan kita, dan Iman kita juga ikut dikuatkan untuk menjadi seorang pemenang dalam kehidupan ini. Hingga di tengah permasalahan apapun kita akhirnya mampu mendeklarasikan iman seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego.

“I close my eyes to the things I cannot control I'm letting go, I lift my hands I hear His voice guiding me through my fears and doubts He carries me, He lift me high He calms the storm to a whisper He stills the waves with His power With His hands working in my life I'll walk through valleys, whom shall I fear?” HIS Love – Jpcc Choir

Tanpa kebergantungan pada Tuhan, maka kita lemah, tidak berdaya, dan rapuh tetapi apabila kita mempunyai relasi yang erat dengan Tuhan kita akan bisa menyanyikan lagu tersebut di tengah-tengah permasalahan kita dengan hati yang tenang dan penuh kepercayaan kepada Tuhan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE