Maukah Engkau Berjalan Bersama-Ku?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 22 Januari 2018
Kita dapat melihat penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita, sebagai dasar optimisme bahwa Allah juga akan berjalan bersama kita saat kita berproses menuju sebuah impian yang akan kita capai.

“...Kami sudah masuk ke negeri itu”

Ada sebuah cerita, ketika Musa mengutus keduabelas kepala suku Israel untuk mengintai negeri Kanaan. Musa mengutus mereka selama 40 hari 40 malam ke negeri Kanaan untuk melihat seberapa layak negeri itu bagi bangsa Israel. Setelah melewati masa itu, kembalilah mereka, para pengintai, ke perkemahan sambil membawa pulang berbagai macam hasil dari tanah itu. Keduabelas pengintai itu melapor dan berkata bahwa: “Kami sudah masuk ke negeri itu dan memang negeri itu berlimpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya…”

Perkataan Tuhan terbukti benar, bahwa Ia, melalui Musa, memimpin bangsa Israel keluar dari negeri Mesir menuju ke sebuah tempat; membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah yang berlimpah susu dan madu.

Dalam memasuki tahun yang baru, kita merasa bahwa tahun yang baru ini merupakan tahun yang penuh dengan harapan-harapan indah. Bahkan, tidak sedikit dari kita mengatakan pada diri kita bahwa tahun ini merupakan “tahunnya gue”. Diri kita merasa bahwa tahun ini merupakan tahun dimana kita akan mewujudkan segala keinginan dan goals kita, seperti : Mengerjakan skripsi tepat waktu, menembak cewe, meraih nilai akademik yang baik, dan lain sebagainya.


Photo by Ambreen Hasan on Unsplash

“…Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu”

Memang keseluruh pengintai sepakat bahwa mereka melihat Kanaan merupakan tanah yang “sempurna”. Namun, mereka tidak bisa mengabaikan sebuah fakta, bahwa Kanaan merupakan negeri yang dijaga oleh benteng-benteng yang kuat, dan penduduk yang tinggal disana berperawakan tinggi besar nan menyeramkan. Bangsa Israel yang sudah di ambang tanah perjanjian tiba-tiba diperhadapkan pada suatu problema besar. Bangsa yang mendiami Kanaan terlalu kuat untuk dikalahkan. Ibaratnya Israel bagai belalang di hadapan raksasa. Daya serang Israel tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan militer yang dimiliki oleh negeri Kanaan yang dilengkapi dengan benteng-benteng pertahanannya. Mereka menyimpulkan bahwa Kanaan hanyalah mimpi bagi mereka.

Dalam perjalanan kehidupan, pada awalnya kita merencanakan sesuatu hal yang indah, yang akan kita capai. Berbagai proses kita jalani untuk mewujudkan goals itu. Namun sayangnya, ketika kita berproses, rintangan dan permasalahan datang silih berganti. Keputusasaan mulai muncul dalam benak kita seakan kita tidak sanggup untuk melewati permasalahan tersebut. Kita merasa bahwa permasalahan itu terlalu besar bagi kita. Sama dengan bangsa Israel, terkadang kita berfokus pada permasalahan itu, sehingga pesimisme dan keputusasaan menguasai pikiran kita dan mengganggu proses kita menuju goals yang sudah kita impikan


Photo by Afa Ah Loo on Unsplash

“…Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

Karena bangsa Israel hanya berfokus pada ketakutan mereka, maka bersungut-sungutlah mereka terhadap Musa dan Harun. Mereka merasa putus asa dan tidak mau masuk ke negeri itu. Bangsa Israel sangat ketakutan saat mendengar cerita tentang Kanaan. Kisah tentang hasil bumi yang melimpah dan subur tidak diterima oleh mereka. Namun mereka malah menyesali Tuhan dan rencana-Nya, serta memilih mati daripada harus mengikuti rencana Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan yang mengeluarkan mereka dari Mesir. Bagi mereka, lebih baik diperbudak di Mesir daripada berjuang meraih tanah perjanjian. Sebab itu mereka ingin kembali ke Mesir. Bahkan, mereka ingin mengangkat pemimpin baru agar mereka kembali ke tanah Mesir.

Seperti kehidupan kita, ketika berfokus pada sebuah permasalahan, kita mencapai sebuah titik terendah, dimana kita memandang rendah Tuhan, seakan kita tidak mempercayai lagi bahwa Tuhan sedang bersama dengan kita saat kita berproses. Kita merasa bahwa lebih baik menyerah dan tidak usah mengerjakan apapun, daripada mengusahakan sesuatu yang menurut kita tidak mungkin terwujud. Kita marah kepada Tuhan, merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita dan kita berpikir bahwa Tuhan sedang membawa kita terhadap rancangan yang membuat kita celaka.

“…janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis”

Kaleb dan Yosua merupakan dua dari keduabelas pengintai yang tampil berbeda. Mereka optimis dan percaya bahwa Tuhan akan beserta dengan bangsa Israel ketika mereka masuk ke tanah Kanaan. Namun, seperti yang kita tahu, bangsa Israel sudah dikuasai oleh ketakutan, sehingga mereka tidak mempedulikan perkataan Kaleb dan Yosua. Malahan, mereka ingin merajam mereka dengan batu, sebagai bentuk ketidakterimaan mereka terhadap perkataan itu.

Optimisme Kaleb dan Yosua patut kita teladani. Mereka mengalami sendiri bagaimana Tuhan menuntun bangsa Israel selama 40 tahun, dan mereka merasakan sendiri bagaimana permasalahan-permasalahan yang muncul sepanjang perjalanan mereka dapat terselesaikan di dalam pimpinan Tuhan. Mereka berdua melihat sebuah realita bahwa Kanaan merupakan hal terakhir yang patut diperjuangkan sebelum pada akhirnya mereka menikmati seluruh janji Allah.

Visi dan Keyakinan

Visi merupakan gambaran tentang keadaan di masa yang akan datang. Dengan visi, kita berusaha menentukan apa yang kita ingin capai/goals yang akan kita wujudkan. Visi berjalan beriringan dengan harapan dan keyakinan (iman).

Iman sangat mempengaruhi pencapaian kita, terkhusus saat kita menghadapai berbagai permasalahan. Ketika kita yakin bahwa kita terlalu lemah, maka kita tidak secara sempurna dapat mewujudkan impian kita. Bahkan mungkin akan lebih cenderung gagal!

Namun, ketika kita percaya bahwa Allah bersama dengan kita, maka sebuah optimisme akan turut serta dalam mewujudkan impian itu. Iman Kaleb dan Yosua merupakan sebuah keyakinan bahwa Allah beserta dengan mereka dalam keadaan tersulit pun. Ketika kita tidak mempunyai iman yang mempercayai penyertaan Allah, Visi akan menjadi sebuah ilusi yang akan lenyap ketika masalah datang.


Photo by Steve Halama on Unsplash

Dalam memori akan penyertaan Allah terhadap bangsa Israel di padang Gurun, Kaleb dan Yosua percaya bahwa Allah juga akan berjalan bersama mereka saat mereka akan masuk ke negeri Kanaan. Begitu juga dengan kita semua. Kita dapat melihat penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita, sebagai dasar optimisme bahwa Allah juga akan berjalan bersama kita saat kita berproses menuju sebuah impian yang akan kita capai. So.. dalam mewujudkan impian, milikilah iman seperti Kaleb dan Yosua, dan marilah kita berjalan bersama dengan Tuhan!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE