Masihkah Kita Memilih Diam di Depan Salib-Nya?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 April 2017
 

Saya terkejut saat membaca berita di www.bcc.com tentang jumlah akun Twitter yang dimiliki Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Di kuartal terakhir tahun 2014 setidaknya ada 46.000 akun Twitter yang berkicauan atas nama ISIS dan jumlahnya pun terus bertambah sampai saat ini. Data ini diperoleh dari “The ISIS Twitter Sensus”, sebuah penelitian yang dilakukan J.M. Berger dari Brookings Institution dan seorang ahli teknologi bernama Jonathon Morgan.

Bayangkan berapa banyak kicauan bernada penuh kebencian yang bermunculan di sosial media. ISIS menjadikan media sosial sebagai bagian penting dari strategi “pemasaran” mereka dimana rata-rata umur pendukungnya berkaitan erat dengan demografi kaum muda penggunanya. Dari hal tersebut dapat dilihat betapa seriusnya mereka menggunakan Twitter sebagai media pemasaran. Mereka yang terpisah jarak ribuan kilometer dari medan perang, jauh dari aksi dan paham radikalisme serta gambaran lain tentang ISIS bisa sekejap berubah menjadi mereka yang paling tahu dan paling antusias mengikuti perkembangannya. Darimana lagi sumbernya kalau bukan dari media sosial? Luar biasa bukan?

Jika kita mengamati media sosial yang berseliweran di sekeliling kita maka postingan bernada ejekan yang mengarah kepada kebencian menjelang momen Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) makin mendominasi. Dalam jumlah yang tak pasti di setiap hari mulai bermunculan orang-orang atau bahkan kelompok tertentu yang “mendewakan” calon kepala daerah pilihannya. Pesta demokrasi yang katanya harus dirayakan bersama dan dijunjung tinggi justru memercik bumbu perpisahan orang yang satu dengan yang lainnya. Pun begitu antara kelompok yang satu dan kelompok lainnya.

Saya meyakini dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari masih banyak orang yang menjunjung tinggi toleransi. Namun sayangnya beberapa di antara mereka lebih memilih diam dan mengambil sikap apatis. Boro-boro mau bertindak, bersuarapun bukan pilihan menarik dalam pikiran mereka. Saya menebak pilihan diam seperti ini serupa dengan putusan akhir yang diambil Pilatus saat menyalibkan Tuhan Yesus walaupun ia tidak menemukan kesalahanNya. Kemana suara orang banyak yang mengeluelukan Tuhan Yesus saat Ia masuk ke Yerusalem? Matius 21:8 menceritakan betapa banyaknya jumlah orang yang membuat gempar kota Yerusalem saat menyambut kedatangan-Nya dan betapa ruh suasana saat itu. Namun kemana suara-suara itu saat Dia diadili di hadapan para Imam Besar dan Mahkamah Agama? Semua suara mereka hilang bak ditelan bumi. Sunyi. Senyap. Mereka memilih diam karena mungkin takut atau jangan-jangan sudah tidak peduli lagi kepada Sang Guru.

Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan
Matius 21:8

Sikap diam bukan saja dilakukan oleh orang banyak tetapi bahkan oleh orang-orang terdekat Tuhan Yesus. Jangankan bersuara, para murid (Petrus) bahkan menyangkal-Nya saat Kebenaran perlu dinyatakan. Yohanes 18: 12-27 mengisahkan bagaimana reaksi dan jawaban yang ditunjukan Petrus ketika seorang hamba penjaga pintu menanyakan hubungannya dengan Tuhan Yesus.

Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus ”Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan!”
Yohanes 18:17

Ada seorang tokoh yang menunjukan sikap yang seharusnya dapat kita teladani di tengah situasi saat ini yang minim welas asih. Namanya Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Dalam Injil Yohanes, dialog pertama yang dilakukannya berlansung di malam hari. Malam hari memang waktu yang pas untuk berdialog secara intens dengan Sang Guru. Namun di sisi lain, malam hari juga menggambarkan situasi dimana Nikodemus belum berani secara terbuka belajar mengenal Tuhan Yesus. Sebagai pemimpin agama Yahudi tentu ada begitu banyak halangan untuk belajar secara terbuka dari Guru yang diutus Allah ini. Penghalang itu bisa berupa kekuatiran akan anggapan orang banyak seperti yang disebut dalam Yohanes 12:42-43 yang mengatakan bahwa banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia daripada kehormatan Allah. Di akhir percakapan yang diceritakan dalam Yohanes 3:1-21, Nikodemus belum mengerti betul apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus tentang kelahiran kembali. Namun kisah itu menjadi awal kisah keberanian Nikodemus untuk bersuara membela Tuhan Yesus.

Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?
Yohanes 7: 51

Bukan hanya mulai berani bersuara, namun Nikodemus juga menunjukan tindakannya kepada Tuhan Yesus. Di saat hampir semua murid-murid Tuhan Yesus melarikan diri kala Sang Guru dihukum mati, Nikodemus mengambil peranan penting saat Yesus dikuburkan. Ia yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus (telah mati pada saat itu) dan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya (Yohanes 19:39). Sungguh sebuah tindakan berani saat itu yang dilakukan Nikodemus. Di saat orang-orang membenci Tuhan Yesus, Nikodemus justru memulai relasi dengan Tuhan Yesus melalui tindakan sembunyi-sembunyi lewat percakapan di malam hari, lalu menyuarakan kebenaran, sampai akhirnya mengambil sikap tak terduga di saat orang lain memilih untuk diam tak bersuara.

Ditengah situasi saat ini yang penuh dengan berita sarat kebencian, sudah waktunya setiap kita yang mengaku dan percaya kepada-Nya bersuara. Kita harus melawan segala bentuk ketakutan yang menghantui kita sehingga menggiring kita kepada sikap diam daripada bersuara. Diam tidaklah lebih baik daripada tidak melakukan kejahatan, karena ketika kita memilih diam, saat itu juga banyak orang yang merasa was-was dan ketakutan. Bukankah situasi seperti itu yang terjadi saat peristiwa pengadilan Tuhan Yesus menjelang penyaliban? Banyak orang memilih diam daripada menyuarakan pembebasan bagi Tuhan Yesus. Saya membayangkan jika banyak orang Kristen yang meneladani Nikodemus dalam menjalani kehidupan di negeri ini melalui kasih yang “disuarakan” sama lantangnya dengan para penebar kebencian, maka pastilah kasih akan mendamaikannya. Kebencian pasti reda karena kasih terus menggema.

Selamat memaknai Jumat Agung, bersuaralah dan sebarkan kasih agar dunia mendengar dan melihatnya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE