Makna yang Didapatkan Seorang Kristen dari Perayaan Idul Fitri

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 Juni 2018
“Rahim yang bagaikan rumah dan yang menerima kita apa adanya telah memanggil kita untuk berpulang, mengarah dan tertuju kepadanya. Seperti kisah anak yang hilang dalam Injil Lukas. Dalam proses berpulang itu pun, kita seringkali menilai bahwa diri kita berdosa, tidak pantas dan tidak layak, namun, Sang Bapa tetap memberikan jubah, cincin, sepatu yang terbaik dan bahkan menyembelih anak lembu tambun sebagai bukti sukacita sang ayah atas berpulangnya sang anak”

Bulan Juni ini menjadi bulan yang paling dinantikan oleh banyak orang di sepanjang tahun ini. Bagaimana tidak, Pemerintah secara resmi sudah mengeluarkan kebijakan menambah tiga hari cuti bersama sehingga dengan demikian libur lebaran 2018 akan dimulai pada 11 Juni dan berakhir 19 Juni 2018. Keputusan tersebut dinilai telah memecahkan rekor karena dalam 11 tahun terakhir, cuti libur Lebaran hanya berkisar 4-6 hari.

Belum lagi, pada tanggal 23 Mei silam, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13. Walau menimbulkan banyak pro-kontra, kebijakan ini setidaknya dinilai positif oleh masyarakat karena akan menambah besaran THR yang akan didapatkan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, menjadi sebuah kegembiraan tersendiri bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan formal baik di sekolah maupun Universitas sebab di bulan Juni ini, sebagian besar insititusi pendidikan sudah menyelesaikan aktivitas akademik nya di semester genap. Peristiwa ini tentu disambut baik oleh para nara didik karena liburan yang mereka nantikan tersebut akhirnya telah tiba.

Berbagai alasan yang telah disebutkan di atas tampaknya tidak bisa dilepaskan dari Perayaan Idul Fitri yang jatuh pada 15 dan 16 Juni 2018 mendatang. Perayaan yang disebut juga sebagai “hari kemenangan” akan dirayakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Islam sebagai suatu momentum kemenangan atas berbagai nafsu diri yang telah mereka lewati dengan berpuasa penuh selama satu bulan lamanya.

Indonesia yang disebut sebagai negara yang majemuk telah mengkonstruksi perayaan tersebut. Tidak sebatas perayaan spiritual, Idul Fitri dinilai telah melampaui diri menjadi perayaan kultural, sehingga bukan sesuatu yang asing jika berbagai kelompok etnik, suku bangsa dan agama di Indonesia juga merayakan hari kemenangan tersebut.



By Harsh Bhushan Sahu on Unsplash


Berpulang

Bagi saudara-saudara kita yang beragama Islam, Idul Fitri dimaknai sebagai momen kembalinya hakikat kemanusiaan kepada kesucian dan fitrah. Kesucian itu kerap kali digambarkan layaknya bayi yang baru lahir setelah dikandung selama 9 bulan dalam rahim ibu.

Kata ‘rahim’ juga merujuk pada nama Allah. Allah Rahim (Ar Rahiim) diartikan sebagai Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang. Sebuah makna yang mendalam di mana Allah begitu menyayangi umat-Nya dan Allah rindu pada umat-Nya untuk kembali berpulang ke dalam fitrah-Nya.

Dalam spiritualitas Kristen, Allah juga disebut sebagai Maharahim. Rahim merujuk pada perempuan, terkhusus pada rahim ibu. Rahim dimaknai sebagai bagian yang sungguh rapuh, namun di satu sisi, disitulah muncul benih kehidupan. Dalam kerapuhan itu, rahim telah menunjukkan hubungan cinta yang searah antara sang ibu dengan sang buah hati. Di situlah hadir cinta yang melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat.



By Andreas Wohlfahrt on Pexels


Sebutan Allah Maharahim sebenarnya ingin menegaskan bahwa Ia tetap setia dan mau menerima kita walaupun berlumuran dosa sekalipun. Sebuah kepastian bahwa cinta-Nya tak berkurang sedikit pun walaupun kita adalah manusia yang rapuh layaknya rahim. Nabi Yesaya menegaskan nya bahwa “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes 49:15).

Rahim bagaikan rumah yang menerima kita apa adanya. Kita pun dipanggil untuk berpulang, mengarah dan tertuju kepadanya. Kita pun seperti kisah anak yang hilang dalam Injil Lukas (Luk 15:11-32). Dalam proses berpulang itu pun, kita seringkali menilai bahwa diri kita berdosa, tidak pantas dan tidak layak (ay.21) namun, Sang Bapa tetap memberikan jubah, cincin, sepatu yang terbaik dan bahkan menyembelih anak lembu tambun sebagai bukti sukacita sang ayah atas berpulangnya sang anak (ay. 22-23). Rembrandt dalam lukisan nya “The Return of the Prodigal Son” bahkan menggambarkan sang bapa yang hadir dengan tangan yang terbuka untuk merangkul sang anak yang telah berpulang tersebut.


Ruang Pengampunan

Salah satu budaya yang senantiasa melekat dari perayan Idul Fitri adalah mudik. Puluhan juta orang telah meninggalkan daerah asalnya untuk mengadu nasib, memperbaiki kehidupan dan mencapai kemapanan dengan hijrah ke perkotaan. Pada momen Idul Fitri, mereka akan kembali ke kampung halaman nya untuk merasakan kembali suasana kekeluargaan yang penuh kebersamaan dan kehangatan. Kota-kota besar di Indonesia seketika akan sunyi senyap, sebaliknya, desa akan sangat padat dan penuh sesak.



By Matthew Ang on Pexels


Budaya mudik pada momen Idul Fitri tidak hanya sekedar bercengkrama dengan sanak keluarga, lebih dari itu, ruang pengampunan tercipta. Anggota keluarga akan saling memaafkan satu sama lain dan dalam budaya tertentu, para anak akan sungkem kepada orang tua sebagai simbol ruang pengampunan. “Mohon maaf lahir dan batin” menjadi perkataan yang lazim diungkapkan pada momen Idul Fitri.

Momentum untuk kembali kepada kesucian sebenarnya dimulai dari kerelaan hati untuk mau memaafkan. Ruang pengampunan dalam momen Idul Fitri tidaklah dimaknai secara sempit, yakni hanya sebagai formalitas semata dan sebagai usaha hanya untuk melupakan kesalahan orang lain. Lebih dari itu, memaafkan sebenarnya sebuah tindakan yang dilakukan dengan penuh kerendahan hati untuk mau mengakui kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang lain serta kerelaan untuk saling menuntun menuju kepada kesucian (fitrah).

“Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” adalah salah satu kutipan yang sangat terkenal yang tercantum dalam Doa Bapa Kami (Mat 6:9-13). Doa tersebut mengajak kita untuk menghadirkan ruang pengampunan yang penuh dengan ketulusan, ihklas dan tanpa dendam. Jika berdosa merupakan suatu hal yang insani, maka pengampunan dan tindak memaafkan adalah tindakan yang Ilahi. Melalui pengampunan dan tindak memaafkan, kita diundang untuk melampaui ke-insan-an diri kita menuju kepada ke-ilahi-an.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perbolehkan saya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriah kepada para sahabat-sahabat yang merayakannya. Mari kita berpulang kembali menuju fitrah dengan menghadirkan ruang pengampunan yang penuh dengan ketulusan, ihklas dan tanpa dendam. Melaluinya, kita akan melampaui ke-insan-an diri kita menuju kepada ke-ilahi-an. Semoga!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE