Lelah Mengejar Kekinian? 3 Hal Berharga dari Seorang Rasul-Nya Ini Akan Membuat Kita Dapat Menerima Diri Lebih Baik

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 9 February 2017
‘Cause every inch of you is perfect from the bottom to the top!

Familiar dengan kalimat di atas? Ya! Itu adalah bagian dari lirik lagu milik Meghan Trainor. Menarik saat kita perhatikan lagu-lagu yang dinyanyikan olehnya. Beberapa single lagu berbicara tentang kepercayaan diri. Walau postur tubuh Meghan untuk masyarakat umum bukanlah postur yang didambakan kebanyakan orang, Meghan justru menunjukkan keberadaan dirinya dengan positif. Dia menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya pun indah, cantik, dan tidak menjadikan postru tubuh seperti apapun sebagai suatu masalah.

Youth, seringkali kita menetapkan standar-standar tertentu dalam diri kita dan orang lain, bahwa ‘yang begini’ ini yang lebih baik; yang kurus, yang putih, yang sixpack, dan lain sebagainya. Sehingga ketika standar itu tidak dapat kita penuhi, kita jatuh pada permasalahan yang namanya tidak percaya diri. Sekarang coba cek diri kita – apakah kita sedang merasa bermasalah dengan keberadaan diri kita? Fisik kita, kemampuan kita, atau apapun tentang diri kita? Kalau iya, yuk kita mau belajar dari kehidupan seseorang.

Ia hidup sebelum Yesus. Matius 3:4 mencatatkan bahwa ia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya adalah belalang dan madu hutan. Yup! Dia adalah Yohanes Pembaptis. Siapa yang tidak tahu nama ini? Ia adalah ‘pembuka jalan’ kedatangan Yesus ke dunia. Bahkan Tuhan memperkenankan dia untuk membaptis Yesus! Luar biasa bukan?

Yohanes Pembatis sendiri adalah anak dari dua orang tua yang hidup benar di hadapan Allah dan selalu menuruti perintah Allah (Luk. 1:6). Mereka adalah Zakharia dan Elisabet. Secara otomatis kita dapat menarik konklusi bahwa dia adalah anak dari keluarga terpandang dan terhormat di kalangan masyarakat Yahudi. Namun menariknya, ada banyak pilihan dari Yohanes Pembaptis yang anti-mainstream jika disandingkan dengan mindset dunia.

  1. Sederhana dalam berpenampilan.

                 As we know, youth, karena tuntutan social media saat ini, orang bahkan rela memangkas uang kebutuhan utamanya hanya untuk selalu update dengan mode terbaru. Singkatnya, begitu banyak yang memberhalakan fashion. Namun apa yang diteladankan oleh Yohanes Pembaptis sepenuhnya berbeda.

                 Seorang imam biasanya memakai pakaian yang mewah. Kalaupun tidak mewah paling tidak pakaiannya berlapis-lapis dan orang pasti langsung tahu bahwa ia adalah imam. Sebagai seorang laki-laki, sudah ditentukan pula saat itu bahwa pakaian mereka sangat berlapis. Dimulai dari ezor yang terbuat dari bahan lenan di bagian dalam yang bersentuhan dengan kulit, lalu kuttonet seperti jubah yang menutup pundak sampai mata kaki, dan biasanya terbuat dari wol, dilanjut khagora yang terbuat dari wol/lenan dan dililitkan di sekitar pinggang, dan terakhir simla/salma, yang panjangnya mencapai bawah lutut.

                 Benar-benar berlapis, bukan?!

                 Tetapi apa yang tadi bisa kita lihat dari Mat. 3:4? Dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis lebih memilih untuk memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit! Itu saja sudah cukup baginya. Pilihannya ini bukan hal sembarangan, namun jelas menunjukkan penghayatannya akan kesederhanaan hidup. Bagaimana dengan kita?

  2. Makan Secukupnya.

    "Mau kekinian? Ke kafe dong! Jepret makanan yang photogenic juga jangan lupa!"

    Kayaknya hal itulah yang jadi trending habit di dunia pemuda milineal saat ini. Tapi mari kita kembali bercermin pada Yohanes Pembaptis. Dengan background keluarga imam, yang namanya makanan tentu tidak kurang-kurang. Mungkin secara ekonomi tidak melimpah ruah, tetapi untuk makanan sehari-hari sudah dipastikan cukup, seperti roti, gandum, buah ara, dan semacamnya. Semua menu itu tidak susah untuk Yohanes Pembaptis peroleh. Namun demikian, ternyata apa pilihan makanannya? Ya! Belalang dan madu hutan! Pilihan makanan yang unik dan menarik, yang juga ia pilih berdasarkan salah satu peraturan Yahudi (Im. 11:20-23). Pilihan ini juga menggambarkan kehidupan amat sederhana dan secukupnya yang Yohanes Pembaptis pilih. Nah apa kabar kita? Jangan-jangan demi menu kekinian kita justru memunculkan syarat hidup yang tak perlu dan membuat kita jauh dari syukur.

  3. Berkarya!

    Kalau kita bayangkan postur Yohanes Pembaptis, mungkin kita bisa bayangkan seseorang dengan wajah dan badan yang tidak terurus, kotor dan semacamnya. Eits, tapi jangan salah! Mungkin tampilannya sederhana, tetapi apa yang di dalamnya adalah luar biasa. Mat. 14:12 yang mencatatkan kematian Yohanes Pembaptis menyebutkan bahwa “murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya...” Yohanes Pembaptis punya murid! Itu berarti bahwa ia adalah seseorang yang berkarya, punya kemampuan dan kapabilitas yang sangat baik sehingga orang mau belajar padanya. Namun meskipun ia memiliki murid, ia sadar tentang apa yang ia ajarkan, yakni mengenai kedatangan Sang Mesias. Orang seringkali menganggap dia adalah Mesias. Namun ia jelas menyatakan bahwa “Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan bahkan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak...” tentu yang ia maksud adalah Yesus Kristus (Mat. 3:11; Luk. 3;16). Yohanes Pembaptis hidup berkarya bagi Allah, menjadi pembuka jalan bagi kedatangan Kristus.

Lalu dari itu semua, apakah untuk kita yang hidup di jaman sekarang fashion dan wisata kuliner adalah hal yang salah? Tentu tidak. Melainkan dari Yohanes Pembaptis ini kita bisa belajar bahwa yang terpenting adalah apa yang kita hadirkan bagi orang lain. Orang boleh memandang kulit luar. Akan tetapi jika hati, pikiran dan tindakan kita menghadirkan hal yang buruk, maka tampilan baik kita akan segera menjemukan dan kehilangan pesona. Tetapi sebaliknya, hidup yang berkarya, menghargai diri apa adanya, itu justru yang dicari dan dibutuhkan. It’s all about that base, bro! Semua berdasarkan apa yang ada dalam diri kita, apa adanya, dan berdasarkan dasar kita yang utama, yang adalah Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. So, just be yourself! Be confident! Dan berkaryalah bagi-Nya!  (efym)

lelah-mengejar-kekinian-3-hal-berharga-dari-seorang-rasul-nya

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE