Kisah Underdog di Tangan Penguasa Sejarah (Bagian 1)

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Agustus 2018
“Saya bangga sekali bisa meraih medali emas di sini karena saya membuat sejarah.” Muhammad Zohri, peraih medali emas lomba lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik Junior Finlandia Juli 2018

Kita menemukan banyak kisah underdog di sekeliling kita hari-hari ini. Underdog sendiri dimaknai sebagai pihak yang memiliki kesempatan kecil bahkan diremehkan untuk mendapat peluang. Mulai dari tim Kroasia (sebuah negara kecil yang baru pulih dari perang) yang masuk final Piala Dunia sampai Muhammad Zohri, si anak miskin dari desa kecil di Lombok. Mereka semua tak pernah diprediksi untuk menang. Mereka adalah “kuda hitam” dalam kiasan bahasa Indonesia. Ungkapan from zero to hero sungguh tepat untuk menggambarkan mereka. Sejarah selalu dipenuhi kisah-kisah underdog yang mengubah catatan sejarah, semacam si Daud kecil yang mengalahkan raksasa Goliat.

Sejak kapan manusia menyadari kemampuannya mengubah sejarah? Manusia pra-modern percaya bahwa jalan hidup setiap orang sudah ditentukan dari sononya sebelum orang itu lahir. Dalam filsafat Aristoteles, seorang prajurit hendaknya menjalankan kewajibannya sebagai seorang prajurit dan jangan berbisnis atau bertani. Sedangkan dalam sistem etika Konfusius, seorang manusia yang mulia hendaknya berbakti kepada orang tua, masyarakat, dan negara. Demikianlah setiap orang sudah memiliki tempatnya masing-masing di dalam kosmos ini. Tempat itu bukan ditentukan oleh diri individu, melainkan sudah digariskan sebelum dia lahir.



Photo by Nathan Dumlao on Unsplash


Walaupun masih dapat diperdebatkan, secara umum dapat dikatakan bahwa falsafah hidup pra-modern berpusat pada kosmos yang lebih besar daripada individu. Individu tak akan mampu mengaktualisasikan dirinya di luar kosmos. Individu manusia hanyalah setitik debu dari kosmos. Kemudian datanglah zaman di mana manusia menyadari potensi akal budinya: zaman pencerahan (Enlightment) atau zaman modern. Manusia modern adalah manusia yang merasa mampu mengubah nasibnya, sejarah hidupnya, bahkan mengubah jalannya sejarah dunia dan akhirnya mengubah kosmos melalui akal budinya.

Kita ini, konon, selalu hidup di antara kedua zaman di atas. Orang Asia, yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kepercayaan pra-modern, selalu menyadari ada hal yang tak bisa diubah, tapi tak menyerah dalam perjuangan untuk bebas darinya dengan bantuan akal budi yang sudah diperbarui melalui pendidikan (barat) modern.

Orang Kristen mungkin mirip orang Asia. Representasi orang Kristen yang saya pilih di sini adalah Martin Luther King, Jr., pejuang hak asasi Amerika yang terkenal dengan slogan tough mind, tender heart. Katanya dalam salah satu tulisannya, “We are not makers of history; we are made by history.” King juga percaya pada Tuhan yang memegang kendali atas sejarah dan sanggup mengintervensi sejarah, kapanpun Dia mau. Dalam sebuah khotbah di bulan Mei 1954, King mengajak jemaatnya untuk siap berkorban demi “great progressive moves of history.” Sejarah terlihat seperti sebuah sungai yang mengalir di mana kita harus berenang di dalamnya kalau tidak mau tenggelam di dalamnya atau tertinggal di tepian.



Photo by Jerry Kiesewetter on Unsplash


Para pejuang Indonesia yang mendapat pendidikan Eropa kelihatannya memiliki cara pandang yang mirip. Soekarno dan Hatta beserta founding fathers lainnya berhasil menggerakkan seluruh bangsa Indonesia untuk mau berjuang mengubah nasibnya. Bertahun-tahun dijajah, mereka mengerti apa artinya jatuh bangun dan bangkit lagi, sabar dalam menanti kesempatan dan merebut kesempatan dengan belajar mengambil keuntungan dari keadaan Eropa yang pada saat itu sedang bergolak hebat di tengah dua perang dunia.

Mereka menjadi ahli sejarah langsung lewat pengalaman nyata. Mereka pandai mengamati ke mana “angin bertiup”, memanfaatkannya untuk berselancar menunggangi gelombang yang melanda Eropa dan dunia. Perjuangan yang memakan waktu begitu lama melatih mereka untuk menjadi pelaku sejarah sekaligus pembuat sejarah yang andal. Berbekal pengalaman, kekuatan ide, imajinasi kebangsaan, dan bulatnya tekad seluruh bangsa serta situasi dunia menjelang akhir perang dunia kedua, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Indonesia mengejutkan dunia ketika itu, termasuk Belanda yang selama ini melihat mereka sebagai underdog, orang-orang yang biasa direndahkan Belanda dengan kalimat “Verboden voor Honden en Inlander” (Terlarang bagi anjing dan pribumi) yang lazim terpasang di pintu masuk di tempat-tempat eksklusif Belanda pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, Soekarno menyimpulkan semua pengalaman generasinya dalam sebuah keyakinan (sebagaimana tertulis dalam buklet pidato perayaan hari kemerdekaan RI tahun 1962 halaman 34), bahwa, ”Tiap perdjoangan menentang kolonialisme achirnja akan dimenangkan oleh fihak pedjoang Kemerdekaan, oleh karena djalannja Sedjarah menghendaki kalahnja kolonialisme itu. Kita telah berbuat sesuai dengan djalannja Sedjarah, dan oleh karena itulah kita menang…Kemenangan ini adalah Karunia Tuhan. Pemberian Tuhan! Belas kasihnja Tuhan! Dialah yang membuat. Dialah jang memberi. Karena itu djanganlah mentjongkakkan diri.” Bagi Soekarno, yang mungkin dipengaruhi filsafat Hegelian, Tuhan mengejawantah dalam Sejarah (dengan “S” kapital). Tugas kita, menurut Soekarno, adalah mempelajari dan mengenali Sejarah itu dengan rasio, akal budi yang juga menubuh dalam Sejarah dan berjuang selaras dengan ke mana Sejarah mengalir.



Photo by João Silas on Unsplash


Kebanyakan orang tidak berpikir seperti Soekarno. Perubahan dimulai dari diri kita sendiri, demikian keyakinan kita. Presiden Jokowi, seorang Sukarnois, menyerukan Revolusi Mental— yang mungkin juga berasal dari pemikiran Bung Karno. Dalam buklet yang sama di halaman 36, Soekarno berpidato,


“Revolusi adalah pembongkaran barang tua diganti dengan barang baru…Revolusi harus melempar djauh-djauh, bahkan menghantam hantjur-lebur, fikiran-fikiran kuno, dan harus menegakkan, menggemblengkan, mengkobar-kobarkan fikiran-fikiran baru, tjara-tjara baru, konsepsi-konsepsi baru, tjipta-tjipta baru, landasan-landasan baru, tindakan-tindakan baru…Revolusi adalah “a do-it-yourself-outfit”, Revolusi adalah suatu hal jang harus didjalankan dengan aksimu dan idemu sendiri.”


Barangkali inilah yang disebut-sebut sebagai Revolusi Mental. Singkatnya, revolusi harus dimulai dari diri yang berniat untuk bebas dari yang lama, mencipta (sejarah) yang baru. Revolusi mental begitu susah dilakukan karena kemalasan kita, kebiasaan-kebiasaan buruk atau sempitnya cara pikir kita, dan segala hal yang merupakan kelemahan pribadi kita, tetapi bisa saja semua kelemahan di dalam diri kita tercipta karena pengaruh zaman, pengaruh masyarakat dan bangsa, pengaruh sejarah.

Misalnya, orang tua saya yang hidup di zaman perang atau zaman susah memiliki kerajinan dan keuletan jauh melebihi generasi sekarang yang hidup di zaman serba instan dan serba ada. Jadi ada benarnya kalau karakter pribadi dibentuk oleh semangat zaman atau sejarah. Sampai di sini sejarah bukan lagi bicara hal-hal yang sudah lewat saja, sejarah adalah catatan peristiwa penting di masa lalu sekaligus alur narasi kehidupan kita bersama di masa kini yang menentukan arah kehidupan di masa depan.


Baca bagian selanjutnya:

Kisah Underdog di Tangan Penguasa Sejarah (Bagian 2)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE