Kisah Underdog di Tangan Penguasa Sejarah (Bagian 2)

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Agustus 2018

Mari kita lihat sebuah kisah underdog lain dalam Markus 7:24-30. Seorang perempuan berbudaya atau beragama Yunani, orang asli (mungkin ras?) Siro-Fenisia, “berani” menghampiri Yesus dari Nazaret, Rabi Yahudi yang sudah ngetop namanya di seantero Yudea dan Galilea. Tak perlu diragukan lagi kalau dia adalah underdog dalam cerita ini karena Yesus sendiri yang mengusirnya dengan analogi anjing.

Kontroversial memang. Berbagai perdebatan muncul di kalangan para teolog dan ahli-ahli tafsir karena penghinaan itu. Sebagian besar teolog sibuk mencoba menjawab tuduhan dari kaum humanis dan feminis bahwa Yesus seorang rasis atau misoginis (orang yang membenci wanita). Berbagai argumen pembelaan dan penuduhan berkutat seputar pribadi Yesus dan pribadi wanita itu belaka. Sedikit yang ingat bahwa hubungan antara dua manusia yang berbeda bangsa atau berbeda ras seringkali dipengaruhi oleh faktor yang lebih besar dari masalah pribadi, yaitu sejarah hubungan kedua bangsa atau ras.

Sejarah hubungan bangsa Yahudi dan bangsa Siro-Fenisia dicatat dengan darah dan air mata ketika Raja Yunani, Antiokhus IV Epifanes—yang menguasai daerah Siria-Fenisia sekitar seabad sebelum masa Yesus (sekitar 175-164 SM)—mencoba me-yunani-kan semua orang di daerah kekuasaannya dengan kekerasan. Kebudayaan Yunani dianggap sebagai kebudayaan yang paling maju pada zaman itu. Semua orang dituntut untuk berubah mengikuti kemajuan zaman, termasuk orang-orang Yahudi yang dianggap terlalu menutup diri dari perubahan, terlalu ortodoks atau kolot. Maklumlah, sejak kembali dari pembuangan ke Babel beratus tahun sebelumnya, orang Yahudi menjalankan Taurat dan tradisi dengan ketat. Perubahan adalah ancaman bagi kemurnian tradisi dan agama mereka.



Photo by Hasan Almasi on Unsplash


Maka pecahlah Revolusi Makabe —perlawanan orang-orang Yahudi yang dipimpin Yudas Makabeus— setelah dipicu oleh peristiwa penyerbuan Antiokus ke Yerusalem dan dijarahnya Bait Allah di Yerusalem. Bukan hanya dijarah, tempat kediaman YHWH Yang Maha Kudus juga dinajiskan dengan pendirian altar Zeus dan penyembelihan babi sebagai korban persembahan. Kisah Revolusi Makabe ini selengkapnya dapat dibaca dalam kitab 1 dan 2 Makabe di dalam Deuterokanonika.

Sangat mungkin kalau orang Yahudi pada masa Yesus memandang semua orang Siro-Fenisia adalah sebangsanya Antiokhus yang telah menajiskan Bait Allah secara luar biasa. Pertemuan Yesus dan perempuan Siro-Fenisia ini terjadi di hadapan orang Yahudi lain di mana mereka semua hidup bersama di dalam sebuah ingatan kolektif. Dalam Antiquitates Judaicae, sejarawan Josephus secara samar mengatakan bahwa Makabe tidak hanya diingat oleh para sejarawan, tapi juga oleh orang-orang Yahudi pada umumnya pada abad pertama. Perempuan Siro-Fenisia itu terkungkung dalam sejarah bangsanya. Digerakkan oleh kebutuhan anak yang dikasihinya, dia nekat datang menerobos tatapan menghina dari orang-orang yang memusuhi rasnya, dia berusaha melawan arus sejarah. Dia datang mendekat dan tersungkur menyembah (menurut Matius 15:25) di kaki Yesus untuk memohon supaya Rabi yang terkenal penuh kuasa ini mengusir setan dari anaknya.

Para teolog umumnya sepakat bahwa Yesus datang pertama-tama untuk mencari domba yang hilang dari umat kepunyaan YHWH lebih dulu, barulah kemudian bangsa-bangsa lain mendapat giliran untuk dilayaniNya. “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi mereka dan melemparkannya kepada anjing,” demikian Yesus menganalogikan Israel sebagai anak-anak dan kata anjing langsung tertuju pada perempuan ini. Di sini tersirat penegasan bahwa sejarah memiliki kronologis (urutan) yang tidak dapat diacak-acak.



Photo by Aron on Unsplash


Wanita itu sadar ia tak kuasa mengubah tatanan sosial dan sejarah yang menempatkan dirinya seperti anjing di hadapan orang Yahudi, tapi kata-katanya kemudian justru menggerakkan Yesus. “Kurios” atau “Tuhan”, wanita itu memanggil Yesus, dan berargumen, ”Benar, Tuhan. Tapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Yesus lalu mengusir setan dari anaknya setelah mendengar kata-katanya, seakan sedang mendemonstrasikan bahwa Dia bebas dan mampu mengubah apa yang telah ditetapkan sebelumnya di dalam chronos, waktu.

Tuhan kita bukan hanya Tuhan yang menyejarah dan bekerja di dalam sejarah, Dia juga Tuhan atas sejarah. Dia mencipta chronos dengan kuasaNya dan berkuasa membelokkannya sesuai kehendakNya. Teolog Abad Pertengahan, Duns Scotus, menyebut kuasa itu potentia ordinata, kuasa atas tatanan sekaligus kuasa untuk menciptakan tatanan moral atau fisik bersama dengan potentia absoluta-Nya. Dan sejarah pun bergulir karena dua macam potentia atau kuasa itu. Realita tidak hanya terbuka atau ada pada saat penciptaan, namun terus menerus dicipta oleh DiriNya secara sinkron dengan tatanan yang sudah tercipta sebelumnya dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat ilahi DiriNya.



Photo by Dardan on Unsplash


Karena kuasaNya, seorang underdog bisa membuat sejarah baru. Dengan begitu sejarah tak pernah linier atau statis. Di antara potentia absoluta di tangan kananNya dan potentia ordinata di tangan kiriNya, sejarah tidak ber-evolusi, sejarah be-revolusi.

Kisah ini tetap berselimut misteri. Apakah wanita itu membuat sejarah baru setelah menang berdebat melawan Sang Penguasa Sejarah? Sebagian orang mungkin mampu mengerti jalannya sejarah, sebagian lagi bahkan mampu meramalkannya. Soekarno, yang kelihatannya mampu melakukan keduanya, pada akhirnya pun tumbang digantikan seorang underdog lain. Tak seorang pun sanggup mengubah sejarah baik dari dirinya sendiri dengan revolusi bersenjata maupun dengan revolusi mental, kecuali jika kita datang menyembah dan memohon Sang Penguasa Sejarah untuk membuat sejarah baru yang membawa kebaikan bagi umat manusia, mungkin melalui seorang underdog.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE