Kematian adalah Kehidupan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 02 Oktober 2018
“Setelah kita mati bagi diri sendiri, kita baru bisa benar-benar mengalami hidup di dalam Tuhan.“

Kematian adalah sebuah kepastian yang akan dihadapi semua manusia. Cepat atau lambat, manusia akan menghadapinya. Ia tidak mengenal usia, status sosial, prestasi, harta, kebaikan maupun kejahatan yang manusia lakukan. Kematian selalu menanti manusia di akhir perjalanan hidupnya. Lantas, pertanyaannya adalah kehidupan seperti apa yang sedang kita jalani hari ini?

Di dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menjelaskan ada 2 jenis kehidupan yang dijalani oleh manusia: hidup melalui pintu yang sesak menuju kehidupan dan hidup melalui pintu yang lebar menuju kebinasaan.


Pintu yang Sesak

Pintu yang sesak menggambarkan kehidupan yang tidak mudah dan sedikit orang yang menjalaninya. Kehidupan ini tidak menyenangkan dan dijauhi oleh banyak orang sehingga cara seperti ini menjadi minoritas di dunia. Kehidupan ini senada dengan apa yang Yesus katakan di dalam Matius 16:24-25, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”



Photo by Roan Lavery on Unsplash


Banyak orang memilih meninggalkan jenis kehidupan seperti ini. Bagi mereka, jenis kehidupan ini tidak menyenangkan dan membuang waktu mereka. Membangun jenis kehidupan yang mudah, menyenangkan, dan berpusat pada diri sendiri dipilih banyak orang karena itu semua akan memuaskan mereka. Disamping itu, perlu kita ingat bahwa kepuasan itu hanya sebentar saja berlalu dan kemudian mereka tetap hidup dalam kekosongan. Mereka terus-menerus mencari hal yang baru untuk memuaskan hidup mereka yang singkat, sampai akhirnya mereka tidak menyadari jenis kehidupan itu telah membawa mereka kepada kebinasaan.


Hidup dalam Kristus

Dosa membuat manusia mati dan menjalani hidup bagi diri sendiri daripada mati terhadap diri sendiri. Lebih dari itu, hidup dalam dosa adalah sebuah kehausan spiritual yang tidak akan pernah mampu memuaskan mereka. Dosa membuat manusia hidup dalam keegoisan, daripada menyangkal diri dan mengakui bahwa mereka memerlukan Allah dalam hidup ini.

Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat Kolose tentang status mereka sebelum mengenal Kristus. Dia mengatakan, “Sebab kamu telah mati …” (Kolose 3:3). Kematian adalah penggambaran hidup kita tanpa Tuhan. Orang mati tidak dapat melakukan apa-apa, diam, membujur kaku, tidak mempedulikan sekitarnya, hampa, kehancuran dan menyedihkan. Itulah kematian. Anehnya, manusia justru lebih senang dengan kondisi seperti itu sehingga mereka tetap hidup dalam dosa dan keegoisan diri.

Tapi, itu kondisi murid Kristus sebelum mengenal Kristus. Kita dahulu mati dan sekarang kita memiliki hidup. Kita bukan lagi orang mati dan harus hidup seperti orang hidup. Mungkin terdengar aneh, namun kita perlu menunjukkan hidup yang baru karena sekarang kita hidup di dalam kasih Kristus. Paulus melanjutkan,“… dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kolose 3:3). Apa artinya “hidupmu tersembunyi”? Hidupmu aman bersama Kristus!



pexels.com


Hidup Aman

Saya membayangkan hidup yang aman di dalam Tuhan. Apakah ini tentang masa depan? Ah kalau tentang masa depan, bukankah itu masih jauh? Memang kebenaran ini memberikan kita pengharapan akan masa depan, tetapi bagaimana jika aman itu juga berarti hari ini? Artinya, hidup saya aman bersama dengan Tuhan yang Mahakuasa dan Mahatahu. Betapa amannya hidup kita bersama dengan Dia!

Kita tidak perlu mengkhawatirkan berbagai tekanan yang akan kita hadapi di dalam perjalanan hidup melalui pintu yang sesak ini karena Dia akan memberikan memberikan keamanan kepada kita. Tekanan, kesulitan, kesukaran, kekecewaan, kehancuran dan tangisan selama melalui jalan yang sesak itu tidak akan pernah sebanding dengan keamanan yang diberikan Allah. Penyertaan dan penghiburan dari Allah selalu jauh lebih besar dari kesulitan yang kita hadapi. Kita hanya perlu menyerahkan hidup di dalam keperkasaan tangan-Nya yang kekal.

Hidup yang aman di dalam Tuhan berarti menyadari panggilan mengikuti Dia dengan setia. Hidup yang hari demi hari mengalami kematian dari diri sendiri akhirnya membuat kita hidup dalam dosa. Orang yang aman selalu belajar mengenakan manusia yang baru, hari demi hari. Mungkin kesempurnaan itu masih jauh dari kita, kita masih bisa jatuh lagi di dalam dosa. Namun, sebagai manusia baru, kita terus berjuang menuju keserupaan dengan Kristus dan mematikan kegoisan serta keakuan diri.



Photo by Joshua Earle on Unsplash


Kyle Idleman dalam The End of Me mengingatkan kita, “Akhir dari keakuan diri adalah titik di mana kehidupan sejati berawal. Setelah kita mati bagi diri sendiri, kita baru bisa benar-benar mengalami hidup di dalam Tuhan.” Cara hidup sebagai manusia yang baru adalah contoh bahwa kita sedang berjuang untuk mengalami kematian dari diri sendiri dan hidup bagi Kristus. Jenis hidup seperti itu akan selalu menjadi minoritas, dan tidak akan pernah menjadi mayoritas. Namun, kematian terhadap diri sendiri akan membawa kita dalam kehidupan yang memuaskan bersama dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, maukah kita mengalami kematian terhadap diri sendiri untuk mengalami hidup di dalam Tuhan? Ingatlah, ujung dari perjalanan kematian atas diri sendiri adalah kehidupan bersama dengan Kristus yang tidak dapat disamakan dengan kepuasan apapun di dunia ini.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE