Keheningan dalam Kesibukkan dan Kegaduhan: Perjuangan yang Menyakitkan!

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 5 Juli 2017
Cara yang paling tepat untuk menemukan Tuhan dalam setiap kesibukan dan kegaduhan duniawi adalah mencapai keheningan. Dalam keheningan sebenarnya kita diajak untuk mendengarkan suara-Nya dan memberikan diri untuk dipimpin kehendak-Nya.

KESIBUKKAN DAN KEGADUHAN YANG MANUSIAWI

Pertama, melihat dari sudut pandang antropogeografi, Jepang diidentikkan dengan kultur pekerja keras. Tak heran, Jepang menjadi salah satu negara tersibuk di dunia. Masyarakat Jepang memiliki reputasi mampu bekerja dalam waktu yang lama. Masyarakat Jepang memandang kerja sebagai sebuah budaya dan menjadikan kerja sebagai sebuah kepentingan utama yang harus dikerjakan (workaholic). Penelitian pada tahun 2013 menyebutkan bahwa Rata-rata jam kerja setahun di Jepang mencapai 1.765 jam. Kedua, melihat dari sudut pandang psikologi, motivator kenamaan Amerika, Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam bukunya, ‘The Aladdin Factor’ mengungkapkan fakta bahwa setiap harinya manusia menghadapi 60.000 pikiran. Celakanya, 80% (atau 48.000) pikiran manusia setiap hari hanya berisi hal-hal negatif.

Kedua fakta di atas membuktikan bahwa dunia dan manusia begitu sibuk dan gaduh. Secara eksternal; situasi, kondisi dan berbagai tuntutan menjerat manusia untuk berlaku sibuk dan secara internal, manusia sendiri lah yang menciptakan kegaduhan dengan harus menghadapi 60.000 pikirannya setiap hari.

Kesibukan dan kegaduhan menjadi sebuah situasi yang lumrah dialami banyak orang. Sehingga muncul istilah “kesibukkan dan kegaduhan yang manusiawi”. Celakanya, banyak orang yang menghidupi dan menghayati ideologi semacam ini. Dari waktu ke waktu, kita disibukkan oleh hal yang bersifat duniawi dan lupa bahwa setiap manusia dalam perkembangan kejiwaannya pasti memiliki ‘area’ spiritualitas atau rohani.

PENYAKIT ‘VERTIGO SPIRITUAL’

Jika kita membiarkan kesibukan dan kegaduhan menguasai diri kita secara terus menerus, mungkin kita akan terserang penyakit ‘vertigo spiritual’.

Vertigo spiritual terjadi ketika iman kita tidak dapat memproses apa yang kita lihat, dengar, atau alami sehingga kita menjadi terputus secara rohani, tidak seimbang, dan meragukan iman kita kepada Tuhan.

Vertigo spiritual semacam ini bisa terjadi apabila kita selalu disibukkan dengan aktivitasaktivitas duniawi dan berdampak pada ‘area’ spiritualitas yang kosong. Padahal, ‘area’ itulah yang mendorong manusia untuk selalu membangun relasi dengan Tuhan, membangun penghayatan akan perintah dan peraturan Tuhan, dan pada akhirnya, manusia dapat menentukan standar moral yang dipakainya.

MENCAPAI KEHENINGAN

Kesibukan dan kegaduhan duniawi menyebabkan hati kita menjadi tertutup, mengeras dan membatu. Sikap menutup hati (kleio ho splagchnon) membuat kebaikan Tuhan sulit masuk ke dalam diri kita, kita menjadi tuli atas ‘teriakan’ orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita dan menjadikan diri kita sebagai seseorang yang tidak mempunyai kasih Allah. Seperti apa yang tertulis di dalam 1 Yohanes 3:17

Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

Cara yang paling tepat untuk menemukan Tuhan dalam setiap kesibukan dan kegaduhan duniawi adalah mencapai keheningan. Dalam keheningan sebenarnya kita diajak untuk mendengarkan suara-Nya dan memberikan diri untuk dipimpin kehendak-Nya.

Keheningan juga menciptakan kejernihan batin. Ketika kita dalam kondisi batin yang jernih, maka kita dapat menghadapi segala sesuatu dengan lebih realistis dan tergerak akan situasi kondisi di sekitar kita.

Ada beberapa cara untuk mencapai keheningan antara lain:

HIDUP BERTEKUN DALAM KEHENINGAN DOA

Doa, salah satunya, menjadi praktik spiritualitas untuk manusia dapat menemukan Allah dan membangun relasi dengan-Nya. Tidak terbatas oleh waktu dan tempat, manusia seharusnya memanjatkan doanya dan hidup bertekun dalam doa. Maka, doa telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan spiritual setiap manusia.

Beberapa macam praktik doa bisa membawa manusia untuk mencapai keheningan seperti “Doa Yesus” yang dilakukan masyarakat India. Doa ini dilakukan dengan menyebut nama Tuhan Yesus dengan berdoa dalam hening, menyadari karya dan kehadiran Tuhan kemudian diucapkan dengan irama nafas. Doa model ini kemudian diadopsi dalam film India ‘3 Idiots’. Ketika terjadi masalah dan kepanikan, Rancho (salah satu tokoh dalam film tersebut) selalu mengucapkan ‘All is well’ secara berulang-ulang. Kata-kata itu memang tidak mengubah apa yang telah terjadi, tetapi dapat membuat hati, pikiran, jiwa dan raga kita untuk tetap tenang. Hidup bertekun dalam keheningan doa bukan menekankan pada kuantitas atau seberapa banyak kita berdoa, atau seberapa panjang dan bagus doa yang kita ucapkan.

Hidup bertekun dalam keheningan doa adalah sejauh mana kita dapat bersatu dan manunggal dengan Tuhan melalui doa yang kita panjatkan.

Seperti apa yang diungkapkan oleh Pater Anthony de Mello SJ dalam buku ‘Doa Sang Katak’ mengenai empat tahap doa, “Tahap doa yang pertama adalah manusia berbicara dan Tuhan mendengarkan dalam keheningan. Tahap kedua, manusia mendengar dan Tuhan berbicara dalam keheningan. Tahap ketiga, manusia dan Tuhan saling mendengar dalam keheningan. Tahap keempat, manusia bersatu dan manunggal dengan Tuhan dalam keheningan.

Alkitab sebagai jalan memasuki keheningan

Ketika membaca Alkitab, kita seringkali terjebak akan pemahaman dalam segi kuantitas, yakni membaca sebanyak-banyaknya ayat di Alkitab dan membiarkan Roh Kudus yang mengartikan ayat-ayat yang dibaca. Rohaniwan ordo Benediktin memiliki cara lain yakni dengan membaca dan kemudian berhenti pada satu ayat atau kalimat untuk direnungkan (Lectio), Merenungkan kata-kata / kalimat / ayat yang sudah dipilih (Meditatio) dan berdoa kepada Tuhan sesuai dorongan hati (Oratio). Semua proses tersebut dilakukan dengan diam dan hening sampai pada akhirnya kita mencapai keheningan batin.

Keheningan itu menyakitkan!

Keheningan sering diidentikan dengan kesendirian dan kesepian, maka dari itu, sebagian orang menganggap bahwa keheningan itu adalah sebuah proses yang menyakitkan. Akan lebih menyakitkan apabila kita menganggap bahwa selama ini Tuhan bersikap ‘hening’ atas setiap doa-doa yang kita panjatkan.

Rasa yang sama digambarkan oleh sutradara kawakan Martin Scorsese dalam film ‘Silence’. Salah satu tokoh dalam film tersebut adalah Padre Rodrigues yang menggugat keheningan Allah dalam menjawab doa-doanya. Padre Rodrigues pun sering mengalami kekeringan rohani karena dia merasakan Tuhan hanya diam saja melihat penderitaannya. (The weigh of your silence is terrible). Sampai pada menjelang kematiannya, Padre Rodrigues berdoa,

“Sampai pada hari ini, segala sesuatu yang kulakukan, segala sesuatu yang telah kulakukan berbicara tentang Dia. Dalam keheninganlah aku mendengarkan suara-Mu.”

Mencapai keheningan memang sebuah proses yang menyakitkan. tetapi satu hal yang dapat saya simpulkan bahwa proses mencapai keheningan sebenarnya menujukkan sebuah kesetiaan iman kepada-Nya (fides et fidelitas). Mencapai keheningan juga sebuah pilihan untuk meninggalkan gelanggang perdebatan yang berliku-liku dan mau melalui jalan perintah Tuhan yang rata dan sentosa (Thomas A Kempis, De Imitatione Christi)

“Semoga kita selalu berusaha untuk mendengarkan dan hening sehingga kita memiliki ruang untuk menemukan keindahan Tuhan!” (Paus Fransiskus)

Ad Maiorem Dei Gloriam!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE