Kebangkitan Yesus Sebagai Fakta Sejarah // Part 1

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 10 April 2018
Ada beberapa sanggahan tentang kebangkitan Yesus dan tulisan ini dibagikan untuk menjawab pandangan rival tersebut.

Menurut N. T Wright, ahli Perjanjian Baru terkemuka: pertanyaan tentang kebangkitan Yesus adalah jantung atau pusat dari Kekristenan [1]. Bila ada setitik bukti bahwa Yesus memang tidak bangkit, maka hancurlah seluruh fondasi Kekristenan. Jika kebangkitan Yesus memang bukan fakta historis namun merupakan sebuah hoaks atau kepalsuan, runtuhlah iman kita. Rasul Paulus berkata: Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu (1 Korintus 15:16).

Dalam artikel ini akan dibagikan keberatan-keberatan terhadap kebangkitan Yesus dan bagaimana menjawab pandangan-pandangan rival tersebut. By the way, karena minimnya ruang untuk secara cukup dan tuntas menjawab, akan diberikan referensi di footnote sehingga pembaca dapat mengeksplorasi lebih lanjut. Setidaknya ada lima teori di sekitar kebangkitan: [2]

Mari kita melihat satu persatu dimulai dari pandangan yang kelima.

1. Pandangan yang melihat bahwa Yesus tidak mati, Yesus hanya sekedar pingsan, dan kemudian bangun lagi. Pandangan ini didasari oleh pemikiran rasional modern yang meyakini bahwa tidak mungkin ada orang mati yang bisa bangkit dari kematian (yang sebenarnya mendasari pula pandangan-pandangan yang lain).

Jawaban :

Yesus tidak mungkin bertahan menghadapi penyaliban. Prosedur pembunuhan melalui salib adalah sangat hati-hati dan spesifik. Bahkan Kekaisaran Romawi akan menghukum mati bila ada prajurit yang ceroboh yang membuat penyaliban gagal, atau mengatur pelarian tahanan dengan cara apa pun. Para prajurit romawi jelaslah tentara profesional yang tahu bagaimana membunuh seseorang. Bagaimana mungkin mereka gagal membunuh?

Fakta bahwa pasukan Romawi tidak mematahkan kaki Yesus, sebagaimana yang dia lakukan pada dua kriminal yang lain (Yohanes 19:31-33) berarti bahwa para prajurit amat yakin bahwa Yesus benar-benar mati. Mematahkan kaki bertujuan mempercepat kematian (jika belum mati) sehingga mayatnya bisa diambil sebelum hari Sabat (ay. 31)

Yohanes sebagai saksi, melihat darah dan air datang lambung Yesus (Yohanes 19:34-45). Ini menunjukkan bahwa lambung Yesus sudah rusak dan Yesus telah mati karena sesak nafas. Ahli medis dapat mengkonfirmasikan keadaan itu.

Yesus yang sudah bangkit menemui murid-murid, termasuk juga Thomas yang peragu, meyakinkan mereka bahwa Yesus sudah bangkit dengan tubuh yang sepenuhnya baru (Yohanes 20:19-29). Secara psikologis adalah tidak mungkin para murid yang ketakutan, sedih karena guru yang merupakan harapan Mesias mereka mati, tiba-tiba menjadi pemberani dan mewartakan Yesus yang pingsan dan keluar dari kubur tentu dengan luka-luka yang mengerikan. Seharusnya respon mereka adalah segera mencari dokter untuk menangani luka-luka Yesus yang parah.

Bagaimana mungkin pasukan Romawi yang profesional bisa dikalahkan oleh sekedar seorang yang pingsan atau para murid yang tidak bersenjata? Bagaimana mungkin seorang yang pingsan bisa meminggirkan batu besar sebagai pintu dari kuburan? Cerita yang beredar di kalangan Yahudi, mengatakan bahwa para prajurit Romawi yang menjaga kubur lalai dan ketiduran, dan kemudian para murid datang mencuri tubuh Yesus (Matius 28:11-15). Tidaklah mungkin penjaga profesional tertidur dalam menjaga tugasnya apalagi tokoh kontroversial yang menarik perhatian publik. Kalau pun mereka tertidur, apakah mungkin mereka tidak mendengar suara para murid menggeser batu kuburan?

Bila Yesus pingsan dan kemudian bangun, kemanakah ia selama ia tidak menampilkan diri pada murid-murid? Yesus yang bangun dengan tubuh yang sama waktu dia pingsan pastilah dengan mudah ditemukan orang atau menemui dokter untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi sama sekali tidak ada catatan di Yerusalem, bahkan dari musuh-musuh Kekristenan yang menyebutkan kehadiran tubuh Yesus yang baru pingsan. Jika Yesus pingsan lalu bangun, pastilah orang Yahudi atau pasukan Romawi segera menangkap lagi atau mencarinya [3].


Photo by Patrick Tomasso on Unsplash

2. Pandangan teori konspirasi. Teori ini menuduh bahwa kebangkitan Yesus adalah hasil rekayasa para murid Yesus dengan mengajarkan yang tidak sebenarnya kepada orang lain. Teori ini berpandangan bahwa cerita tentang kebangkitan Yesus hanya diceritakan oleh para murid sendiri, dan tidak ada orang lain, jadi amat mungkin mereka merekayasa.

Jawaban :

Bagaimana mungkin jika para murid adalah penipu atau tukang rekayasa, mereka mau bertahan dan mati dalam martir sepanjang sejarah Kekristenan? Adalah tidak masuk akal mereka mau mati untuk sesuatu cerita yang mereka buat-buat sendiri. Pada saat itu bila mereka berkumpul saja merupakan tindakan permusuhan kepada orang Yahudi dan pemerintahan Romawi, dan itu berarti merupakan tindakan yang beresiko besar, mereka terancam dianiaya dan dibunuh. Bila cerita Yesus bangkit hanya rekaan belaka, pastilah ada satu atau dua orang yang akan mengaku bahwa cerita itu bohong apalagi setelah rangkaian penyiksaan yang mengerikan.

Sehingga, tidak ada motif dari para murid untuk melakukan sesuatu yang bohong. Mereka sedih Sang Guru mereka mati, mereka dihina, harapan mereka musnah, buat apa mereka menipu orang untuk sesuatu yang akan membuat mereka lebih menderita lagi?

Jika mereka yang membuat cerita bohongan itu, maka para nelayan itu adalah orang-orang yang sangat kreatif, pandai dan fantastis. Seorang nelayan pada masa Perjanjian Baru tidaklah mungkin membuat cerita seperti itu, cerita yang bisa begitu meyakinkan, mengubah hidup dan mempengaruhi seseorang.

Jika kebangkitan adalah konspirasi dan kebohongan para murid, maka orang-orang Yahudi atau mahkamah agama akan menginspeksi dan berusaha menemukan tubuh Yesus. Pasukan Romawi yang profesional akan dengan mudah menemukan tubuh Yesus disembunyikan [4].

Sama dengan teori pingsan, Tidak mungkin sekelompok nelayan yang tidak bisa bersenjata, tidak terlatih dalam bertarung bisa mengalahkan sekelompok pasukan profesional yang menjaga kubur Yesus.

 

 

Baca Juga

Kebangkitan Yesus Sebagai Fakta Sejarah // Part 2

 

 

Referensi:

[1] “Christian Origins and the Resurrection of Jesus: Resurrection of Jesus as a Historical Problem,”
http://ntwrightpage.com/2016/07/12/christian-origins-and-the-resurrection-of-jesus-the-resurrection-of-jesus-as-a-historical-problem/

[2] Ini disebut faktor “enemy attestation” yaitu dimana para musuh Kekristenan tidak mampu membuktikan bahwa mayat Yesus masih ada. Orang Yahudi malahan langsung menuduh para murid mencuri, bahkan tidak ada upaya untuk membuktikan bahwa para murid merekayasa. Lih. Habermas, The Case of Ressurection Jesus.

[3] Argumen ini seringkali disebut dengan Yerusalem Faktor Gary Habermas. The Case for the Ressurection of Jesus. Versi terjemahan bahasa Indonesia nya sudah diterjemahkan Literatur Perkantas.

[4] Ini disebut faktor “enemy attestation” yaitu dimana para musuh Kekristenan tidak mampu membuktikan bahwa mayat Yesus masih ada. Orang Yahudi malahan langsung menuduh para murid mencuri, bahkan tidak ada upaya untuk membuktikan bahwa para murid merekayasa. Lih. Habermas, The Case of Ressurection Jesus.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE