Kartu Kuning untuk Gereja dan Umatnya

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 23 Februari 2018
Kita dapat mendekatkan diri pada rakyat dan tidak mencium aroma mereka, tapi untuk mencium aroma rakyat, mau tidak mau kita harus mendekatkan diri pada mereka.

Sebuah frasa yang terlontar dari mulut politisi Adian Napitupulu langsung memancing tanggapan seru dari semua tamu yang diundang oleh Najwa Shihab. "Tinggallah bersama mereka, rasakan tempat tidur mereka, makan apa yang mereka makan; ciumlah aroma rakyat", kurang lebih begitu tanggapan mengenai aksi pemberian kartu kuning pada Presiden Joko Widodo oleh Ketua BEM UI. Sontak, para ketua BEM serta pejabat negara yang hadir segera menjadikan apa yang disebut Adian sebagai "legitimasi moral", menjadi menu utama perdebatan malam itu.

Adian menyangsikan aksi yang dilakukan mahasiswa lantaran lahir dari data dan media, bukan dari pengalaman nyata atau dari aroma rakyat itu sendiri. Terlepas dari berbagai wacana dan dinamika yang muncul pasca insiden 'Kartu Kuning Jokowi', wejangan untuk mencium aroma rakyat agaknya masih sangat relevan ketika itu dialamatkan pada umat percaya.


http://inpolitics.ro/

Rasul Paulus pernah mengingatkan jemaat di Korintus hal serupa dalam 1 Korintus 9:20-23. Korintus sendiri merupakan sebuah kota metropolitan kuno yang makmur di masanya. Dihuni oleh masyarakat yang plural dan berkecukupan, tidak membuat rakyat Korintus hidup sejahtera, melainkan justru menggiring jemaat Korintus jatuh dalam dosa keangkuhan intelektual, kemerosotan moral, dan perpecahan. Suka tidak suka, kita harus akui bahwa kondisi tersebut mirip dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia hari ini.

Gesekan antarkelompok masyarakat mulai dari ujaran kebencian yang menyangkut masalah identitas, diskriminasi, perundungan (bullying), hingga tindak kekerasan berbau intoleransi, masih rutin ditemukan di media akhir-akhir ini. Lalu sebagai orang percaya, apa yang harus kita lakukan? Dalam 1 Korintus 9, Paulus memberi penjelasan yang cukup gamblang:

1. Berhenti Berdebat

Memiliki ‘kondisi perut’ yang tercukupi membuat jemaat Korintus punya cukup energi untuk memperdebatkan Injil, ajaran di dalamnya, aliran yang berkembang, serta hal-hal lain yang menyangkut pemahaman mereka akan Firman Tuhan. Dalam situasi ini, Rasul Paulus menyerukan pada umat, bahwa kemerdekaan atas belenggu dosa yang Allah kurniakan selayaknya direspons dengan memberitakan Injil sukacita itu, bukan dengan pertentangan.

Barnabas Piper pernah menuliskan: “Saya pikir, saya dekat pada Allah karena saya tahu segala tentang-Nya; tapi ternyata saya telah membodohi diri saya sendiri karena menganggap pengetahuan akan Kristus sama dengan pengenalan akan Kristus”. Tak jarang hingga hari ini banyak umat percaya berkutat pada perdebatan akan ajaran, filsafat, maupun teologi, tetapi malah melupakan tanggung jawab untuk menyampaikan Kabar Baik pada dunia yang sedang membutuhkan.

Kita harus menghentikan roh perselisihan saat ini juga dan berfokus untuk mulai bahu-membahu mewujudnyatakan damai dan sukacita sorgawi di tempat kita berada.


Photo by Evan Kirby on Unsplash

2. Belajar Mengerti

Tidak pernah sekalipun terbersit dalam benak saya, kekesalan saya pada suatu oknum menjalar menjadi kebencian terhadap suatu agama, apalagi sampai menjadi ujaran kebencian. Mengapa? Karena saya memiliki banyak kerabat dan karib yang juga pemeluk agama tersebut. Saya punya banyak kisah baik bersama mereka. Pengalaman membuat saya tidak mudah percaya pada data dan media – yang bisa saja direkayasa. Saya memahami mereka dan saya mengasihi mereka karena interaksi dan relasi yang nyata.

Ayat 20-23 mungkin dapat diterjemahkan begini: “Kalau ingin menolong orang Yahudi, aku jadi orang Yahudi. Kalau ingin menolong pemeluk Taurat, aku jadi pemeluk Taurat.” Yang Paulus serukan ini mirip dengan apa yang Adian sebut sebagai ‘legitimasi moral’. Dengan demikian, Paulus tidak menyampaikan Injil versinya sendiri pada orang lain, melainkan menghadirkan dan menghidupi Injil itu bersama-sama dengan mereka yang ia layani. Paulus rela mencium aroma rakyat, menjadi bagian dari mereka, demi menyelamatkan mereka.

Sentimen negatif umumnya muncul akibat tidak adanya rasa saling mengerti dan memahami. Maka bukan tidak mungkin, Gereja dan umat Nasrani sebenarnya turut berperan dalam konflik yang menimpa dirinya. Ketidakhadiran, keacuhan, hingga keengganan untuk mengampuni, merupakan tindakan umum dijumpai hari ini, tapi wajib kita hindari. Sebaliknya, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14).

Hadirlah, lihatlah, rasakan, belajarlah untuk mengerti, belajarlah untuk mengasihi, hingga kita tak lagi mampu membenci yang berbeda.


bytes.org

3. Jangan Tunggu, Rengkuhlah!

Pada bagian akhir 1 Korintus 9, Paulus mengidentikkan iman pada Kristus seperti seorang pelari dalam gelanggang perlombaan; bukan seperti resepsionis hotel yang sebatas mempercantik diri kemudian menunggu para pelancong tiba. Injil sukacita Allah ialah sesuatu yang harus diperjuangkan secara proaktif sebagai respons iman atas mahkota keselamatan yang Kristus telah berikan. Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (memperoleh mahkota kekal, ay. 24).

Mengulurkan tangan tidak sama dengan merengkuh. Mendekatkan diri pada rakyat tidak sama dengan mencium aroma rakyat. Menceritakan Firman Tuhan tidak sama dengan melakukan Firman Tuhan. Membawa masyarakat plural kepada Gereja tidak sama dengan membawa Gereja kepada masyarakat plural.

Kita dapat mengulurkan tangan dan tidak merengkuh, tapi untuk merengkuh kita harus mengulurkan tangan. Kita dapat mendekatkan diri pada rakyat dan tidak mencium aroma mereka, tapi untuk mencium aroma rakyat, mau tidak mau kita harus mendekatkan diri pada mereka. Kita dapat menceritakan Firman Tuhan dan tidak melakukannya, tapi dengan melakukan Firman Tuhan, kita menceritakan Firman itu melalui kehidupan kita.

Kita dapat membawa orang beragama apa pun masuk dalam Gereja tanpa membawa Gereja masuk dalam kehidupan mereka. Namun kala Gereja masuk dalam kehidupan masyarakat, mencium aroma mereka – bukannya membawa mereka mencium aroma Gereja, saat itulah legitimasi moral dari setiap ujaran mimbar menjadi sahih. Kasih Allah yang tidak tersegmentasi dapat terwujudnyatakan.

Saat umat percaya terbuai dengan segala kenyamanannya dan Gereja berhenti pada gedung megah semata; itulah pertanda bahwa ‘kartu kuning’ layak disodorkan pada Anda dan saya.Iya, pada kita yang disebut “orang Kristen”.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE