Ingatan yang Mendamaikan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 25 September 2018
“Bukan hanya kekuatan untuk mengingat, tetapi justru kebalikannya, eksistensi kita memerlukan juga kemampuan untuk melupakan.“

Terlupakan hari dan tanggal persisnya tetapi seorang bocah ingusan mengingat betul waktu itu September 1984 dan di kala baru beranjak 7 tahun. Sang bocah – pada awalnya- tidak tahu mengapa terjadi dan bagaimana bisa terjadi tapi ia tahu dan masih ingat apa yang terjadi malam di bulan dan tahun tersebut. Ada begitu banyak kerumunan bergerombol dan bergerak lalu tiba-tiba pecah menjadi kekacauan yang mengerikan persis di depan gang dimana rumah tempat keluarga si bocah tinggal.

Di mata seorang bocah yang menyaksikan momen itu, ada perasaan bercampur aduk begitu rupa antara rasa ingin tahu yang besar bercampur dengan takjub, terkejut dan tentu saja rasa ngeri yang amat sangat. Seolah menonton film horror, hanya saja horror itu yang kini datang menghampiri sebegitu dekatnya, sebegitu riil nya. Dan horror yang meneror dengan mencekam itu terus berlanjut hingga keesokan paginya. Hanya saja panggung cerita kini tidak lagi diisi kerumunan dan gerombolan malam sebelumnya, tetapi berganti kerumunan bersenjata komplit dengan mesin-mesin penggilas yang tak kalah sangar dan bengisnya dengan lawan mereka.

Kerumunan kali adalah yang telah terlatih dan berpengalaman dalam urusan search and destroy tidak seperti kerumunan lawan mereka yang bermodalkan militansi belaka. Apa yang sama dari mereka? Haus akan darah, bak vampir dan drakula. Malam ketika kekacauan bermula, darah telah tumpah dimana-mana dan pagi ketika kekacauan berakhir darah telah menggenang dimanapun. Itulah tontonan horror Tanjung Priok, horror paling berdarah yang pernah ditonton oleh seorang bocah yang kala itu masih jauh dari genap tujuh belas tahun, batas usia minimal yang dibolehkan untuk menonton film horror masa itu.


How Come?

Time flies away. Sang bocah naif telah beranjak menjauh dari masa yang ingin dilupakannya namun terlanjur melekat diingatannya. Dan memang hidup seakan-akan sedang mempermainkannya, mungkin benarlah apa yang dikatakan sejarah itu berulang.

Suatu pagi di awal Mei 1998. Sejuk dan cerah memulai hari itu. Tapi itu sekedar hiburan sesaat menjelang mulainya horror yang lainnya. Siang itu tak jauh dari suatu persimpangan menuju Senen, kerumunan pecah disusul tak lama ledakan didekatnya. Tampak massa yang beringas sedang menyeret seorang yang melintas dengan motornya. Orang tersebut dipukuli dan diinjak. Tak lama setelah motornya dibakar, dia pun disiram dengan bensin.



pexels.com


Tidak menunggu waktu yang lama buat menjalarnya kekacauan itu kemana-mana. Ternyata, aroma kematian telah ada dimana-mana waktu itu. Entah bagaimana, oleh siapa dan juga karena apa, kedua mata si mantan bocah naif itu untuk kesekian kalinya dipaparkan pemandangan-pemandangan kengerian, ketakutan, kebingungan yang hanya bisa membuatnya ternganga tak percaya.

Masih terasa seperti kemarin terjadi peristiwa kelam di masa kecilnya, belum benar-benar terhapus dan kini ia seperti terdamparkan kembali ke ingatan yang serupa lewat peristiwa yang lainnya. Ingatan yang ingin dilupakan dan seberapapun besar keinginan untuk menghapus ingatan tersebut tetaplah melekat.

Di dalam cerita Funes and the Memorious, Jorge Luis Borges menggambarkan kegelisahan seseorang yang tidak dapat melupakan apapun. Orang tersebut tersiksa oleh beban ingatannya yang sangat akurat dan tajam. Sholem Asch, salah seorang korban holocaust di Jerman, pernah menulis, “bukan hanya kekuatan untuk mengingat, tetapi justru kebalikannya, eksistensi kita memerlukan juga kemampuan untuk melupakan.”

Tahun berganti tahun dan rezim silih berganti, apa yang ada dan dirasakan oleh pemuda yang telah melewati dua kejadian horror itu mirip seperti apa yang digambarkan dalam cerita dari Jorge Luis Borges itu. Bak tayangan film yang berjalan terus menceritakan berbagai rincian peristiwa demi peristiwa. Luar biasanya, itu semua ia temukan berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh masyarakatnya, bangsanya, dan negaranya. Seolah-olah tidak pernah ada jejak ataupun tidak ada ingatan yang begitu membekas tentang kedua peristiwa itu. Belum lagi ditambah dengan peristiwa kelam lainnya yang terjadi jauh sebelumnya di tahun 1965-1966. Tak ada semacam kegelisahan apapun tampak dan dirasakan dengan kuat oleh bangsanya. Pertanyaan di benaknya ialah, “How come?”


Mengigat dan Melupakan

Memorabilia, kata yang menjelaskan tentang mengingat suatu peristiwa di waktu tertentu, dan kita pernah berada di sana. Memorare dari bahasa Latin, yang berarti "membawa ke dalam memori”. Memorabilia memecahkan teka-teki ingatan, manusia di desain memiliki memori, juga di desain untuk melupakan. Dalam ingat dan lupa itu, kita di mediasi oleh apa yang disebut sejarah.

Dibalik memori dan melupakan itu, sesungguhnya ada masalah filosofis yang dalam. Memori tidak akan ada bila pada saat peristiwa itu kita tidak memikirkannya. Tentu kita pernah bertanya, kemana memori pergi? Atau bahkan hampir seluruhnya lenyap? Memori perlu dianalisis dalam hubungannya dengan lawannya, yaitu lupa. Dan sejarah selalu dalam ketegangan antara memori dan lupa akan menjadi dua kutub yang selalu bertentangan. Maka pertanyaan penting tentang memori adalah “mengapa kita lupa?”.



pexels.com

Ricoeur, seorang filsuf asal Perancis, menyatakan, manusia mampu membuat memori dan membuat sejarah atau bahkan melupakan hal-hal tertentu dalam memori. Dengan kata lain, baik memori dan melupakan, keduanya tunduk pada kekuasaan, dan dengan demikian juga tunduk pada penyalahgunaan.

Atas hal ini, Ricoeur menyatakan soal “perlunya keadilan pada memori”. Ricoeur mengatakan bahwa sejarah—atau dapat disebut “kenangan kolektif “— memori seharusnya lebih berkaitan dengan tugas oleh dan untuk keadilan.

Keadilan dan harapan macam apa yang kita miliki bila kita lupa? Dalam On the Genealogy of Morals, Nietzsche menjelaskan apa yang disebut "lupa aktif" dan juga mengingatkan kita bahwa lupa bukan hanya kegagalan memori, melainkan penyangkalan.

Kita bisa mengetahui bencana Krakatau di masa Perang Dunia Pertama, tetapi kita lupa dengan bencana kekacauan dan kerusuhan yang baru saja lewat 34 dan 20 tahun yang lalu? Bagaimana sikap negara atas memori kolektif yang hilang dalam tragedi bangsanya? Telah terjadi penyangkalan oleh negara yang berlangsung sampai sekarang dengan tiadanya investigasi bahwa kerusuhan, kematian massal, dan serangan seksual benar-benar terjadi.



Photo by Melany Rochester on Unsplash


Kenyataan ini membawa pada persoalan berikut yaitu dengan apa suatu kolektivitas ditopang? Dengan apa suatu ingatan kolektif lestari? Salah satu jawabannya adalah adanya relasi kekuasaan dan otoritas atas ingatan tersebut. Sebab, konstruksi Durkheimian tentang ingatan individual hanyalah fragmen dari ingatan bersama. Maka dalam banyak masyarakat, terutama masyarakat tradisional, kendali atas ingatan itu dan interpretasinya terletak pada otoritas dan hirarki kelompok, agama, dan tua-tua.

Dalam masyarakat modern, kendali atas otoritas dan interpretasi ingatan bisa jadi berada di tangan penguasa, kaum elit komunal, dan kaum cendekiawan (terutama para sejarawan). Berlawanan dengan gagasan Marx, dalam konteks ini kaum yang sadar sejarah adalah justru penguasa, bukan proletar.


Ingatan dan Memaafkan

Masyarakat Indonesia gagal memelihara ingatan sosialnya, dan ini mengakibatkan terjadi trauma sosial yang bermuara pada krisis identitas sosial, serta masalah-masalah sosial lainnya, seperti terciptanya kultur impunitas, krisis identitas sosial, krisis nasionalisme, dan kultur ketakutan. Seorang filsuf dari Indonesia, Reza Wattimena, menyatakan bahwa ingatan sosial tidak hanya harus dipelihara, tetapi juga harus dibawa ke level hukum, dan pada proses akhir, semua trauma sosial akibat peristiwa negatif di masa lalu haruslah dimaafkan.

Tindak memaafkan ini tidak hanya berhenti di level struktural-institusional, tetapi juga harus sampai pada level metafisis, yakni level terdalam kehidupan manusia. Dalam arti ini, kemampuan memaafkan haruslah sampai pada apa yang disebut seorang filsuf lainnya asal Perancis, Derrida, sebagai, “memaafkan yang tak termaafkan”. Hanya dengan begitulah ingatan sosial bisa menjadi sumber daya positif bagi pembentukan identitas sosial manusia Indonesia, dan kemudian bisa berkontribusi menyelesaikan beragam masalah sosial-kultural yang muncul sekarang ini.


Penyaliban Kristus: Model Memorabilia Keadilan dan Rekonsiliasi

Peristiwa penyaliban Yesus Kristus menunjukkan model Allah yang memaafkan manusia. Peristiwa horror penuh teror menampilkan tritunggal tidak maha kudus yaitu politik, agama, dan hukum dengan memperalat massa. Tidak jauh beda dengan apa yang terjadi disini. Ini adalah cara Allah menyatakan ketidakadilan manusia. Apa yang dilakukan Allah? Ia menempatkan Kristus dalam rupa dan posisi manusia yang berdosa untuk menerima hukuman agar ada pendamaian bagi yang percaya. Ini model keadilan Allah di Alkitab. Poin disini ialah, tetap harus ada pemaparan tentang ketidakadilan.

Pencatatan Alkitab tentang rincian peristiwa penyaliban itu sendiri adalah pemaparan kejahatan dan ketidakbenaran yang dilakukan manusia. Hal tersebut terjadi agar semua itu menjadi peringatan sekaligus pengakuan untuk dan dari manusia bahwa betapa jahat dan tidak adilnya manusia.



pexels.com


Namun apa yang Allah kerjakan adalah melakukan pelampauan atas memori tersebut. Allah memaafkan yang tak termaafkan dari manusia. Maka sejak itu dimulailah apa yang dinamakan sejarah penebusan, yakni suatu sejarah tentang rekonsiliasi antara Yang Benar dan Adil dengan yang tidak benar dan tidak adil. Mampukah dan maukah kita mencontoh model ini?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE