He Use the Broken

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 15 Januari 2018
Saat gagal, berbagai cap seperti orang yang bodoh, lemah, tidak kompeten, atau bahkan rusak akan muncul secara terus menerus. ...Kita meragukan karya Allah dan mungkin bertanya 'bagaimana mungkin Ia dapat memakai saya?'.

Everyone is fighting for their own hard battle. Saya percaya setiap orang sedang berjuang dalam pertempurannya masing-masing. Ada yang berjuang tentang keluarga, studi, relasi, kesehatan, tujuan hidup, panggilan, dan lainnya. Mungkin ada yang berhasil melewatinya, namun ada juga yang belum berhasil. Saat mengalami kegagalan, pertempuran baru atau bahkan luka di dalam diri dapat muncul.


Photo by Aaron Ang on Unsplash

Saat gagal, berbagai cap seperti orang yang bodoh, lemah, tidak kompeten, atau bahkan rusak akan muncul secara terus menerus. Kemudian, cap negatif ini dapat secara tidak sadar kita pelihara dalam hati dan pikiran. Lama-kelamaan, hal itu bisa merusak gambar dan harga diri kita di dalam Allah. Kita pun bisa semakin menjauh dari Tuhan karena merasa berdosa dan tidak layak. Kita meragukan karya Allah dan mungkin bertanya “bagaimana mungkin Ia dapat memakai saya?”.

Dalam sesi “Let There Be Light” yang disampaikan oleh Pdt. Hari Soegianto dalam SAAT Youth Camp 2017, beliau memberikan kutipan ayat dari Yehezkiel 37: 10 yang berbunyi, “Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.” Ayat tersebut ingin menunjukkan bahwa kuasa Allah sangatlah besar. Ia bisa memakai siapapun dan apapun untuk melakukan pekerjaanNya. Dalam ayat itu, tulang-tulang yang mati bisa bersatu dan hidup kembali.

Jika demikian, apa yang dapat kita, yang lemah, tidak berdaya, dan rusak ini lakukan untuk pekerjaan Tuhan?

Melihat kelam masa lalu kita masing-masing, terkadang saya pun menjadi rendah diri dan meragukan kasih serta rencana Tuhan dalam hidup saya. Tidak jarang saya juga menyatakan kepada Tuhan bahwa ada banyak orang di luar sana, yang jauh lebih hebat dan mampu untuk menjadi alat-Nya. Tetapi dalam doa, pergumulan, dan khususnya sesi ini, Tuhan berbicara kepada saya bahwa Ia ingin memakai saya. Ia ingin memakai kamu. Ia ingin memakai kita. Ya, kita yang lemah, kita yang tidak berdaya, dan kita yang rusak ini.

Saya menyadari bahwa kehancuran dan kelam masa lalu yang kita miliki bukanlah suatu aib yang perlu ditutupi. Alkitab pun tidak pernah menutupi kelemahan para pahlawan iman. Musa seorang pemarah, istri Hosea seorang pelacur, Petrus seorang pembohong, Thomas seorang peragu. Yeremia mengalami depresi dan ingin untuk bunuh diri. Tokoh-tokoh Alkitab ini memberi satu pesan yang sama, tidak peduli seberapa hebat seorang manusia dipakai Allah, sebenarnya kita ini lemah, rapuh, dan perlu bergantung kepada Allah. Kita semua sangat lemah dan rusak. Meskipun demikian, Alkitab mencatat bahwa Tuhan tetap memakai mereka dengan cara yang luar biasa. Melalui ini, saya belajar, its okay to be weak and broken.


Photo by Ben White on Unsplash

Ada 3 poin penting yang saya dapatkan dari sesi ini.

Pertama,

Anugerah Allah nyata dalam diri manusia yang berdosa. Ketika kita yang lemah dan rusak mampu melakukan pekerjaan Allah, ini semata-mata karena anugerahNya. Ya, semua karena anugerah. Oleh sebab itu, kita tidak layak bermegah diri. Ingat, sebelumnya kita hanya manusia yang lemah. Namun, Allah sendiri yang menyatakan kasihNya kepada kita yang lemah ini

Kedua,

Tidak ada manusia yang terlalu rusak yang tidak bisa diperbaiki dan dipakai oleh Allah. He can remake and rebuilt us like what He wanted us to be. Memang memerlukan kerendahan hati dan sikap yang siap untuk dihancurkan agar Ia dapat kembali membentuk kita menjadi lebih baik lagi. Dalam hal ini, mungkin ego, kesombongan, prestasi, uang, pekerjaan, atau orang-orang yang kita cintai dapat mengeraskan hati kita sehingga sulit untuk dibentuk. Biarlah masing-masing dari kita bisa merenungkan hal apa yang mengeraskan hati kita sehingga menjadi begitu sulit diatur oleh Tuhan.

Ketiga,

Kita semua telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Ia juga telah menetapkan yang terbaik bagi kita. Dari sesi ini, saya belajar bagaimana menjadi siap untuk dipakai Tuhan. Kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun. Jika dalam poin kedua kita perlu memiliki kerelaan hati saat Tuhan terlihat ingin mengambil suatu hal, maka bersiaplah juga jika Ia memberikan “hadiah” baru kepada hidup kita. Entah tanggung jawab, panggilan, tantangan, apapun itu. Bersiaplah untuk dibentuk, bersiaplah untuk diambil atau diberikan apapun sesuai rancangan dan rencana Tuhan.


Photo by Alex Jones on Unsplash

Melalui camp ini, saya semakin diteguhkan mengenai ladang Tuhan yang sungguh luas dan sudah menguning. Artinya, Ia memerlukan saya dan kamu untuk dipakai olehNya, untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

God can use anything, He can use me. He can use us. He can use the broken.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE