God In Action

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Agustus 2018
“Melalui peristiwa inkarnasi, dimana Allah menjadi serupa dengan manusia, kisah manusia tersebut mengalami metanoia, putar balik melalui jalan yang berbeda, kembali kepada Allah, sang pemilik kisah. Melalui-Nya, manusia justru memperoleh kembali signifikansi dirinya, dan dipulihkan dari berbagai komplikasi kekacauan, kebodohan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kisahnya sendiri.“

Manusia adalah makhluk bercerita dan hidup dalam cerita. Kita tak bisa lepas dari cerita. Kelahiran manusia, bagaimana ia bertumbuh, berkembang, berdampak dan terdampak adalah rangkaian tema-tema yang membentuk jati dirinya sebagai sebuah narasi. Hidup dan kehidupan manusia adalah sebuah narasi, sebuah kisah yang berjalinan, bertautan dan berkelindan dengan kisah dan narasi manusia lainnya yang akhirnya membentuk kisah komunitas dan masyarakat. Disitulah, terlahir wacana dan narasi kebudayaan dan peradaban.

Sejarah menunjukkan hanya manusia satu-satunya makhluk yang bercerita tentang dirinya. Dari hal tersebut, kita dapat melihat bahwa apapun kisah manusia dan bagaimanapun kegemilangan pencapaian manusia pada akhirnya berujung pada kisah suram. Seperti layaknya dentingan pendulum yang bergerak kesana kemari, kisah tersebut memaksa kita untuk mempertanyakan kembali arti manusia dan kemanusiaan. Apakah cerita sesungguhnya tentang manusia, dan bagaimanakah seharusnya manusia dan kemanusiaan kita?


His Story vs History

Kekristenan adalah narasi yang berakar dari Alkitab yang merupakan kumpulan kisah-kisah yang membentuk suatu narasi besar. Di dalamnya, terdapat kisah yang dipersiapkan oleh Allah untuk manusia dan alam semesta ciptaan-Nya. Suatu kisah yang berpusat kepada Allah sebagai inti kehidupan dan keselamatan manusia serta ciptaan lainnya.



pexels.com


Namun, manusia sebagai satu-satunya makhluk yang mampu bercerita kemudian mengganti kisah yang telah dipersiapkan oleh Allah (His story) menjadi kisahnya sendiri (history). Berbagai asas seperti apa pentingnya bagi saya? Dan apa manfaatnya bagi saya? menjadi dasar pertimbangan perubahan itu. Hal tersebutlah yang dinilai sebagai sebuah keberdosaan yang dilakukan manusia.

Maka dimulailah kisah manusia versi manusia tanpa Dia. Kisah tersebut memunculkan permasalahan besar: di satu sisi manusia tak terlepas dari Allah, tetapi di sisi lain, manusia tidak mau kisahnya tergantikan. Dengan kreatifitasnya, manusia justru menambahkan berhala sebagai solusi permasalahan tersebut. Berhala dimaknai sebagai allah yang jinak dimana manusia menaruh pengharapannya tanpa harus mengorbankan maunya. Berhala yang lebih bersifat pasif justru memberikan ruang kebebasan bagi manusia untuk dapat dengan bebas membeberkan kisah yang lain tentang allah, cerita tentang asal-usul berhala-berhalanya dan bagaimana alam semesta ada terkait berhala-halanya sembari menaruh semua pengharapannya pada berhala-berhala itu.

Di sisi lain, ada pula keinginan hati manusia untuk bisa menjadi yang dipertuan atas yang ilahi. Maka dengan demikian lahirlah mitos. Hal tersebut dipandang sebagai strategi manusia untuk bisa memahami dirinya dan alam semesta yang sebenarnya adalah suatu kisah imaginative untuk diceritakan, diyakini dan dihidupi. Namun, lagi-lagi, kisah tersebut berujung pada dirinya sendiri, bukan kepada Allah.


Inkarnasi: Tindakan Allah Membalikkan Kisah

Apakah yang didapat manusia dari kisahnya yang demikian? Manusia menjadi sama seperti berhala yang dibuatnya sehingga kehidupan manusia begitu dingin dan kering, termasuk berdampak pula pada kebudayaan dan peradabannya. Dingin dan keringnya manusia melahirkan kekejaman, kekerasan dan penindasan dari manusia yang satu terhadap manusia lainnya. Manusia ditengah-tengah kehebatan pencapaian peradabannya tetaplah tidak berpengertian. Nasibnya berakhir seperti hewan yang dibinasakan, mirip seperti telur diujung tanduk yang begitu rapuh.

Tapi Allah adalah Ia yang bertindak. Allah yang selalu hadir, merupakan sebuah bukti bahwa Ia bertindak melalui kehadiran-Nya. Ia hadir sebagai terang yang datang tanpa mengutuki kegelapan. Allah yang telah memberikan kesempatan kepada manusia mengganti kisah-Nya agar manusia paham bahwa kisah yang tanpa-Nya akan membuat manusia kehilangan dirinya sendiri.

Setelahnya, Allah berinisiatif membawa kembali kisah tersebut seperti awal mulanya, yaitu kisah dimana Dia-lah yang menjadi pusat cerita. Melalui peristiwa inkarnasi, dimana Allah menjadi serupa dengan manusia, kisah manusia tersebut mengalami metanoia, putar balik melalui jalan yang berbeda, kembali kepada Allah, sang pemilik kisah. Melalui-Nya, manusia justru memperoleh kembali signifikansi dirinya, dan dipulihkan dari berbagai komplikasi kekacauan, kebodohan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kisahnya sendiri.



pexels.com


Melalui insiatif Allah tersebut, keselamatan tercipta. Keselamatan tidak sekedar bicara beroleh surga dan bebas dari neraka, tapi lebih dari itu, ia berbicara tentang diperdamaikannya manusia dengan Allah. Melalui pembalikan kisah, maka manusia mendapat berbagai kelimpahan dalam memaknai dan memahami dirinya dan kehidupan ini. Pembalikan kisah tersebut mendorong manusia untuk membawa kembali segala hal di alam semesta ini pada tempatnya dalam cerita Allah


Sekularisme sebagai Berhala Baru

Jalinan cerita terus bergulir bagaikan pendulum yang bergerak kesana kemari. Sejarah kehidupan menunjukkan selalu perebutan kisah antara Allah dan manusia. Era modern yang berawal dari antipati terhadap era pra modern karena dianggap dipenuhi berbagai mitos justru telah membawa manusia sekali lagi menjadi penentang Allah. Gereja dengan dominasinya selama hampir satu milenium dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai mitos yang membodohi manusia sehingga hal ini dianggap sebagai alasan yang sahih bagi penyingkiran semua hal yang berbau agama, dalam hal ini adalah Kekristenan.



pexels.com


Dampaknya, muncul sekularisme yang merupakan berhala-berhala baru yang modern. Sekularisme telah ditopang oleh pengetahuan ilmiah yang bersandar pada pemikiran murni dan pengalaman manusia semata. Hanya topeng saja yang berubah tapi wajahnya tetap sama yaitu wajah yang menjauh dari wajah Allah. Pada akhirnya, modernisme berubah menjadi sebuah mitos juga, menjadi sesuatu yang dulu dilawannya habis-habisan. Man becomes self-defeating himself.

Seruan para umat Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah hal yang sama dan berkesinambungan, yaitu seruan agar Allah bertindak dan hadir. Tema utama kisah besar dari kedua perjanjian ini bukan merupakan seruan untuk Tuhan segera datang dan umat-Nya terangkat ke Surga, namun lebih berbicara tentang tindakan dan kehadiran Allah. Semangat dari Alkitab bukan berpisah dari dunia ini tapi menjadi kehendak Allah di bumi sama seperti di surga. Ini juga yang seharusnya menjadi seruan dan semangat dari umat Allah di masa sekarang ini yaitu Gereja. Meminta Allah bertindak dan hadir melalui umat-Nya kini agar dunia ini boleh kembali sekali lagi pada kisah-Nya. Meminta kepada Allah agar umat-Nya dimampukan untuk membawa seruan dan semangat tersebut ke berbagai area, wilayah, tempat, dan bidang profesi dalam berbagai masa dan meminta kepada Allah agar membalikkan kisah manusia kembali pada kisah-Nya.


Semoga!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE