Enam Perspektif Pelayanan Kaum Muda yang Perlu Kita Pikirkan untuk Menghadirkan Perubahan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 28 Mei 2017
Bukan lagi tentang apa yang anak muda perlu pahami, tetapi apa yang anak muda perlu alami. Sudahkah itu menjadi bagian dari perspektif kita?

Saya pikir beberapa tahun belakangan ini pelayanan kaum muda menjadi pokok perhatian penting di dalam hidup jemaat GKI. Para pendeta dan pemerhati menelurkan ide-ide dan bahkan melakukan penelitian untuk mencoba memahami kaum muda. Pun, banyak inovasi yang terus lahir, misalnya IGNITE, sebuah wadah online yang menjadi ruang kreasi dan berkarya bagi kaum muda GKI.

Tentu saja banyak hal yang sudah dilakukan itu patut disyukuri, terutama di aras gereja lokal setempat. Namun, mungkin saja, ada banyak diantara kita yang mendekati pelayanan kaum muda dengan perspektif yang kurang tepat. Kita seringkali memulai pelayanan kaum muda dengan bertanya tentang metode, strategi dan event. Apa yang menarik bagi kaum muda? Acara apa yang bisa membuat mereka datang ke gereja? Bagaimana supaya mereka mempunyai pengetahuan Alkitab yang cukup dengan doktrin yang ketat sehingga mereka menjadi ‘orang yang baik-baik saja’, nggak sampai menikah dengan agama berbeda, atau bahkan MBA terlebih dahulu.

Saya pikir pendekatan yang dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah salah, namun kadang (atau sering) pertanyaan tersebut berujung pada evaluasi program, kelelahan eventual dan membunuh kehidupan rohani para pelayan dan aktivis kaum muda. Maka, alangkah baiknya sebelum terjun melayani kaum muda kita terlebih dulu bertanya: Apa Perspektif yang harus dimiliki di dalam mendekati kaum muda?

Saya mengusulkan setidaknya ada 6 hal penting.

1. Kegembiraan. Pelayanan kaum muda mempunyai syarat utama: fun alias menyenangkan! Telah terlalu lama kita membingkai gambaran Allah sebagai bapak tua yang menuntut anak muda untuk ini dan itu, otoriter-diktator-konservatif, sok ngatur, sok tau, dan kejam. Siapa yang mau mendekat pada Allah yang seperti itu? Tentu tidak! Maka kita perlu memikirkan bagaimana segala bentuk disiplin rohani, baik itu ibadah, saat teduh dan segala aktivitas kaum muda menghadirkan gambaran Allah yang Maha asyik, yang nggak bikin ngantuk ketika berdoa, yang selalu bergairah mendengarkan curhatan dan sesak hati kaum muda yang menjalani #haripatahhatinasional, misalnya.

2. Related. Dalam buku Almost Christian seorang peneliti kaum muda, Kenda Creasy Dean, mengatakan bahwa salah satu kegagalan pelayanan kaum muda-remaja di Amerika adalah gagalnya gereja untuk menolong kaum muda mengartikulasikan bahasa iman di dalam keseharian mereka sehari-hari. Menurut saya tugas besar kita di dalam pelayanan kaum muda adalah merelasikan teologi di dalam bahasa sehari-hari, atau seringkali disebut everyday theology. Misalnya bagaimana kita perlu merelasikan tentang kedaulatan Allah dan kasih Allah dengan perkara putus-nyambung, tikung, diabaikan di dalam berpacaran. Bagaimana merelasikan teologi misi dan eskatologi bagi pemilihan jurusan. Juga, bagaimana merelasikan kasih dan penerimaan Allah bagi gambar diri dan identitas. Bagaimana visi eskatologis Yesus seharusnya menyetir perspektif politis kaum muda. Serta segudang hal-hal lainnya. Sudahkah gereja kita menolong kaum muda-remaja untuk melasikan hidup dan pergumulan sehari-hari dengan Firman Tuhan?

3. Melibatkan. Salah satu dosa besar dalam pelayanan kaum muda adalah ketika orang dewasa merasa paling tahu tentang pelayanan, sehingga anak muda jarang dilibatkan. Kalaupun sesekali dilibatkan hanya sebagai pelaksana saja. Padahal, kita perlu sungguhsungguh melibatkan kaum muda. PEMUDA BUKANLAH MASA DEPAN GEREJA, TETAPI MASA KINI GEREJA. Saya pikir pemuda perlu makin banyak dilibatkan dalam konsep pelayanan dan penyusunan strategi. Tentu resikonya besar, tetapi proses belajar dalam iman itulah yang patut dikerjakan bukan?

4. Pendampingan. Meskipun ruang untuk melibatkan perlu dibuka selebar mungkin, namun orang dewasa dan orangtua jangan sampai berdiri jauh-jauh dari kaum muda. Sebagai tahap usia dimana mereka sedang menggumulkan kehidupan, mencari identitas dan makna, mereka perlu kehadiran orang dewasa, untuk menemani, menjadi sahabat, membimbing, menjadi coach dan mentor. Sehingga, kaum muda bisa belajar dari kesalahan para pendahulunya. Ingat, jika seorang remaja-pemuda mencari guru untuk belajar nyetir, tentu akan lebih baik dia belajar pada sseorang yang sudah bertahun-tahun menyetir! Akan buruk jika seorang remaja belajar menyetir kepada seorang teman yang baru menyetir, bahkan bikin SIM pun ‘nembak’.

5. Memberi Makna. Dalam buku Younger Evangelical, Robert Webber seorang pemikir teologi, memberikan fakta bahwa perkembangan gereja khususnya di kalangan kaum muda mengalami pergeseran. Jika pada abad sebelumnya pelayanan kaum muda terpusat pada musik yang ngehip, event besar dan KKR, ternyata pada masa kini pelayanan kaum muda berpusat pada komunitas, bible study, prayer dan social action. Jadi, kaum muda lebih ingin menguak bagaimana menjadi orang Kristen yang bermakna. Kita tak perlu lagi terpikat pada hura-hura dan bungkusan pelayanan yang penuh pernak-pernik. Pertanyaannya sederhana, apakah pelayanan kita memberi makna?

6. Mengalami Allah. Saya pikir ini menjadi terpenting, apakah pelayanan kaum muda kita membuka ruang untuk perjumpaan pribadi dengan Allah yang Maha Asyik dan Maha Kasih? Pertanyaan ketika membuat program gereja bukan lagi tentang apa yang anak muda perlu pahami, tetapi apa yang anak muda perlu alami. Sudahkah itu menjadi bagian dari perspektif kita?

Demikian enam perspektif pelayanan kaum muda yang patut menjadi penuntun kita dalam membuka percakapan tentang program, kaderisasi, penyiapan SDM dan pekerjaan para pemimpin gereja. Doug Fields pernah menuliskan bahwa pelayanan kaum muda seperti sebuah maraton yang panjang:

Running a marathon is a fitting picture of youth ministry. It’s not an easy task within the church. If it were, we’d have more youth workers than ushers. Youth ministry is filled with long, tiring, often unrewarding, complex, unique, intense, humorous, joyful and painful experiences. Many within the body of Christ has entered the youth ministry marathon, but many quit before long, having lost joy and satisfaction. They’re wounded and weary.

Sudah siapkah kita menjalani dengan setia maraton itu? Atau malah mulai lelah dan merasa kalah?

 

 

Penulis adalah pekerja kaum muda khusus remaja di GKI Pregolan Bunder, Surabaya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE