Dua Penghalang yang Membuat Kita Sulit Menang

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Agustus 2017
Kata seseorang, hidup adalah sebuah pertarungan. Sebagai seorang Kristen, kita selalu dihadapkan pada ‘pertandingan iman’ setiap hari. We are under attack, kita diserang! Pertanyaan yang sering terlintas adalah, apa kunci untuk memenangkan sebuah ‘pertandingan’? Bagaimana kita harus bersikap ketika menghadapi sebuah serangan (tekanan)?

Alih-alih menyaksikan ceramah motivasional ala Mario Teguh, saya kira ada baiknya bila kaum muda mencoba mengarahkan dirinya kepada teks Alkitab. Melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita berefleksi terhadap dua penghalang yang sering membuat kita gagal dalam menghadapi situasi-situasi yang tidak menyenangkan.

Pertama, Melupakan Pemeliharaan Allah

Kitab Keluaran menceritakan perjalanan yang ditempuh Bangsa Israel untuk keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Perjalanan tersebut bukanlah travelling atau open trip yang mereka rencanakan. Perjalanan tersebut membutuhkan perjuangan yang keras dan berat serta tentu saja menantang mereka untuk keluar dari comfort zone mereka. Perlu kita ketahui bahwa jarak dari Padang Gurun Sin menuju Rafidim lebih kurang 61 km, jika ditempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu 7 hari lamanya. Kira-kira kalau diumpamakan seperti jalan dari Surabaya menuju Pasuruan via Trawas, sambil bawa seluruh sanak keluarga dan hewan ternak tentunya. Coba bayangkan betapa jauh dan beratnya perjalan Bangsa Israel pada saat itu. Ditambah lagi mereka sempat singgah di Dofka dan Alus – daerah dengan tingkat kecuraman yang sangat tinggi – selama beberapa saat.

Sensus yang dilakukan Musa pada Bilangan 1, jumlah laki-laki Israel berusia dewasa adalah 603.550 orang. Bayangkan bila setiap lelaki memiliki istri dan anak (1-2 orang), jumlahnya mencapai 2 jutaan! Belum lagi ditambah dengan ternak yang mereka bawa.

Sebelum berkemah di Rafidim, Bangsa Israel beberapa kali bersungut-sungut. Pertama sebelum menyeberangi Laut Teberau, kedua di Mara ketika mereka minum air pahit, kemudian pada saat memasuki padang gurun Sin, mereka berkata "kok ga ada makanan?" Kondisi tidak menyenangkan tersebut terjadi beberapa kali kepada mereka dan beberapa kali jugalah Tuhan menyatakan kuasa dan pemeliharaanNya kepada Bangsa Israel. Bila saya berada di posisi Musa saat itu, saya pasti merasa jengkel dan kesal. Musa dibuat terheran-heran, sebagai pemimpin yang mewakili Allah, Musa bertanya “mengapa kamu mencobai Tuhan?" Pertanyaan tersebut merupakan respon Musa terhadap keraguan yang ditunjukan Bangsa Israel kepada Tuhan.

"Mengapa pula kamu membunuh kami dengan kehausan?" -Keluaran 17:3

Melalui Keluaran kita bisa belajar dan memahami bagaimana Bangsa Israel gagal berserah penuh dalam perjalanan iman mereka karena melupakan pemeliharaan Allah. Pemeliharaan yang dimaksud bukan sebatas materi dan jasmani saja, namun juga pemeliharaan iman (rohani). Pemeliharaan iman bagi Bangsa Israel ialah penyertaan Tuhan di dalam perjalanan panjang mereka menuju Tanah Perjanjian, tentunya penyertaan yang sama juga Tuhan tunjukan bagi kita umatNya dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Allah kita ialah Sang Pemelihara, ingatlah hal ini disetiap waktu. Ketika emosi mulai memuncak karena pelbagai persoalan, Allah ADA bersama kita. Emosi berlebih tidak membuat sesuatu menjadi lebih baik, mungkin saja membuatnya lebih buruk. Bagi kita yang sudah bekerja, kita yang dalam masa kuliah atau sekolah, dan kita yang sedang memainkan peran lain di dunia ini, ingatlah Allah memelihara. Janganlah abai dan terfokus kepada permasalahan kita saja namun belajarlah untuk berserah penuh (sambil berusaha tentunya) kepada Dia.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hari dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” -Filipi 4:7-

Kedua, Gagal Peka Terhadap Kehadiran Allah

Di tengah situasi tersebut, Musa mulai depresi karena hal tersebut seringkali terulang. Dikatakan disitu Musa berseru-seru kepada Tuhan,

“Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”, seruannya tentu saja merujuk pada keadaan yang dialami Bangsa Israel. Lalu apa jawaban Tuhan? “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kau pukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.”

“Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu..” -Keluaran 17:6-

Ya, Tuhan berdiri di depan, bukan di belakang. Mengapa Ia tidak berdiri di belakang atau disamping? Atau berada jauh? Ini semua tentang keberpihakan yang diwujudkanNya lewat kehadiran. Sebuah pernyataan kehadiran yang menunjukan Allah ada bersama kita. Di dalam Perjanjian Lama kita bisa mengingat perkataan Daud, “Ia adalah Allah yang memegang tanganku.” ini membuktikan bahwa Allah kita adalah Allah yang hadir di tengah-tengah umatNya. Pun begitu di dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah shekinah yahweh, Allah yang hadir di tengah-tengah umatNya. Keluaran 17:7 menarik untuk disimak

Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”

Kehadiran seseorang di dalam sebuah komunitas tentu memberikan dampak kepada komunitas tersebut, dampaknya bisa terasa secara langsung maupun tidak langsung. Kembali pada kisah perjalanan Bangsa Israel, pada saat itu mereka menunjukan sikap tidak percaya. Padahal, lewat kejadian sebelumnya Allah sudah hadir di tengah mereka. Bangsa Israel gagal peka terhadap kehadiran Allah. Bagaimana dengan kita umatNya? Mari belajar untuk terus peka terhadap kehadiran Allah, di dalam setiap suka dan duka, dalam setiap perkara. Caranya? Carilah hal yang kita tahu dapat mendekatkan diri kita kepadaNya, lewat cara tersebut kita akan semakin peka akan kehadiranNya. Percayalah, ketika kita mau belajar peka maka perlahan-lahan kita diingatkan bahwa setiap keputusan yang akan kita ambil berasal dari hikmat Tuhan.

Selamat mengingat pemeliharaan Allah dan belajar peka akan kehadiranNya! Allah menyertai dan memberkati

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE