Dialog antar Umat Beragama: Mengapa Perlu dan Bagaimana Caranya?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 1 Juni 2018
Sebagai bagian dari Indonesia yang beragam dan rentan akan konflik horizontal, dialog lintas agama yang sehat, yang didasari oleh kerendahan hati untuk mau mendengarkan menjadi sebuah kebutuhan demi menciptakan pemahaman, toleransi, sekaligus menjadi wadah bertukar pikiran untuk relasi yang baik tanpa kecurigaan atau prasangka. Apa yang perlu disiapkan?

Ada banyak faktor yang memengaruhi manusia berinteraksi, salah satunya agama. Sudah bertahan berbagai macam agama yang dianut oleh manusia di dunia ini sepanjang sejarah. Pengaruh agama dalam interaksi antar manusia terlihat ketika masing-masing pemeluknya mempertahankan keyakinan bahwa agamanya yang paling benar. Bahwa penganut agama lain adalah orang sesat yang perlu disadarkan akan kebenaran yang sejati dan sayangnya itu tak jarang berunsur kekerasan. Agama kemudian dianggap sebagai sesuatu yang membawa andil kehancuran dan kerusakan.

Contoh nyata tindakan kekerasan atas nama agama dapat kita lihat melalui ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), suatu kelompok Islam radikal yang berusaha menumpas semua orang yang tidak memeluk agama Islam sufi dan orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pengaruh ISIS bukan hanya ada di Suriah tetapi sudah masuk ke Indonesia, bahkan dilaporkan bahwa sejumlah WNI telah berangkat ke Suriah untuk menjadi simpatisan ISIS.

Selain itu, pada September 2013 terjadi pembunuhan 60 orang (terdiri dari mayoritas orang Muslim) oleh seorang pemeluk agama Hindu. Tanggal 19 Januari 2015, banyak rumah milik umat Islam dibakar oleh umat Hindu. Peristiwa pembunuhan di India oleh umat Hindu ini juga didorong oleh motivasi membela agama dan membunuh orang yang tidak sepaham dengan umat Hindu.


Photo by Pawel Janiak on Unsplash

Ada juga diskriminasi yang dilakukan oleh orang Kristen sebagai mayoritas kepada pemeluk agama lain di Indonesia Timur. Mereka cenderung mempersulit proses mengurus izin pendirian masjid. Ketika ada orang pemeluk agama lain yang mau melamar kerja juga cenderung diberikan posisi yang lebih rendah dibandingkan sesama pemeluk agama Kristen/Katolik.

Adanya banyak tindak kekerasan yang dilakukan atas nama agama membuat Sam Harris menyatakan bahwa ketika seseorang memiliki iman yang aktif maka ia bisa melakukan hal yang bersifat merusak. Iman yang aktif artinya menganggap bahwa agamanya paling benar dan semua orang di luar agamanya adalah orang-orang yang murtad yang tidak mengikuti apa yang Allah sejati itu perintahkan. Orang-orang murtad tersebut pantas untuk dibinasakan. Setiap agama memiliki anggota yang memiliki iman yang aktif ini. Agama bukan lagi sarana untuk mengenal Allah dan hidup sesuai dengan yang Allah mau sehingga tatanan dunia berjalan dengan baik.

Kemungkinan terjadinya konflik dan kesalahpahaman semakin besar dalam suatu daerah yang ditinggali umat dari agama berbeda. Maka dialog lintas agama yang sehat, yang didasari oleh kerendahan hati untuk mau mendengarkan menjadi sebuah kebutuhan demi menciptakan pemahaman, toleransi, sekaligus menjadi wadah bertukar pikiran untuk relasi yang baik tanpa kecurigaan atau prasangka.

Dalam Matius 5:45-48, Bapa di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik. Ia juga menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar. Kita pun dalam berelasi harus meneladani Bapa kita yaitu dengan mengasihi semua orang. Tanpa memandang suku, ras, agama. Semua manusia adalah sesama kita, walaupun tentu ada perbedaan. Pengikut Yesus yang setia dapat menghargai setiap usaha dari penganut agama lain dalam mencari kebenaran dan keselamatan. Pengikut Yesus dapat hidup berdampingan bukan sebagai orang asing atau bahkan musuh, melainkan sebagai sesama manusia yang hidup dari sang Sumber Hidup yang sama. Dengan kondisi relasi antar-umat beragama yang sedang tidak kondusif seperti saat ini, kita diundang untuk berinisiatif menjalin hubungan yang baik.


Photo by Obed Hernández on Unsplash

Rasul Paulus dalam kitab Roma 12:18 menyatakan sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Jadi marilah mulai perdamaian itu dengan membangun dialog. Dialog bukan ajang menghakimi. Dialog bukan ajang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dialog merupakan wadah dimana umat lintas agama belajar mengenai satu sam alain dan berkomunikasi dalam keterbukaan. Berikut beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum melakukan dialog.


1. Pemahaman mengenai asal usul terbentuknya agama-agama

Natur manusia yang berdosa membuat manusia sulit sekali menerima wahyu khusus dalam Yesus Kristus. Justru sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia cenderung menciptakan allahnya sendiri yang sesuai dengan keinginannya sendiri karena ketika manusia jatuh dalam dosa, benih ilahi tersebut masih ada walaupun natur manusia menjadi rusak. Akibatnya, tercipta berbagai macam agama di dalam dunia ini. Namun, manusia menyadari ada Allah dan mencari Allah hanya dari wahyu umum. Dalam agama-agama terdapat semua kebenaran yang berasal dari wahyu umum.

Agama-agama terbentuk akibat adanya benih ilahi yang membuat manusia berpikir mengenai eksistensi manusia dan eksistensi sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Namun pikiran manusia telah dirusak oleh dosa sehingga cenderung mendistorsi kebenaran. Herman Bavinck pun mendefenisikan agama sebagai: “the way in which man experience the deepest existential relations and gives expressions to this experience.” Walaupun demikian, kita perlu berdialog dengan penganut agama lain tanpa menyalahkan atau menghakimi. Setiap pemeluk agama perlu memiliki kebebasan untuk diyakinkan oleh pemeluk agama yang lain.


Photo by Josh Applegate on Unsplash


2. Menentukan sikap

“Readiness for frank and searching discussion . . . with those outside the church’who are’ of different cultures and traditions.”[1] Dalam dialog perlu adanya kesediaan dari dua belah pihak yang berbeda agama untuk mendengarkan apa yang dikatakan mengenai agama lain. Dialog akan bermakna jika setiap pihak dapat menyampaikan keyakinan dari agama masing-masing, bukan keberatan-keberatan dari pihaknya. Dalam berdialog sebenarnya manusia sedang menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya mengenai konsep teologi. Prasuposisi yang sudah ada dalam kepala seseorang akan disampaikan ketika berdialog dengan penganut agama lain yang juga sudah memiliki prasuposisi yang membentuk cara ia melihat segala sesuatu (worldview). Agama-agama lain tetap mengandung kebenaran namun kebenaran dalam agama-agama non-Kristen tidak menyelamatkan. Sebenarnya gereja tidak bisa hidup tanpa agama-agama lain, begitu pula sebaliknya karena gereja masih hidup di dunia bersama dengan pemeluk agama lain di dunia.


3. Adanya pembedaan antara percakapan mengenai kebenaran dan keselamatan dalam perumusan konsep dialog

Sering kali dialog antar-umat beragama menjadi ruwet karena tidak dibedakan mengenai kebenaran dan keselamatan. Satu pihak merasa bahwa agama lain salah total sehingga dianggap sebagai sesat. Hal ini menyebabkan terjadinya iklim permusuhan dalam dialog. Semua pihak tetap harus meyakini bahwa klaim agamanya yang paling benar supaya ada konsistensi dalam berdialog, namun membawa keterbukaan untuk mendengarkan dan mau memahami. Apalagi jika diperhatikan, sebenarnya terdapat konsep kebenaran yang mirip antara Kristen dan agama lain. Misalnya konsep monoteisme agama Kristen juga terdapat dalam agama Yahudi dan Islam. Akhirnya timbul kebingungan dalam mengambil sikap dalam berdialog. Oleh karena itu, dalam dialog perlu dibedakan pula percakapan mengenai keselamatan dan kebenaran sehingga terjadilah dialog yang tidak membingungkan dalam mengambil sikap.


Photo by Gradika on Unsplash


4. Adanya kesaksian mengenai teologi dari tiap-tiap agama

Setiap pemeluk agama harus memiliki integritas dalam menyampaikan pandangan teologi masing-masing. Ketika seorang penganut agama menyampaikan mengenai teologi kepada penganut agama yang lain, ia perlu berhati-hati menyampaikan inti teologi karena teologi pasti dipengaruhi budaya. Seorang yang berdialog perlu memahami kebenaran dalam agamanya. Ketika penganut agama lain mempertanyakan kebenaran agamanya, maka ia bisa menjawab dan menjelaskan. Ia pun bisa konsisten memegang teguh ajaran agamanya. Kalau ia sendiri goyah, justru dapat menimbulkan kebingungan pada penganut agama lain.


5. Dialog dapat dilakukan kapan saja umat lintas agama hadir

Dialog tidak perlu diadakan dalam forum umat bergama yang formal atau diagendakan khusus. Kapan saja ada umat berlainan agama bertemu maka dialog antar-agama dapat dilakukan, pun dalam interaksi keseharian.


6. Kesadaran adanya dorongan hubungan mutual yang didasari oleh tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan keadilan, belas kasihan dan damai

Untuk dapat memberi dampak bagi masyarakat, penganut agama Kristen perlu memiliki kehidupan rohani yang berakar. Penganut Kristen perlu memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan dan persekutuan yang erat dalam gereja sebelum berdialog karena berhadapan dengan penganut agama lain.


Photo by Ben Duchac on Unsplash

Matius 5:9 berbunyi demikian, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Biarlah kita menghidupi identitas kita sebagai anak-anak Allah dengan menyatakan damai di sekitar kita. Mari kita bersama memulai diaolog antar-umat beragama yang dengannya kita menyemai benih perdamaian.


Tuhan Memberkati.

Refrensi:

1] Lesslie Newbigin, Bearing Witness of the Spirit: Lesslie Newbigin’s Theology of Cultural Plurality (Grand Rapids: Eerdmans, 1998) 216.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE