Branding Diri dalam Pelayanan, Perlukah?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Agustus 2018
“Branding diri kita adalah tentang menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam segala hal dan mewujudkan-Nya di tengah-tengah dunia.“

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa brand adalah nama, logo, simbol dan hal lainnya yang bisa mengidentifikasikan sebuah bisnis[1]. Lalu bagaimana dengan dunia pelayanan kerohanian Kristen atau gereja, apakah branding itu perlu?

Beberapa waktu lalu, tempat dimana saya melayani yaitu yayasan Kristen yang melayani siswa, mahasiswa dan alumni, telah memperbarui logonya supaya terlihat lebih menarik. Kami juga merombak desain situs kami yang dulunya old style menjadi lebih kekinian dan dinamis. Ada banyak upaya yang dilakukan supaya pelayanan kami dapat masuk secara kontekstual terhadap kehidupan remaja-pemuda yang dilayani.

“Jika kita berbicara tentang branding pelayanan, maka itu tidak lepas dari branding pekerja (SDM). Apakah para pekerja siap untuk juga mau mem-branding dirinya supaya dapat diterima oleh siswa dan mahasiswa yang dilayani? Tidak bisa dipungkiri, kita secara pribadi juga perlu mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau mereka.” Ujar saya di suatu rapat.



Photo by Ben Weber on Unsplash


Sebagai seorang generasi Z yang lahir di tahun 1993, tentu mudah bagi saya untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi. Jika kita mau melayani kaum muda secara kontekstual maka kita tidak bisa melepaskan pengaruh media sosial di dalamnya. Seorang senior saya yang merupakan generasi X (kelahiran 1966-1980) mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk bisa mempelajari hal tersebut, seperti membuat konten, desain dan aktif di media sosial. Memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan, namun jika ada kemauan untuk belajar mengikuti perkembangan teknologi maka generasi X maupun generasi Jones (kelahiran 1955-1965) bisa juga aktif menjangkau anak-anak muda di media sosial.

“Brand Anda adalah apa yang orang lain katakan tentang Anda saat Anda tidak berada dalam ruangan.” Demikian kutipan populer founder Amazon Jeff Bezos yang pernah ia sampaikan pada acara TEDGlobal 2012.

Branding diri tidak lepas dari keotentikan kita secara pribadi. Akan mudah untuk kita melakukan branding terhadap diri jika kita mengenal siapa diri kita dihadapan Allah sehingga yang kita bagikan bukan ‘topeng’ atau kemunafikan.

David G. Benner mengatakan, kehendak Allah bagi kita adalah supaya kita menghidupkan ekspresi harmonis dari karunia, tempramen, hasrat, dan panggilan kita dalam kebergantungan sejati kepada Allah. Apapun yang kurang dari ini tidak layak disebut sebagai diri kita yang sejati[2]. Diri kita yang sejati dan pemanfaatan teknologi merupakan branding terbaik yang bisa kita lakukan untuk melayani anak-anak muda di zaman ini.



Photo by ROBIN WORRALL on Unsplash


Apakah branding hanya berbicara tentang pemanfaatan teknologi dan media sosial?

Jika tidak bijak menyikapinya, branding diri dapat membuat kita fokus kepada aktualisasi diri sendiri dan bukan kepada Kristus. Craig Groeschel dalam bukunya #struggles mengatakan, hidup bukanlah tentang berapa banyak hitungan likes yang anda dapatkan. Melainkan tentang seberapa banyak kasih yang anda perlihatkan. Apakah memiliki banyak followers di media sosial dan mendapat ribuan likes dapat membuat kita lupa untuk hadir secara nyata bagi setiap orang yang kita layani?

Pelayanan di dunia maya itu baik, tetapi jika itu membuat kita lupa dan mengabaikan kehidupan orang disekitar kita maka itu tidak lagi tepat. Branding diri kita adalah tentang menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam segala hal.


“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35)


Mereka takkan tahu anda adalah murid-Nya dari berapa banyak followers Anda. Mereka takkan tahu anda adalah murid-Nya dari berapa banyak hitungan likes yang anda dapatkan. Percaya atau tidak, mereka takkan tahu anda adalah murid-Nya dari berapa banyak ayat Alkitab yang Anda post. Tidak, mereka akan tahu anda murid Yesus ketika mereka melihat kasih-Nya di dalam Anda lewat tindakan-tindakan Anda[3].



Photo by Craig Philbrick on Unsplash


Pastor John Gray dengan menggebu-gebu dalam cuplikan kotbahnya di Instagram mengatakan, “Saya mengenal beberapa orang dengan posisi tinggi berkata kepada saya: “Kamu tahu, kamu dapat bergerak lebih maju. Kamu bisa memiliki banyak pengikut di media sosial dan bisa menghasilkan banyak uang. Jika kamu memiliki strategi, tim, dan menyusun rencana, kamu akan dapat membangun citra dirimu sendiri.” Saya mendengarkannya sampai saat ini. Bagaimanapun saya disini tidaklah membangun citra saya sendiri, melainkan membangun Kerajaan Allah. Saya tidak peduli seberapa banyak orang yang mengikuti saya, tetapi saya peduli akan seberapa banyak orang yang mengikuti-Nya. Citra diri saya tidaklah penting, karena saya tidak bisa menyelamatkan siapapun, hanya Yesus lah yang bisa menyelamatkan. Ikutilah saya sebagaimana saya mengikuti Kristus!”[4].


Apa brand kita? Yesus Kristus. Dunia-Nya. Firman-Nya. Hati-Nya.



Photo by Jack Sharp on Unsplash


Branding diri kita adalah mewujudkan Kristus di tengah-tengah dunia. Untuk hidup seperti Dia telah hidup. Kita bisa merangkum perjalanan hidup kita bersama dengan Allah, menceritakan kemenangan kita melewati pergumulan, membagi isi buku yang selesai kita baca, dan banyak hal lainnya yang bisa kita bagikan. Tindakan tersebut juga tidak hanya dapat dilakukan di media sosial, tapi juga secara langsung terhadap sesama. Kiranya kita mau untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15).

Jika ditanya sekali lagi, apakah branding diri dalam pelayanan itu perlu? Maka jawabannya adalah perlu. Untuk membuat Yesus semakin dikenal, untuk menjadi pemberita kabar baik secara nyata dan juga di dunia maya.

Maka ketika Anda tidak ada di dalam ruangan, apakah yang akan orang katakan tentang Anda?


Refrensi:

1] https://dailysocial.id/post/pentingnya-branding-bagi-startup/

2] David G. Benner, The Gift of Being Yourself (Anugrah Menjadi Diri Anda Sendiri), (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2017) hlm 115

3] Craig Groeschel, #Struggles (Pergumulan-Pergumulan), (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2016) hlm 67-68

4] https://www.instagram.com/p/Bl4H-c3gIss/?taken-by=realjohngray

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE